Gemini Generated Image wi1whhwi1whhwi1w (1)

Mengapa Kita Mudah Mengkritik Pejabat, Tapi ‘Memaklumi’ Kecurangan di Sekolah?

Setiap kali berita mengenai penangkapan koruptor muncul di layar televisi atau media sosial, kita dengan sigap melontarkan kritik pedas. “Tidak punya malu,” “Merampas hak rakyat,” hingga “Harus dihukum seumur hidup” adalah komentar-komentar yang lazim kita temukan. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, tepatnya ke dalam ruang kelas kita sendiri?

Fenomena korupsi yang merajalela di Indonesia sering kali dipandang sebagai penyakit yang hanya hinggap di kursi pemerintahan. Padahal, jika kita jujur pada diri sendiri, praktik-praktik koruptif sudah lama mengakar di lingkungan sekolah. Masalahnya, kita sering kali sangat kritis terhadap pejabat, namun justru “memaklumi” kecurangan kecil yang terjadi sehari-hari. Apakah ini pertanda bahwa budaya ketidakjujuran telah menjadi bagian dari DNA kita?

Salah satu bentuk kecurangan yang paling sering dinormalisasi adalah mencontek. Banyak siswa menganggap bahwa menyalin jawaban teman atau membawa catatan saat ujian hanyalah “trik” bertahan hidup demi nilai yang bagus. Namun, jika kita membedah hakikatnya, mencontek adalah tindakan mencuri—mencuri hak atas hasil kerja keras sendiri dan mencederai nilai keadilan.

Ada sebuah pernyataan yang sangat kuat dan patut direnungkan dari pendiri Yayasan Pendidikan Al Ma’soem, Bapak H. Nanang Iskandar Ma’soem. Beliau secara tegas menyatakan bahwa mencontek adalah bibit dari korupsi. Mengapa demikian? Karena korupsi adalah tindakan mengambil apa yang bukan haknya dengan cara yang curang. Begitu pula mencontek; siswa yang terbiasa mencontek sebenarnya sedang melatih mentalitas untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Di Al Ma’soem, prinsip kejujuran ini ditegakkan dengan sangat disiplin. Bahkan, ada kebijakan yang sangat tegas: bagi siswa yang terbukti mencontek, konsekuensinya adalah dikembalikan kepada orang tuanya. Kebijakan ini bukan semata-mata hukuman fisik, melainkan pesan moral bahwa sekolah tidak memberikan ruang bagi mereka yang tidak memiliki integritas. Mengapa? Karena sekolah adalah tempat untuk menempa karakter, bukan sekadar pabrik nilai angka. Ketika seseorang kehilangan kepercayaan karena kecurangan, maka ia kehilangan fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Kita cenderung memaklumi perilaku curang di sekolah karena adanya bias kognitif yang kuat. Kita merasa bahwa korupsi ratusan miliar rupiah oleh pejabat adalah masalah besar yang mengancam negara, sedangkan menyontek tugas teman hanyalah masalah sepele yang tidak melukai siapa pun secara langsung. Kita merasa “kasihan” jika teman tidak lulus, atau kita merasa “terpaksa” karena tekanan guru dan orang tua.

Namun, ini adalah pemahaman yang berbahaya. Kebiasaan mengabaikan integritas adalah budaya yang akumulatif. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi koruptor besar saat menjabat. Mereka memulai dari langkah-langkah kecil: terbiasa mencontek saat ujian, terbiasa memanipulasi uang kas, atau terbiasa berbohong kepada guru tentang izin sakit. Jika di tingkat sekolah saja kita sudah belajar untuk “bermain kotor,” jangan kaget jika di masa depan kita justru menjadi bagian dari sistem yang kita kritik saat ini. Inilah yang disebut dengan slippery slope atau lereng licin; sekali kita memaklumi kecurangan kecil, maka batas antara benar dan salah akan semakin kabur.

Sekolah seharusnya menjadi benteng terakhir moralitas bagi generasi muda. Jika sekolah hanya fokus pada prestasi akademik tanpa menanamkan integritas, maka kita sebenarnya sedang mencetak generasi yang pintar secara kognitif namun bobrok secara moral. Dunia kerja dan dunia kepemimpinan masa depan membutuhkan orang-orang yang jujur, bukan sekadar orang yang cerdas namun tidak bisa dipercaya.

Menjadi generasi yang anti-korupsi berarti harus berani mengakui bahwa ada “bibit koruptor” di dalam diri kita. Mengkritik pejabat adalah hak kita sebagai warga negara, namun membersihkan diri sendiri adalah kewajiban kita sebagai pelajar. Jika kita ingin melihat Indonesia bersih dari korupsi, perubahan itu tidak dimulai dari gedung DPR atau KPK, melainkan dari meja ujian kita sendiri.

Kebijakan di Al Ma’soem yang memberikan sanksi tegas bagi siswa yang mencontek merupakan contoh nyata bagaimana institusi pendidikan berperan membentuk mentalitas bangsa. Integritas harus dibayar dengan harga diri, bukan dengan nilai ujian. Kita harus berhenti menoleransi kecurangan dalam bentuk apa pun, sesederhana apa pun tindakan itu. Pendidikan harus menjadi proses pembebasan dari kebodohan, dan kejujuran adalah kunci utamanya.

Mari kita lakukan perenungan mendalam. Ketika kita melihat pejabat korupsi, apakah kita marah karena kerugian negaranya, atau karena kita iri tidak punya kesempatan untuk melakukan hal yang sama? Jika integritas kita di sekolah masih bisa dibeli dengan selembar contekan, maka sebenarnya kita sedang menabung benih kehancuran bagi bangsa ini.

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari fasilitas yang mewah atau peringkat universitas favorit, tetapi dari seberapa tangguh karakter siswanya dalam mempertahankan kejujuran di tengah godaan. Kita harus menciptakan ekosistem sekolah di mana kejujuran adalah kehormatan dan kecurangan adalah sebuah aib besar yang memalukan.

Pada akhirnya, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah saya bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah? Jangan sampai kita menjadi orang yang lantang berteriak “lawan korupsi” di media sosial, namun di sisi lain masih menggunakan “jasa” mencontek demi mempertahankan peringkat di kelas.

Mari jadikan pendidikan sebagai sarana untuk mendewasakan kejujuran. Kita perlu menghentikan budaya pemakluman terhadap ketidakjujuran. Jika kita ingin masa depan Indonesia yang lebih cerah, maka bibit-bibit korupsi yang ada di sekolah harus dicabut hingga ke akarnya. Mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dengan berani untuk jujur, meski itu menyakitkan.

Ingatlah selalu, bahwa nilai ujian yang didapat dengan cara mencontek hanyalah angka di atas kertas, namun karakter yang terbentuk melalui kejujuran adalah investasi masa depan yang tidak ternilai harganya. Mari kita buktikan bahwa pelajar Indonesia adalah generasi yang berintegritas dan siap membawa perubahan nyata bagi bangsa ini. Kejujuran bukan lagi sebuah pilihan, melainkan syarat mutlak bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin sejati di masa depan. Kita adalah masa depan itu sendiri, dan masa depan tidak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi kecurangan.