Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Memahami materi pelajaran tidak selalu cukup hanya dengan membaca definisi atau menghafalkan penjelasan dari buku. Ada kalanya siswa sudah mampu menyebutkan suatu konsep, tetapi masih kesulitan ketika diminta menunjukkan contoh dari konsep tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami materi juga berkaitan dengan kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan situasi yang lebih nyata.
Membuat contoh dari materi yang dipelajari merupakan salah satu cara sederhana untuk membantu siswa memperdalam pemahaman. Setelah mempelajari sebuah konsep, siswa dapat mencoba mencari benda, peristiwa, kebiasaan, atau situasi yang memiliki hubungan dengan konsep tersebut. Dengan begitu, materi pelajaran tidak berhenti sebagai informasi di dalam buku, tetapi mulai memiliki hubungan dengan lingkungan sekitar.
Beberapa materi pelajaran memiliki konsep yang cukup abstrak sehingga sulit dipahami hanya melalui definisi. Siswa mungkin dapat membaca penjelasan berkali-kali, tetapi tetap belum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai maksud konsep tersebut.
Membuat contoh dapat menjadi jembatan antara konsep dan sesuatu yang lebih mudah dibayangkan. Ketika siswa menemukan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka memiliki gambaran konkret mengenai bagaimana konsep tersebut bekerja.
Misalnya, ketika mempelajari kerja sama, siswa dapat menggunakan kegiatan membersihkan kelas secara bersama-sama sebagai contoh. Saat mempelajari perubahan wujud benda, siswa dapat mengingat es yang berubah menjadi air. Contoh semacam ini membuat materi lebih dekat dengan pengalaman siswa.
Siswa perlu memahami bahwa contoh tidak selalu harus mengambil kalimat atau kasus yang sudah tersedia di buku pelajaran. Justru, kemampuan menemukan contoh sendiri dapat menunjukkan bahwa siswa mulai mampu menerapkan materi dalam konteks yang berbeda.
Guru dapat memberikan sebuah konsep tanpa memberikan contoh terlebih dahulu. Setelah memahami penjelasannya, siswa diminta mencari satu atau beberapa contoh dari lingkungan sekolah maupun rumah.
Kegiatan tersebut dapat menghasilkan jawaban yang beragam. Dua siswa mungkin memahami konsep yang sama tetapi memberikan contoh berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa salah satu siswa keliru, selama contoh yang diberikan memang sesuai dengan konsep yang sedang dibahas.
Membuat contoh sendiri tetap membutuhkan ketelitian. Siswa tidak cukup mengambil sesuatu yang terlihat mirip, tetapi perlu memastikan bahwa contoh tersebut benar-benar memiliki ciri yang sesuai dengan materi.
Beberapa pertanyaan sederhana dapat membantu siswa memeriksa contoh yang dibuat:
Dengan membiasakan diri memberikan alasan, siswa tidak hanya menyebutkan contoh, tetapi juga memahami mengapa contoh tersebut dianggap tepat.
Materi yang dikaitkan dengan pengalaman atau gambaran nyata sering kali lebih mudah diingat. Ketika siswa membuat contoh sendiri, mereka melakukan proses tambahan setelah membaca materi. Proses tersebut dapat membuat informasi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Misalnya, siswa mempelajari konsep energi dalam pelajaran sains. Daripada hanya menghafalkan pengertiannya, mereka dapat mencari contoh penggunaan energi di sekolah seperti lampu, kipas angin, komputer, atau alat elektronik lainnya.
Saat materi tersebut dibahas kembali, siswa dapat mengingat contoh yang pernah mereka buat. Dari sana, mereka dapat kembali menghubungkan contoh dengan konsep yang dipelajari.
Lingkungan sekolah sebenarnya menyediakan banyak objek dan aktivitas yang dapat dijadikan bahan untuk latihan. Siswa dapat mengamati kegiatan sehari-hari kemudian mencoba menghubungkannya dengan materi pelajaran.
Misalnya, dalam pelajaran matematika, siswa dapat mengamati bentuk geometris pada jendela, meja, papan informasi, atau bagian bangunan. Dalam pelajaran bahasa, mereka dapat menemukan contoh penggunaan kalimat tertentu dalam percakapan. Dalam pelajaran IPA, berbagai benda di lingkungan sekolah dapat digunakan untuk mengamati sifat atau perubahan tertentu.
Cara ini membuat kegiatan belajar terasa lebih kontekstual. Siswa belajar bahwa materi yang dibahas di kelas sebenarnya dapat ditemukan di berbagai tempat.
Ketika diminta membuat contoh, siswa perlu mengambil pengetahuan yang sudah dimiliki kemudian menerapkannya pada situasi lain. Proses tersebut membutuhkan pemahaman yang lebih aktif dibandingkan sekadar mengulang definisi.
Siswa harus menentukan bagian penting dari sebuah konsep, mencari situasi yang sesuai, kemudian memastikan bahwa hubungan antara keduanya memang masuk akal. Jika contoh yang dibuat kurang tepat, siswa dapat memperbaikinya setelah mendapatkan penjelasan dari guru atau berdiskusi dengan teman.
Latihan semacam ini membantu siswa belajar bahwa memahami materi berarti mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam berbagai situasi. Mereka tidak hanya mengetahui “apa”, tetapi juga mulai memahami “seperti apa bentuknya dalam kehidupan nyata”.
Membuat contoh juga dapat menjadi kegiatan kelompok yang sederhana. Guru dapat memberikan beberapa konsep kepada kelompok siswa, kemudian setiap kelompok mencari contoh untuk masing-masing konsep.
Setelah selesai, setiap kelompok dapat menjelaskan alasan mengapa mereka memilih contoh tersebut. Kelompok lain kemudian dapat memberikan tanggapan atau mengajukan pertanyaan.
Kegiatan seperti ini dapat membuat siswa melihat bahwa satu konsep dapat ditemukan melalui berbagai situasi. Mereka juga belajar mendengarkan cara berpikir teman dan membandingkannya dengan pemahaman sendiri.
Ada perbedaan antara siswa yang mampu menghafalkan contoh dan siswa yang mampu membuat contoh baru. Jika siswa hanya menghafalkan contoh dari buku, mereka mungkin kesulitan ketika mendapatkan soal dengan situasi yang berbeda.
Sebaliknya, jika siswa memahami karakteristik sebuah konsep, mereka dapat membuat contoh baru meskipun situasinya tidak persis sama dengan yang ada di buku. Kemampuan tersebut menjadi penting ketika siswa menghadapi soal yang membutuhkan penerapan atau penalaran.
Karena itu, guru dapat memberikan latihan dengan bentuk yang beragam. Setelah memberikan contoh, siswa dapat diminta membuat contoh lain. Setelah itu, mereka dapat diminta menjelaskan alasan mengapa contoh tersebut sesuai dengan konsep.
Menentukan contoh ternyata dapat menjadi cara untuk mengetahui apakah siswa benar-benar memahami sebuah materi. Ketika siswa memberikan contoh yang tidak sesuai, guru dapat melihat bagian konsep mana yang masih belum dipahami.
Misalnya, seorang siswa mengetahui definisi suatu istilah tetapi memberikan contoh yang sebenarnya masuk ke kategori lain. Kesalahan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membahas kembali ciri utama dari konsep tersebut.
Dengan demikian, kesalahan dalam membuat contoh bukan hanya sesuatu yang harus diperbaiki. Kesalahan juga dapat memberikan informasi mengenai proses belajar siswa dan membantu mereka menemukan bagian yang perlu dipelajari kembali.
Contoh yang berasal dari pengalaman pribadi dapat membuat materi terasa lebih dekat. Siswa dapat mencoba mengingat kejadian yang pernah dialami kemudian mencari hubungannya dengan konsep yang sedang dipelajari.
Dalam pelajaran ekonomi, misalnya, pengalaman mengatur uang saku dapat menjadi bahan untuk memahami kebutuhan dan keinginan. Dalam pelajaran olahraga, pengalaman mengikuti kegiatan fisik dapat dikaitkan dengan kebugaran tubuh. Dalam pelajaran lingkungan, kebiasaan memilah sampah di rumah dapat digunakan sebagai contoh penerapan perilaku menjaga lingkungan.
Pengalaman tersebut membuat siswa melihat bahwa pembelajaran tidak selalu terpisah dari kehidupan mereka. Banyak konsep yang dipelajari di sekolah sebenarnya dapat ditemukan dalam aktivitas sederhana sehari-hari.
Ketika mempelajari materi baru, siswa dapat membiasakan diri tidak berhenti pada pertanyaan “apa pengertiannya?”. Mereka juga dapat bertanya, “contohnya apa?”, “di mana saya bisa menemukan contoh ini?”, atau “apakah saya bisa membuat contoh sendiri?”.
Pertanyaan tersebut mendorong siswa untuk mencari hubungan antara teori dan kenyataan. Jika siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan baik, pemahamannya terhadap materi biasanya menjadi lebih luas karena mereka sudah mencoba melihat konsep dari sudut yang berbeda.
Kebiasaan membuat contoh juga dapat digunakan ketika siswa belajar secara mandiri. Setelah membaca satu bagian materi, mereka dapat menutup buku dan mencoba menuliskan satu contoh dari konsep yang baru dipelajari. Jika tidak mampu membuat contoh, mereka dapat kembali membaca bagian tersebut untuk mencari tahu apa yang masih belum dipahami.
Dengan latihan yang konsisten, membuat contoh dapat menjadi salah satu strategi belajar yang sederhana tetapi berguna. Siswa belajar menghubungkan informasi dengan pengalaman, menerapkan konsep pada situasi berbeda, menjelaskan alasan, sekaligus memeriksa sejauh mana materi benar-benar sudah mereka pahami.