Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Kehidupan pesantren sering dikaitkan dengan pembelajaran agama, kajian kitab, tahfidz Al-Qur’an, ibadah, dan pembentukan akhlak. Semua hal tersebut memang menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren. Namun, kehidupan santri pada masa kini juga membutuhkan penguasaan teknologi.
Santri akan hidup di tengah masyarakat yang semakin digital. Mereka perlu memahami komputer, teknologi informasi, komunikasi digital, keamanan data, dan cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Karena itu, ekstrakurikuler robotik dan TIK dapat menjadi pelengkap yang menarik dalam pendidikan boarding school. Kegiatan tersebut memungkinkan santri mengembangkan keterampilan teknologi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai pendidikan Islam.
Teknologi digunakan hampir di semua bidang.
Pendidikan, bisnis, kesehatan, komunikasi, dan industri semakin membutuhkan kemampuan digital.
Santri perlu dipersiapkan menghadapi realitas tersebut.
Robotik tidak hanya tentang membuat robot.
Siswa dapat mempelajari matematika, fisika, elektronika, pemrograman, dan desain.
Pembelajaran menjadi terintegrasi.
Ketika robot tidak bekerja, santri harus mencari penyebab.
Apakah program salah?
Apakah sensor bermasalah?
Apakah rangkaian tidak tepat?
Proses tersebut melatih problem solving.
Santri dapat belajar memecah persoalan menjadi langkah-langkah.
Keterampilan ini relevan dengan berbagai bidang.
Robotik memberi ruang untuk menciptakan.
Santri dapat merancang proyek sesuai minat.
TIK dapat membantu santri memahami penggunaan perangkat digital.
Namun, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi.
Santri juga perlu memahami etika dan keamanan digital.
Santri perlu belajar menjaga akun, kata sandi, dan informasi pribadi.
Kebiasaan tersebut penting dalam kehidupan modern.
Teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab.
Santri perlu memahami dampak menyebarkan informasi tanpa verifikasi.
Teknologi dan pendidikan Islam tidak harus dipertentangkan.
Teknologi dapat digunakan untuk pembelajaran Al-Qur’an, dokumentasi kegiatan, riset, komunikasi, dan berbagai aktivitas positif.
Santri masa kini perlu memiliki identitas ganda sebagai pembelajar agama dan pengguna teknologi yang bertanggung jawab.
Proyek teknologi biasanya membutuhkan proses.
Santri belajar menyelesaikan masalah sendiri sebelum meminta bantuan.
Robotik dapat dilakukan dalam kelompok.
Ada anggota yang fokus pada coding, mekanik, dokumentasi, dan presentasi.
Sistem teknologi membutuhkan ketelitian.
Kesalahan kecil dapat membuat sistem tidak berjalan.
Proyek robotik dapat mengalami kegagalan.
Santri belajar memperbaiki.
Jika tersedia kesempatan, santri dapat mengikuti kompetisi robotik.
Namun, kompetisi bukan satu-satunya tujuan.
Proyek yang dibuat dapat menjadi portofolio.
Santri dapat mendokumentasikan proses dan hasil.
Kemampuan TIK dapat membantu santri ketika melanjutkan pendidikan.
Hampir semua bidang membutuhkan literasi digital.
Ekstrakurikuler teknologi tetap perlu mengikuti aturan penggunaan perangkat di pesantren.
Waktu layar juga perlu dikelola.
Pembina perlu mengarahkan teknologi kepada kegiatan produktif.
Santri sebaiknya tidak hanya mengonsumsi teknologi, tetapi belajar menciptakan.
Ekstrakurikuler robotik dan TIK di Pesantren Al Ma’soem dapat menjadi bagian penting dari upaya menyiapkan santri menghadapi dunia modern. Kehidupan asrama Islami tidak harus bertentangan dengan perkembangan teknologi. Justru, pendidikan yang baik dapat membantu santri memahami teknologi sekaligus memiliki nilai dan etika dalam menggunakannya.
Robotik dapat mengembangkan problem solving, computational thinking, kreativitas, ketelitian, kerja sama, dan ketekunan. Sementara kegiatan TIK dapat memperkuat literasi digital, keamanan informasi, dan kemampuan menggunakan teknologi secara produktif.
Yang paling penting adalah keseimbangan. Santri tetap perlu memiliki waktu untuk belajar agama, menghafal Al-Qur’an, beribadah, belajar akademik, beristirahat, berolahraga, dan bersosialisasi.
Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat pendidikan yang mendukung tujuan pesantren. Santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi dapat berkembang sebagai pembelajar yang mampu memahami, menciptakan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sesuai nilai-nilai yang mereka pelajari.