Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Di lingkungan sekolah, siswa tentu memiliki banyak pendapat mengenai berbagai hal. Mereka dapat memiliki pandangan berbeda ketika membahas suatu persoalan, menentukan pilihan dalam kegiatan kelompok, atau menanggapi materi yang sedang dipelajari. Memiliki pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas membutuhkan keterampilan tersendiri.
Kemampuan menyusun argumen menjadi salah satu keterampilan yang dapat berkembang melalui proses pembelajaran. Argumen bukan sekadar pernyataan tentang setuju atau tidak setuju. Di dalamnya terdapat pendapat, alasan, bukti, dan penjelasan yang saling berhubungan. Bagi siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, kemampuan ini dapat membantu mereka menyampaikan pemikiran dengan lebih teratur tanpa mengandalkan emosi atau sekadar mengikuti pendapat orang lain.
Pendapat merupakan pandangan seseorang terhadap suatu persoalan. Sementara itu, argumen membutuhkan alasan yang mendukung pandangan tersebut. Perbedaan ini penting dipahami agar siswa tidak menganggap bahwa semua pernyataan yang terdengar meyakinkan otomatis merupakan argumen yang kuat.
Misalnya, seorang siswa mengatakan bahwa kegiatan membaca perlu ditingkatkan di sekolah. Pernyataan tersebut masih berupa pendapat. Agar menjadi argumen, siswa dapat menjelaskan alasan mengapa kegiatan membaca penting dan memberikan contoh atau informasi yang mendukung.
Dengan cara tersebut, siswa belajar bahwa menyampaikan pendapat juga berarti bersedia menjelaskan dasar dari pemikiran yang mereka sampaikan.
Sebuah argumen membutuhkan gagasan utama yang jelas. Jika siswa memiliki terlalu banyak gagasan dalam satu pembahasan, pembaca atau pendengar dapat kesulitan memahami sebenarnya apa yang ingin disampaikan.
Karena itu, siswa dapat belajar menentukan satu pernyataan utama terlebih dahulu. Setelah itu, alasan dan bukti dapat disusun untuk memperkuat pernyataan tersebut.
Keterampilan ini juga membantu ketika siswa membuat tulisan atau presentasi. Dengan gagasan utama yang jelas, informasi pendukung dapat dipilih dengan lebih terarah dan tidak melebar terlalu jauh dari topik.
Setelah menentukan pendapat, langkah berikutnya adalah mencari alasan yang relevan. Alasan berfungsi menjelaskan mengapa siswa memiliki pandangan tertentu.
Alasan yang baik tidak harus rumit. Yang penting adalah hubungan antara pendapat dan alasan dapat dipahami. Jika siswa mengatakan bahwa sebuah kegiatan bermanfaat, misalnya, mereka perlu menjelaskan manfaat seperti apa yang dimaksud dan mengapa manfaat tersebut relevan.
Dari proses ini, siswa belajar menyusun pemikiran secara bertahap. Mereka tidak hanya menyebutkan hasil pemikiran, tetapi juga menjelaskan proses yang membuat mereka sampai pada pemikiran tersebut.
Argumen akan menjadi lebih kuat apabila didukung bukti yang sesuai. Bukti dapat berupa data, hasil pengamatan, contoh nyata, informasi dari sumber terpercaya, atau pengalaman yang relevan.
Siswa dapat belajar memilih bukti yang benar-benar berkaitan dengan pendapat yang sedang dibahas. Tidak semua informasi yang menarik otomatis dapat digunakan sebagai pendukung.
Kemampuan memilih bukti juga berhubungan dengan keterampilan mengevaluasi informasi. Siswa perlu memastikan bahwa sumber yang digunakan cukup jelas dan informasi yang diambil tidak keluar dari konteks aslinya.
Argumen yang baik biasanya memiliki alur yang mudah diikuti. Siswa dapat memulai dengan pernyataan utama, kemudian memberikan alasan, bukti, dan penjelasan mengenai hubungan antara bukti dengan pendapat.
Urutan tersebut membuat pembaca atau pendengar lebih mudah memahami cara berpikir yang digunakan. Jika bukti diberikan tanpa penjelasan, misalnya, orang lain mungkin belum mengetahui mengapa bukti tersebut dianggap penting.
Melalui latihan, siswa dapat belajar bahwa cara menyusun informasi sama pentingnya dengan informasi itu sendiri.
Ketika menyampaikan argumen, siswa mungkin menemukan orang lain yang tidak setuju. Perbedaan tersebut merupakan bagian alami dari diskusi.
Siswa dapat belajar bahwa tujuan menyusun argumen bukan untuk memaksa semua orang memiliki pendapat yang sama. Argumen digunakan untuk menjelaskan alasan dan memberikan dasar bagi sebuah pandangan.
Dengan memahami hal tersebut, siswa dapat tetap mempertahankan pendapat sambil memberikan ruang bagi orang lain untuk menyampaikan sudut pandang yang berbeda. Diskusi pun dapat berlangsung dengan lebih sehat.
Kemampuan berargumentasi tidak hanya berkaitan dengan berbicara atau menulis. Siswa juga perlu memahami argumen yang disampaikan orang lain sebelum memberikan tanggapan.
Mereka dapat memperhatikan apa pendapat utama lawan bicara, alasan apa yang digunakan, dan bukti apa yang diberikan. Setelah itu, tanggapan dapat diarahkan pada bagian yang memang ingin dibahas.
Cara ini membantu siswa menghindari tanggapan yang tidak berhubungan dengan pembicaraan. Mereka belajar merespons isi argumen, bukan menyerang orang yang menyampaikannya.
Emosi merupakan bagian dari kehidupan manusia dan dapat muncul ketika membicarakan suatu persoalan. Namun, argumen yang hanya mengandalkan emosi akan lebih sulit diperiksa kebenarannya.
Siswa dapat belajar membedakan antara perasaan terhadap sebuah persoalan dan alasan yang dapat digunakan untuk mendukung pendapat. Keduanya dapat muncul bersamaan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.
Dengan kebiasaan tersebut, siswa dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus menggunakan kata-kata yang menyerang. Mereka dapat menjelaskan bagian mana yang tidak disepakati dan alasan yang mendasarinya.
Kemampuan menyusun argumen dapat diterapkan dalam berbagai tugas sekolah. Ketika membuat esai, siswa dapat menggunakan argumen untuk menjelaskan pandangan terhadap suatu topik. Dalam diskusi kelas, argumen membantu mereka menyampaikan pendapat secara terstruktur.
Pada kegiatan presentasi, argumen juga dapat membuat penjelasan lebih kuat. Siswa tidak hanya menyebutkan informasi, tetapi dapat menerangkan hubungan antara informasi tersebut dengan gagasan utama.
Semakin sering keterampilan ini digunakan dalam berbagai tugas, semakin terbiasa siswa mengembangkan pemikiran yang memiliki dasar yang jelas.
Siswa SMP umumnya masih berada pada tahap membangun dasar kemampuan berpikir dan menyampaikan alasan. Latihan argumen dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sementara itu, siswa SMA dapat berhadapan dengan topik yang membutuhkan pembahasan lebih kompleks. Mereka dapat mulai membandingkan beberapa sumber, mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda, serta menggunakan data sebagai pendukung.
Perbedaan tingkat tersebut membuat kemampuan berargumentasi dapat berkembang secara bertahap. Tidak harus langsung sempurna, tetapi siswa memiliki kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir dan cara menyampaikan gagasan dari waktu ke waktu.
Kemampuan menyusun argumen pada akhirnya mengajarkan siswa untuk berhenti sejenak sebelum menyampaikan pendapat. Mereka dapat bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya ingin disampaikan dan apa dasar pemikirannya.
Kebiasaan ini berguna dalam banyak situasi. Dalam diskusi, siswa dapat berbicara dengan lebih terarah. Dalam tulisan, mereka dapat menyusun paragraf dengan hubungan yang lebih jelas. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka dapat lebih berhati-hati ketika menerima atau menyebarkan suatu pernyataan.
Bagi siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, kemampuan menyusun argumen dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang membantu mereka mengembangkan pola pikir sistematis. Mereka belajar bahwa memiliki pendapat adalah langkah awal, sedangkan menjelaskan alasan dan bukti merupakan bagian penting untuk membuat pendapat tersebut dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan.