Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Dalam proses belajar, siswa tidak hanya membutuhkan penilaian berupa angka. Mereka juga membutuhkan informasi mengenai bagian yang sudah dikerjakan dengan baik dan bagian mana yang masih dapat diperbaiki. Informasi tersebut dapat diberikan melalui feedback atau umpan balik. Feedback membantu siswa memahami proses belajarnya dengan lebih jelas karena mereka tidak hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan.
Kemampuan menerima feedback juga perlu berjalan bersama kemampuan memberikan feedback. Siswa dapat belajar menyampaikan masukan kepada teman dengan bahasa yang sopan dan berdasarkan hal yang dapat diamati. Ketika kedua keterampilan tersebut dibangun di sekolah, kegiatan belajar dapat menjadi lebih terbuka terhadap perbaikan tanpa membuat siswa merasa bahwa kesalahan merupakan sesuatu yang harus disembunyikan.
Feedback memiliki tujuan untuk memberikan informasi yang dapat membantu seseorang memperbaiki pekerjaan atau prosesnya. Karena itu, feedback sebaiknya tidak hanya berbentuk komentar seperti “salah” atau “kurang bagus”. Masukan yang lebih berguna menjelaskan bagian mana yang perlu diperhatikan dan apa yang dapat dilakukan selanjutnya.
Misalnya, ketika siswa membuat sebuah tulisan, feedback dapat menunjukkan bahwa gagasan utama sudah terlihat tetapi hubungan antara paragraf masih perlu diperjelas. Dengan informasi tersebut, siswa memiliki petunjuk yang lebih konkret untuk melakukan perbaikan.
Hal yang sama berlaku dalam tugas kelompok atau presentasi. Daripada mengatakan bahwa presentasi “kurang menarik”, siswa dapat menyampaikan bahwa informasi sudah lengkap tetapi tulisan pada beberapa bagian terlalu kecil sehingga sulit dibaca. Masukan yang spesifik membuat penerima feedback lebih mudah memahami apa yang perlu diperbaiki.
Menerima feedback terkadang tidak mudah. Siswa dapat merasa kecewa ketika mengetahui bahwa hasil pekerjaannya masih memiliki kekurangan. Namun, masukan yang disampaikan dengan cara yang tepat dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Siswa dapat belajar memisahkan antara hasil pekerjaan dan dirinya sebagai pribadi. Ketika guru mengatakan bahwa sebuah tugas perlu diperbaiki, hal tersebut tidak berarti siswa sebagai individu dianggap tidak mampu. Yang sedang dibahas adalah pekerjaan atau proses tertentu yang masih dapat dikembangkan.
Kebiasaan menerima masukan juga membantu siswa menjadi lebih terbuka terhadap proses perbaikan. Mereka dapat mendengarkan, mempertimbangkan masukan, kemudian menentukan langkah yang perlu dilakukan. Tidak semua feedback harus diterima tanpa pertimbangan, tetapi siswa dapat belajar memahami alasan di balik masukan tersebut.
Ketika mengerjakan tugas sendiri, siswa mungkin tidak menyadari beberapa kekurangan dalam pekerjaannya. Teman atau guru yang melihat dari sudut pandang berbeda dapat menemukan bagian yang terlewat. Feedback kemudian menjadi kesempatan untuk melihat pekerjaan dengan perspektif lain.
Contohnya, siswa mungkin merasa tulisannya sudah jelas karena dirinya memahami apa yang ingin disampaikan. Namun, pembaca bisa saja menemukan bagian yang membingungkan karena informasi tertentu belum dijelaskan. Masukan tersebut membantu siswa memahami bahwa sebuah karya perlu dipertimbangkan dari sudut pandang orang yang menerima informasi.
Pengalaman seperti ini penting karena siswa tidak selalu mengerjakan tugas hanya untuk dirinya sendiri. Banyak aktivitas sekolah membutuhkan kemampuan menyampaikan informasi kepada orang lain. Feedback membantu mereka belajar menyesuaikan hasil pekerjaan dengan tujuan dan penerimanya.
Memberikan masukan kepada teman juga membutuhkan keterampilan. Siswa perlu belajar memilih kata-kata yang tepat agar feedback tidak berubah menjadi ejekan atau komentar yang membuat orang lain merasa direndahkan.
Beberapa prinsip sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
Dengan kebiasaan tersebut, siswa dapat memahami bahwa memberikan masukan bukan berarti mencari kesalahan teman. Tujuannya adalah membantu teman melihat peluang untuk memperbaiki pekerjaan.
Ketika siswa diminta memberikan feedback terhadap pekerjaan teman, mereka perlu membaca atau mengamati pekerjaan tersebut dengan lebih teliti. Mereka harus memahami tugas yang diberikan sebelum dapat memberikan komentar yang relevan.
Proses tersebut dapat membantu siswa belajar melihat detail. Dalam sebuah tulisan, mereka mungkin memperhatikan susunan paragraf. Dalam proyek kelompok, mereka dapat melihat pembagian tugas. Dalam presentasi, mereka dapat memperhatikan kejelasan informasi dan cara penyampaian.
Dengan demikian, kegiatan memberikan feedback juga menjadi bentuk pembelajaran bagi pemberi feedback. Mereka tidak hanya membantu orang lain, tetapi sekaligus belajar mengevaluasi sebuah pekerjaan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Guru memiliki peran penting dalam membangun budaya feedback yang sehat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan contoh terlebih dahulu. Guru dapat menunjukkan perbedaan antara komentar yang terlalu umum dengan feedback yang lebih spesifik.
Misalnya, daripada mengatakan “Tugas ini kurang rapi”, guru dapat menjelaskan bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana siswa dapat membuatnya lebih terstruktur. Contoh tersebut dapat digunakan siswa ketika memberikan masukan kepada teman.
Guru juga dapat menyediakan rubrik atau kriteria sederhana agar siswa memiliki acuan saat menilai pekerjaan. Dengan kriteria yang jelas, feedback tidak terlalu bergantung pada selera pribadi. Siswa dapat memberikan masukan berdasarkan aspek yang memang menjadi bagian dari tugas.
Feedback akan lebih bermanfaat apabila siswa mendapatkan kesempatan untuk menggunakan masukan tersebut. Setelah menerima feedback, siswa dapat memperbaiki tugas, menulis ulang bagian tertentu, memperbaiki presentasi, atau mengembangkan proyek.
Tahap perbaikan menunjukkan bahwa sebuah pekerjaan tidak selalu harus selesai pada percobaan pertama. Siswa dapat belajar melalui proses membuat, mendapatkan masukan, memperbaiki, kemudian melihat hasilnya kembali.
Kebiasaan tersebut dapat membantu siswa memahami bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung secara bertahap. Hasil pertama dapat menjadi dasar untuk menghasilkan pekerjaan berikutnya yang lebih baik, bukan sekadar sesuatu yang langsung dinilai lalu ditinggalkan.
Kemampuan memberikan dan menerima masukan juga berkaitan dengan cara siswa berkomunikasi. Mereka belajar menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas, mendengarkan sudut pandang orang lain, serta merespons perbedaan pendapat tanpa harus langsung bersikap defensif.
Dalam kegiatan kelompok, keterampilan tersebut sangat berguna. Setiap anggota dapat memiliki pandangan berbeda mengenai sebuah tugas. Dengan budaya feedback yang baik, perbedaan tersebut dapat dibicarakan berdasarkan tujuan pekerjaan, bukan berubah menjadi konflik pribadi.
Pengalaman semacam ini dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan sekolah, baik pembelajaran di kelas maupun proyek dan aktivitas kelompok. Siswa berlatih menggunakan komunikasi untuk memperbaiki pekerjaan bersama.
Budaya feedback akan lebih mudah berkembang ketika lingkungan sekolah memandang kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Siswa perlu merasa bahwa memperbaiki pekerjaan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian normal dari pembelajaran.
Di sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, kegiatan akademik maupun nonakademik dapat menjadi ruang untuk melatih kebiasaan tersebut. Guru dapat memberikan masukan terhadap tugas, teman dapat memberikan tanggapan dalam kerja kelompok, dan siswa dapat menggunakan masukan tersebut untuk mengembangkan hasil pekerjaannya.
Pada akhirnya, kemampuan memberi dan menerima feedback bukan hanya berguna untuk mendapatkan hasil tugas yang lebih baik. Siswa juga belajar mengenali kekuatan, memahami bagian yang perlu dikembangkan, menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat, serta terbiasa melihat proses perbaikan sebagai bagian dari perjalanan belajar di sekolah.