Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Kemampuan berbicara sering dianggap sebagai sesuatu yang akan berkembang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, bagi siswa, kemampuan menyampaikan pendapat perlu dilatih secara bertahap. Berbicara di depan teman, menjawab pertanyaan guru, melakukan presentasi, berdiskusi, hingga menyampaikan ide dalam kegiatan sekolah merupakan bagian dari proses yang dapat membantu siswa menjadi komunikator yang lebih percaya diri.
Di lingkungan sekolah, kemampuan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak siswa mampu berbicara. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana siswa menyusun pikiran sebelum berbicara, memilih kata yang tepat, mendengarkan orang lain, serta menyampaikan pendapat tanpa merendahkan pandangan yang berbeda. Keterampilan seperti ini akan terus digunakan dalam berbagai situasi, baik selama menjalani pendidikan maupun ketika siswa memasuki lingkungan kerja dan kehidupan sosial yang lebih luas.
Ketika membicarakan kemampuan berbicara, banyak orang langsung membayangkan siswa yang melakukan presentasi di depan kelas. Padahal, komunikasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Siswa juga perlu mampu bertanya ketika belum memahami materi, meminta penjelasan dengan sopan, menyampaikan keberatan, memberikan saran kepada teman, serta menjelaskan alasan ketika memiliki suatu pendapat.
Keberanian berbicara juga tidak selalu berarti menjadi siswa yang paling sering mengangkat tangan. Ada siswa yang sebenarnya memiliki banyak ide tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun pikirannya. Karena itu, lingkungan sekolah perlu memberikan ruang yang cukup agar setiap siswa dapat belajar berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Proses tersebut dapat dimulai dari percakapan sederhana sebelum berkembang menjadi kegiatan yang membutuhkan kemampuan berbicara lebih terstruktur.
Dalam pembelajaran, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan jawaban menggunakan kata-kata sendiri. Cara ini membuat siswa tidak hanya berlatih mengingat informasi, tetapi juga belajar mengolah informasi tersebut menjadi penjelasan yang dapat dipahami orang lain. Semakin sering dilakukan, siswa akan semakin terbiasa mengubah pemikiran yang ada di kepala menjadi kalimat yang jelas.
Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah untuk melatih kemampuan komunikasi adalah diskusi. Dalam diskusi, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar mendengarkan. Dua kemampuan tersebut perlu berjalan bersama karena komunikasi yang baik bukan hanya tentang berbicara, melainkan juga memahami apa yang disampaikan orang lain.
Ketika berada dalam sebuah diskusi, siswa mungkin menemukan pendapat yang berbeda dengan pemikirannya. Situasi seperti ini menjadi kesempatan untuk belajar bahwa perbedaan pandangan tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran. Siswa dapat belajar menanggapi pendapat dengan alasan yang jelas, mengajukan pertanyaan, atau menyampaikan sudut pandang lain secara tetap sopan.
Beberapa kemampuan yang dapat berkembang melalui kegiatan diskusi antara lain:
Kebiasaan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi siswa karena kehidupan setelah sekolah juga akan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang memiliki karakter, pengalaman, dan cara berpikir berbeda. Kemampuan menghadapi perbedaan secara sehat dapat membantu siswa membangun hubungan sosial yang lebih baik.
Presentasi juga memiliki peran dalam melatih komunikasi siswa. Ketika mendapat tugas presentasi, siswa perlu memahami materi terlebih dahulu sebelum menjelaskannya kepada orang lain. Mereka perlu menentukan bagian mana yang penting, menyusun urutan pembahasan, kemudian mencari cara agar penjelasan dapat diterima oleh pendengar.
Proses tersebut membuat presentasi sebenarnya tidak hanya melatih keberanian. Siswa juga belajar mengorganisasi informasi. Misalnya, ketika menjelaskan suatu topik, mereka perlu mengetahui bagian pembuka, inti pembahasan, contoh, dan penjelasan tambahan yang dibutuhkan. Kemampuan menyusun informasi seperti ini dapat berguna dalam berbagai bidang karena banyak pekerjaan membutuhkan seseorang untuk menjelaskan ide secara runtut.
Kesalahan ketika melakukan presentasi juga merupakan bagian dari proses belajar. Siswa mungkin lupa suatu kalimat, berbicara terlalu cepat, atau merasa gugup ketika melihat banyak orang. Dengan latihan yang berulang, pengalaman tersebut dapat membantu siswa mengenali bagian mana yang perlu diperbaiki. Sekolah yang memberikan suasana belajar yang aman dapat membuat siswa lebih berani mencoba tanpa terlalu takut melakukan kesalahan.
Kemampuan komunikasi yang baik tidak hanya diukur dari kelancaran berbicara. Cara seseorang menyampaikan sesuatu juga memiliki peran besar. Siswa dapat memiliki pendapat yang kuat, tetapi tetap perlu memahami bahwa cara penyampaian dapat memengaruhi respons orang lain.
Misalnya, ada perbedaan antara mengatakan bahwa seseorang memiliki pendapat yang berbeda dengan mengatakan bahwa pendapat tersebut tidak masuk akal. Keduanya mungkin memiliki maksud yang hampir sama, tetapi memberikan kesan yang berbeda. Karena itu, siswa perlu belajar menggunakan bahasa yang tegas sekaligus tetap menghargai lawan bicara.
Kesantunan dalam komunikasi dapat dilatih melalui berbagai aktivitas sehari-hari. Guru dapat mengingatkan siswa untuk tidak memotong pembicaraan, membiasakan penggunaan kata yang sesuai, serta mengajarkan cara menyampaikan kritik secara konstruktif. Teman sebaya juga memiliki peran karena kebiasaan berkomunikasi sering terbentuk dari interaksi yang dilakukan berulang kali.
Kemampuan berbicara tidak harus dilatih hanya melalui pelajaran di kelas. Berbagai kegiatan sekolah juga dapat memberikan pengalaman komunikasi yang berbeda. Organisasi siswa, kegiatan seni, olahraga, kepanitiaan, hingga kegiatan yang melibatkan kerja sama antarsiswa dapat membuat mereka berhadapan dengan situasi komunikasi yang lebih beragam.
Dalam sebuah kegiatan, misalnya, siswa mungkin harus menjelaskan pembagian tugas kepada teman, menghubungi pihak tertentu, memandu sebuah acara, atau menyampaikan laporan kegiatan. Situasi seperti ini mengajarkan bahwa komunikasi memiliki tujuan yang berbeda-beda. Cara berbicara ketika berdiskusi bersama teman tentu tidak selalu sama dengan cara berbicara ketika menyampaikan informasi kepada guru atau orang yang lebih tua.
Kegiatan semacam itu juga dapat membantu siswa mengenali karakter komunikasi dirinya sendiri. Ada siswa yang lebih nyaman berbicara dalam kelompok kecil, sementara siswa lain lebih percaya diri ketika berada di depan banyak orang. Keduanya tidak harus memiliki gaya yang sama. Yang penting adalah siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sesuai kebutuhannya.
Guru memiliki posisi penting dalam menciptakan suasana yang membuat siswa berani berbicara. Respons guru terhadap jawaban siswa dapat memengaruhi keberanian mereka untuk kembali menyampaikan pendapat. Ketika siswa melakukan kesalahan, koreksi yang diberikan dengan cara membangun dapat membuat siswa memahami kesalahannya tanpa merasa bahwa dirinya tidak mampu.
Hal tersebut bukan berarti setiap pendapat siswa harus selalu dibenarkan. Justru siswa perlu mendapatkan umpan balik agar kemampuan berpikir dan komunikasinya berkembang. Namun, koreksi dapat diarahkan pada isi jawaban, alasan yang digunakan, atau cara penyampaian, bukan dengan membuat siswa merasa malu di hadapan teman-temannya.
Guru juga dapat memberikan pertanyaan terbuka yang memungkinkan siswa memberikan jawaban dengan sudut pandang masing-masing. Dengan demikian, siswa tidak hanya mencari satu jawaban yang dianggap paling aman, tetapi belajar menjelaskan alasan di balik pemikirannya. Kebiasaan tersebut dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih aktif.
Kemampuan berbicara dan menyampaikan pendapat akan tetap digunakan ketika siswa menyelesaikan pendidikan. Dalam dunia perkuliahan, misalnya, mahasiswa perlu melakukan presentasi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berkomunikasi dengan berbagai pihak. Di lingkungan kerja, kemampuan menjelaskan ide dan menyampaikan informasi juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Bahkan dalam kehidupan sederhana, komunikasi dibutuhkan ketika seseorang ingin menyampaikan kebutuhan, menyelesaikan perbedaan pendapat, atau membangun hubungan dengan orang lain. Karena itu, latihan komunikasi di sekolah sebenarnya memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar mendapatkan nilai dari tugas presentasi.
Sekolah Al Ma’soem Bandung dapat menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang memberi ruang bagi siswa untuk berkembang melalui pembelajaran dan berbagai aktivitas sekolah. Dalam proses pendidikan, kemampuan akademik dapat berjalan berdampingan dengan keterampilan komunikasi, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan cara berpikir sekaligus cara menyampaikannya kepada orang lain.
Pada akhirnya, kemampuan berbicara tidak perlu langsung terlihat sempurna. Siswa dapat memulainya dari hal sederhana seperti berani bertanya, menjelaskan jawaban, mengikuti diskusi, menyampaikan ide kepada teman, atau berbicara di depan kelompok kecil. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi dapat berkembang secara bertahap.