Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Masa sekolah dasar merupakan periode ketika anak sedang mengalami banyak perkembangan, mulai dari kemampuan berpikir, kemampuan bersosialisasi, pengelolaan emosi, hingga perkembangan fisik, sehingga aktivitas anak sebaiknya tidak hanya dipenuhi dengan kegiatan akademik tetapi juga tetap memberikan ruang untuk bermain dan beristirahat.
Bermain sering kali dianggap sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang, padahal bagi anak usia sekolah dasar, bermain dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar karena melalui permainan anak dapat berinteraksi dengan teman, menggunakan imajinasi, memecahkan masalah sederhana, belajar mengikuti aturan, sekaligus mengenal berbagai situasi yang mungkin tidak mereka temukan ketika hanya belajar melalui buku.
Ketika anak mulai memasuki jenjang sekolah dasar, tuntutan belajar memang semakin berkembang dibandingkan masa sebelumnya, tetapi hal tersebut tidak berarti anak harus kehilangan kesempatan untuk bermain karena kegiatan bermain dapat membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dengan aktivitas yang memberikan kesempatan bagi anak untuk bergerak dan bersantai.
Anak yang mendapatkan waktu untuk bermain secara cukup juga memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara lebih bebas, terutama karena tidak semua pengalaman dan perasaan anak dapat disampaikan melalui percakapan formal, sehingga bermain dapat menjadi salah satu cara alami bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Bermain juga tidak selalu berarti menggunakan mainan tertentu, karena anak dapat bermain melalui aktivitas fisik, permainan bersama teman, kegiatan kreatif, olahraga, membaca cerita, maupun aktivitas sederhana yang sesuai dengan usia dan minatnya.
Salah satu manfaat bermain yang cukup penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya, karena ketika bermain bersama, anak belajar memahami bahwa setiap orang dapat memiliki keinginan, pendapat, dan cara bermain yang berbeda.
Dalam permainan kelompok, anak dapat belajar bergantian, mengikuti aturan, menerima hasil permainan, bekerja sama, serta menyampaikan keinginannya kepada teman dengan cara yang dapat dipahami, sehingga pengalaman tersebut dapat membantu mengembangkan kemampuan sosial secara bertahap.
Melalui aktivitas bermain bersama, anak dapat belajar:
Pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian dari proses anak memahami bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Bermain tidak harus selalu dilakukan dalam posisi duduk karena aktivitas fisik juga dapat menjadi bentuk permainan yang menyenangkan bagi anak, terutama ketika mereka memiliki kesempatan untuk berlari, melompat, bermain bola, berenang, atau melakukan aktivitas olahraga lainnya.
Lingkungan sekolah yang menyediakan ruang untuk kegiatan fisik dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak di sela-sela rutinitas belajar, sekaligus membantu mereka mengenal berbagai jenis aktivitas yang dapat dilakukan bersama teman.
Dalam brosur SD Al Ma’soem, terdapat sejumlah fasilitas yang mendukung aktivitas anak, seperti lapangan mini soccer sintetis, lapangan bola basket, kolam renang, serta fasilitas lainnya.
Fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman anak untuk mengenal aktivitas fisik dan olahraga, meskipun pemanfaatannya tetap perlu disesuaikan dengan jadwal, program sekolah, serta kegiatan yang diberikan kepada peserta didik.
Sebagian orang tua mungkin merasa khawatir bahwa terlalu banyak bermain akan membuat anak kurang serius dalam belajar, padahal yang lebih penting adalah bagaimana waktu anak diatur secara seimbang agar kebutuhan belajar, bermain, beristirahat, dan melakukan aktivitas lainnya tetap mendapatkan porsi yang sesuai.
Anak tetap perlu memiliki kebiasaan menyelesaikan tugas dan mengikuti kegiatan sekolah, tetapi setelah tanggung jawab tersebut dilakukan, anak juga membutuhkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang mereka sukai tanpa selalu merasa bahwa setiap waktu harus digunakan untuk belajar.
Keseimbangan tersebut dapat membantu anak memahami bahwa belajar merupakan tanggung jawab, sedangkan bermain dan beristirahat juga merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari yang perlu diperhatikan.
Konsep sekolah dengan aktivitas yang lebih panjang membuat pengaturan kegiatan menjadi semakin penting karena anak menjalani rutinitas sekolah dalam waktu yang cukup panjang, sehingga kegiatan pembelajaran perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
SD Al Ma’soem menggunakan konsep Full Day dan memadukannya dengan pembelajaran yang interaktif serta berbagai program pengembangan minat dan bakat, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan Program Days.
Dalam kondisi seperti ini, keseimbangan kegiatan menjadi hal yang penting agar aktivitas anak tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan pengalaman yang beragam sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Ketika bermain, anak biasanya memiliki kebebasan untuk menentukan cara menggunakan benda, membuat aturan sederhana, menciptakan cerita, atau mencari solusi ketika menghadapi masalah dalam permainan, sehingga aktivitas tersebut dapat memberikan ruang bagi kreativitas.
Anak dapat menggunakan benda sederhana menjadi bagian dari permainan imajinatif, membuat cerita bersama teman, menciptakan permainan baru, atau menemukan cara berbeda untuk menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi.
Kreativitas seperti ini tidak selalu menghasilkan sesuatu yang dapat dinilai dengan angka, tetapi dapat membantu anak terbiasa berpikir fleksibel dan melihat bahwa satu masalah dapat memiliki lebih dari satu kemungkinan penyelesaian.
Setelah menjalani kegiatan sekolah, anak mungkin masih memiliki tugas atau aktivitas tambahan, sehingga orang tua perlu memperhatikan agar jadwal anak di rumah tidak terlalu padat dan tetap menyediakan waktu untuk bersantai.
Tidak semua waktu luang harus diisi dengan les, latihan, atau aktivitas terstruktur karena anak juga membutuhkan kesempatan untuk menentukan sendiri kegiatan yang ingin dilakukan selama aktivitas tersebut aman dan sesuai dengan usianya.
Orang tua dapat memberikan pilihan aktivitas sederhana seperti:
Pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan karakter anak sehingga kegiatan bermain tidak berubah menjadi kewajiban baru yang justru membuat anak merasa terbebani.
Tidak ada satu aturan waktu bermain yang dapat diterapkan secara sama kepada seluruh anak karena kebutuhan setiap anak berbeda, tetapi orang tua dapat memperhatikan keseimbangan antara kegiatan sekolah, tugas, tidur, aktivitas fisik, kegiatan keluarga, dan waktu santai.
Anak yang terlihat sangat lelah setelah menjalani kegiatan sekolah mungkin membutuhkan lebih banyak waktu istirahat, sementara anak yang masih memiliki energi dapat diarahkan untuk melakukan aktivitas fisik ringan atau bermain bersama keluarga.
Yang terpenting adalah anak tetap memiliki rutinitas yang jelas tanpa membuat seluruh harinya terasa seperti jadwal yang penuh dengan kewajiban.
Ketika anak bermain bersama orang lain, mereka dapat menemukan berbagai situasi yang mengharuskan mereka belajar bersikap jujur, mengikuti aturan, menghargai teman, bertanggung jawab terhadap tindakan, dan menerima hasil yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Nilai tersebut juga memiliki hubungan dengan pendidikan karakter yang dikembangkan di lingkungan sekolah, termasuk penanaman keimanan, akhlakul karimah, kedisiplinan, budaya positif, kepedulian sosial, dan gotong royong sebagaimana tercantum dalam misi SD Al Ma’soem.
Dengan demikian, bermain bukan berarti aktivitas yang terpisah sepenuhnya dari pendidikan, karena banyak nilai yang dapat dipelajari anak justru muncul secara alami ketika mereka terlibat dalam aktivitas bersama orang lain.
Rutinitas sekolah memang menjadi bagian penting dalam perkembangan anak, tetapi masa sekolah dasar juga merupakan masa ketika anak masih membutuhkan kesempatan untuk bermain, tertawa, bergerak, mencoba sesuatu yang baru, dan menikmati waktu bersama teman maupun keluarga.
Pendidikan yang baik tidak hanya membantu anak menjadi lebih pintar dalam memahami pelajaran, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang sebagai individu yang memiliki rasa ingin tahu, kemampuan bersosialisasi, kemandirian, kreativitas, dan keseimbangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, ketika orang tua menyusun rutinitas anak setelah sekolah, waktu bermain sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai waktu yang terbuang, melainkan sebagai salah satu bagian dari pengalaman masa kanak-kanak yang dapat mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.