Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Perkembangan teknologi membuat anak semakin dekat dengan berbagai perangkat dan informasi digital sejak usia sekolah dasar. Anak dapat menggunakan kalkulator, aplikasi belajar, permainan edukatif, hingga berbagai teknologi yang membantu menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, tetapi kemudahan tersebut tidak berarti kemampuan numerasi menjadi kurang penting. Justru ketika teknologi semakin berkembang, anak tetap membutuhkan kemampuan dasar untuk memahami angka, membaca informasi, melakukan perhitungan, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Numerasi tidak hanya berarti kemampuan mengerjakan soal matematika di dalam buku. Dalam kehidupan sehari-hari, anak akan menemukan angka dalam berbagai bentuk, seperti harga barang, waktu, jarak, ukuran, jumlah benda, jadwal kegiatan, hingga informasi yang ditampilkan melalui grafik atau tabel. Karena itu, kemampuan memahami angka sejak sekolah dasar dapat menjadi salah satu dasar penting agar anak mampu menghadapi berbagai situasi secara lebih logis.
Di SD Al Ma’soem, literasi dan numerasi termasuk bagian yang disebut dalam misi sekolah bersama pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memahami informasi dan angka tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan anak.
Ketika mendengar kata numerasi, sebagian orang mungkin langsung menghubungkannya dengan pelajaran matematika, rumus, atau soal hitungan. Padahal, kemampuan numerasi memiliki penggunaan yang jauh lebih luas karena berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami angka dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.
Anak yang memiliki kemampuan numerasi tidak hanya dituntut mengetahui hasil dari suatu perhitungan, tetapi juga memahami mengapa perhitungan tersebut dilakukan. Misalnya, ketika memiliki uang tertentu dan ingin membeli beberapa barang, anak perlu memperkirakan apakah uang yang dimiliki cukup, berapa jumlah yang harus dibayarkan, dan berapa uang yang akan tersisa.
Situasi sederhana tersebut menunjukkan bahwa numerasi sebenarnya dekat dengan kehidupan anak. Semakin sering anak berhadapan dengan persoalan yang melibatkan angka secara alami, semakin banyak pula kesempatan bagi mereka untuk memahami fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan numerasi dapat digunakan dalam berbagai aktivitas yang mungkin terlihat sederhana. Anak sebenarnya sudah berhadapan dengan konsep angka sejak sebelum memasuki sekolah, kemudian kemampuan tersebut dikembangkan secara lebih terarah selama pendidikan dasar.
Beberapa contoh penggunaan numerasi antara lain:
Dari berbagai contoh tersebut, terlihat bahwa numerasi bukan kemampuan yang hanya digunakan ketika anak sedang mengerjakan tugas matematika. Kemampuan tersebut dapat membantu anak membuat keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi memang dapat membantu manusia melakukan perhitungan dengan cepat. Anak dapat menggunakan perangkat digital untuk mendapatkan hasil hitungan dalam waktu singkat, tetapi mengetahui hasil saja belum tentu berarti memahami persoalannya.
Misalnya, sebuah aplikasi dapat memberikan hasil perhitungan, tetapi anak tetap perlu mengetahui angka apa yang harus dimasukkan dan apakah hasil yang diberikan masuk akal. Tanpa pemahaman dasar mengenai angka, teknologi justru dapat digunakan tanpa benar-benar memahami informasi yang dihasilkan.
Karena itu, teknologi sebaiknya dipandang sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir anak. Kemampuan numerasi tetap dibutuhkan agar anak dapat menggunakan teknologi secara lebih bijak, memahami informasi yang muncul di layar, dan mempertimbangkan apakah suatu hasil sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.
Salah satu manfaat penting dari kegiatan numerasi adalah kesempatan bagi anak untuk belajar berpikir secara teratur. Ketika menghadapi sebuah persoalan, anak perlu memahami informasi yang tersedia, menentukan langkah yang dapat dilakukan, kemudian melihat hasilnya.
Proses tersebut dapat melatih anak untuk tidak langsung mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan informasi. Anak belajar melihat hubungan antara angka, memahami pola, dan mencari cara yang paling sesuai untuk menyelesaikan persoalan.
Kemampuan seperti ini juga dapat digunakan di luar pelajaran matematika. Ketika mengerjakan tugas kelompok, merencanakan kegiatan, atau menentukan pilihan sederhana, anak dapat menggunakan kebiasaan berpikir terstruktur yang sebelumnya diperoleh melalui berbagai aktivitas pembelajaran.
Pembelajaran numerasi tidak harus selalu dilakukan melalui lembar soal. Guru dapat menghubungkan konsep angka dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak sehingga siswa lebih mudah memahami kegunaannya.
Misalnya, pembelajaran dapat menggunakan permainan menghitung, pengukuran benda di sekitar kelas, kegiatan membandingkan jumlah, atau simulasi transaksi sederhana. Anak dapat diajak mencari jawaban melalui pengalaman langsung sehingga mereka memahami bahwa angka bukan sekadar simbol yang harus dihafalkan.
Pembelajaran yang aktif juga dapat membuat anak lebih berani mencoba. Ketika menemukan kesalahan, anak dapat diajak mencari bagian yang keliru dan memperbaikinya. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berorientasi pada jawaban benar, tetapi juga pada cara anak menemukan jawaban tersebut.
Numerasi dan literasi sering dibahas sebagai dua kemampuan yang berbeda, tetapi keduanya dapat saling mendukung. Anak membutuhkan kemampuan membaca untuk memahami soal atau informasi, kemudian menggunakan kemampuan numerasi untuk mengolah angka yang terdapat di dalam informasi tersebut.
Contohnya, ketika anak membaca sebuah tabel sederhana mengenai jumlah buku yang dibaca beberapa siswa, mereka perlu memahami tulisan dan informasi yang tersedia terlebih dahulu. Setelah itu, mereka dapat membandingkan jumlah, menghitung selisih, atau menentukan angka tertentu berdasarkan data tersebut.
Karena itu, kemampuan membaca yang baik dapat membantu anak memahami persoalan numerasi, sementara kemampuan numerasi membantu anak membaca informasi yang mengandung angka secara lebih tepat. Keduanya dapat dikembangkan secara bersamaan melalui kegiatan belajar yang beragam.
Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan angka. Bukan hanya melalui pelajaran matematika, tetapi juga melalui berbagai kegiatan yang membutuhkan pengukuran, penghitungan, perencanaan, dan pengolahan informasi.
Misi SD Al Ma’soem mencantumkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta literasi dan numerasi sebagai bagian dari arah pendidikan sekolah. Selain itu, pembelajaran diarahkan untuk berlangsung secara aktif, kreatif, dan menyenangkan sehingga anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih beragam.
Pendekatan seperti ini dapat membantu anak melihat numerasi sebagai kemampuan yang digunakan dalam banyak situasi. Ketika konsep angka dihubungkan dengan aktivitas yang nyata, anak memiliki kesempatan untuk memahami manfaatnya secara langsung.
Orang tua tidak harus memberikan soal matematika tambahan setiap hari untuk membantu anak mengembangkan numerasi. Aktivitas sederhana di rumah justru dapat menjadi media belajar yang menyenangkan.
Orang tua dapat mengajak anak menghitung jumlah barang ketika merapikan kamar, membandingkan harga ketika berbelanja, membaca waktu, membantu mengukur bahan makanan, atau menghitung jumlah benda yang diperlukan untuk suatu kegiatan. Aktivitas sehari-hari tersebut dapat menjadi latihan numerasi tanpa membuat anak merasa sedang mengikuti pelajaran tambahan.
Hal yang juga penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan cara berpikirnya. Ketika anak mendapatkan jawaban, orang tua dapat bertanya bagaimana mereka mendapatkan jawaban tersebut. Dengan cara ini, anak tidak hanya belajar mendapatkan hasil, tetapi juga terbiasa menjelaskan proses berpikirnya.
Kemampuan numerasi yang dibangun sejak sekolah dasar dapat menjadi dasar untuk menghadapi materi yang lebih kompleks pada jenjang pendidikan berikutnya. Anak akan semakin sering menemukan angka, data, pengukuran, perhitungan, dan informasi berbentuk statistik dalam berbagai bidang pembelajaran.
Namun, tujuan mengenalkan numerasi kepada anak bukan sekadar agar mereka mendapatkan nilai matematika yang baik. Kemampuan ini juga dapat membantu anak menjadi lebih teliti, terbiasa berpikir berdasarkan informasi, serta mampu menggunakan angka untuk memahami berbagai persoalan yang mereka temui.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, anak tetap membutuhkan kemampuan dasar untuk memahami apa yang mereka lihat dan gunakan. Teknologi dapat membantu menghitung, mencari informasi, dan mengolah data, tetapi kemampuan anak untuk memahami angka dan menilai informasi tetap menjadi bagian penting dari proses belajar.