Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Setiap anak tentu senang ketika mendapatkan pujian atas sesuatu yang berhasil dilakukan, tetapi dalam proses pertumbuhannya anak juga akan menghadapi situasi ketika hasil pekerjaannya belum sesuai harapan atau mendapatkan masukan dari orang lain.
Bagi anak sekolah dasar, menerima kritik dan evaluasi bukan selalu hal yang mudah karena mereka masih belajar memahami perasaan, mengelola kekecewaan, serta membedakan antara kritik terhadap hasil pekerjaan dengan penilaian terhadap dirinya sebagai seorang anak.
Padahal, kemampuan menerima masukan merupakan salah satu keterampilan yang dapat membantu anak berkembang karena melalui evaluasi anak mengetahui bagian yang sudah baik dan bagian yang masih dapat diperbaiki.
Anak perlu memahami bahwa kritik atau masukan tidak selalu berarti dirinya melakukan sesuatu yang buruk. Dalam banyak situasi, masukan diberikan agar seseorang dapat melakukan sesuatu dengan lebih baik.
Misalnya ketika anak mengerjakan tugas menulis dan guru memberikan catatan mengenai kerapian atau kelengkapan jawaban, hal tersebut bukan berarti anak tidak mampu belajar. Guru justru sedang menunjukkan bagian yang dapat dikembangkan.
Cara menyampaikan kritik kepada anak juga sangat berpengaruh. Masukan yang diberikan dengan bahasa yang jelas, tenang, dan fokus pada perilaku atau hasil pekerjaan akan lebih mudah diterima dibandingkan kritik yang menggunakan label negatif terhadap kepribadian anak.
Kemampuan menerima evaluasi dapat memberikan sejumlah manfaat dalam perkembangan anak, terutama ketika mereka mulai menghadapi tugas dan tanggung jawab yang semakin beragam.
Beberapa manfaatnya antara lain:
Kemampuan tersebut tidak muncul secara instan. Anak perlu mendapatkan pengalaman berulang yang membuat mereka memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat anak mendapatkan evaluasi secara rutin. Dalam kegiatan pembelajaran, guru dapat memberikan koreksi terhadap tugas, pertanyaan, presentasi, hasil kerja kelompok, maupun perilaku anak selama mengikuti kegiatan.
Cara guru memberikan evaluasi dapat membantu anak melihat masukan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ketika anak mengetahui apa yang perlu diperbaiki sekaligus mendapatkan arahan mengenai cara memperbaikinya, evaluasi tidak berhenti sebagai penilaian tetapi berubah menjadi pengalaman belajar.
Pembelajaran yang aktif dan kreatif juga memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk mencoba. Semakin sering anak mendapatkan kesempatan mencoba, semakin banyak pula pengalaman yang dapat digunakan untuk memahami bahwa tidak semua percobaan langsung menghasilkan hasil yang sempurna.
Selain belajar menerima kritik, anak juga perlu belajar bagaimana memberikan respons ketika mendapatkan masukan.
Anak dapat dibiasakan untuk:
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membuat anak lebih terbiasa menghadapi evaluasi tanpa menganggap setiap koreksi sebagai serangan terhadap dirinya.
Kebiasaan menerima masukan juga dapat dilatih melalui kehidupan sehari-hari di rumah. Orang tua dapat memberikan evaluasi terhadap perilaku anak dengan menjelaskan tindakan mana yang perlu diperbaiki dan mengapa hal tersebut penting.
Contohnya, ketika anak lupa merapikan perlengkapan belajar, orang tua tidak hanya mengatakan bahwa anak ceroboh. Orang tua dapat menjelaskan bahwa barang yang tidak dikembalikan ke tempatnya akan lebih mudah hilang dan kemudian mengajak anak mencari cara agar kebiasaan tersebut tidak terulang.
Dengan cara tersebut, anak belajar menghubungkan tindakan dengan akibatnya. Anak juga memiliki kesempatan untuk mencari solusi daripada hanya menerima teguran.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memberikan evaluasi adalah membedakan antara mengoreksi perilaku dengan memberikan label kepada anak.
Kalimat seperti “tulisanmu masih perlu dirapikan” berfokus pada hasil pekerjaan yang dapat diperbaiki. Sementara kalimat seperti “kamu memang anak yang tidak rapi” dapat membuat anak merasa bahwa sifat tersebut merupakan bagian permanen dari dirinya.
Anak masih berada dalam proses membentuk pemahaman mengenai dirinya sendiri. Karena itu, evaluasi sebaiknya diarahkan pada tindakan yang dapat diperbaiki agar anak memahami bahwa kesalahan bukan identitas dirinya.
Berbagai aktivitas sekolah dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mendapatkan masukan secara alami. Dalam kegiatan kelompok, misalnya, anak dapat mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman.
Dalam kegiatan olahraga, anak juga dapat menerima arahan mengenai teknik, aturan, maupun kerja sama tim. Begitu pula dalam kegiatan seni, bahasa, sains, atau teknologi, anak dapat mendapatkan koreksi dan kemudian mencoba kembali.
SD Al Ma’soem memiliki berbagai kegiatan pengembangan minat dan bakat, termasuk English Club, Math Club, Sains Club, Futsal, Taekwondo, Catur, Hockey, Basket, Panahan, Robotik, Bola Volly, Paduan Suara, dan Tahfidz. Kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang bagi anak untuk berlatih, menerima arahan, dan memperbaiki kemampuan secara bertahap.
Dalam kegiatan yang membutuhkan latihan rutin, anak dapat melihat perkembangan dirinya secara lebih nyata. Kemampuan yang awalnya terasa sulit dapat menjadi lebih baik setelah mendapatkan arahan dan melakukan latihan berulang.
Pengalaman tersebut dapat mengajarkan bahwa evaluasi bukan akhir dari sebuah kegiatan. Setelah mendapatkan masukan, masih ada kesempatan untuk memperbaiki dan mencoba kembali.
Pola berpikir seperti ini penting agar anak tidak mudah merasa gagal ketika hasil pertama belum sesuai dengan yang diharapkan.
Anak sekolah dasar dapat menghadapi berbagai bentuk kompetisi, baik melalui kegiatan di sekolah maupun kegiatan di luar sekolah. Dalam situasi kompetisi, anak dapat mengalami kemenangan, kekalahan, maupun hasil yang tidak sesuai dengan target.
Informasi SD Al Ma’soem menunjukkan adanya kesempatan bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat melalui kegiatan ekstrakurikuler, Program Days, serta kompetisi atau lomba di luar sekolah dengan tujuan mengasah kemampuan dan membangun persaingan yang sehat.
Pengalaman tersebut dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar menerima hasil secara sportif. Anak yang menang perlu belajar tetap menghargai orang lain, sedangkan anak yang kalah perlu memahami bahwa hasil tersebut bukan berarti seluruh usahanya sia-sia.
Dalam pendidikan anak, hasil memang penting, tetapi proses yang dilalui juga memiliki nilai yang besar. Anak perlu mengetahui bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, kesalahan, dan masukan.
Ketika anak terbiasa melihat proses, mereka akan lebih mudah memahami bahwa mendapatkan nilai yang kurang baik dalam satu tugas tidak berarti dirinya tidak pintar. Begitu pula ketika anak belum berhasil dalam sebuah perlombaan, hal tersebut tidak otomatis berarti dirinya tidak memiliki kemampuan.
Evaluasi dapat membantu anak melihat bagian mana yang perlu dikembangkan sehingga mereka memiliki arah yang lebih jelas untuk belajar.
Anak akan lebih mudah menerima evaluasi ketika mereka merasa aman untuk melakukan kesalahan. Jika setiap kesalahan selalu disertai dengan kemarahan atau ejekan, anak dapat menjadi takut mencoba karena khawatir mendapatkan reaksi negatif.
Sebaliknya, lingkungan yang memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dapat membantu anak menjadi lebih berani. Anak mengetahui bahwa dirinya boleh belum bisa, selama mau belajar dan mencoba kembali.
Hal tersebut sejalan dengan pentingnya menciptakan pendidikan yang aktif, kreatif, dan menyenangkan karena proses belajar anak tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.
Kemampuan menerima kritik dan evaluasi akan terus digunakan ketika anak bertambah besar. Tugas sekolah semakin kompleks, lingkungan pertemanan semakin luas, dan tanggung jawab juga bertambah.
Karena itu, kebiasaan mendengarkan masukan sejak SD dapat menjadi bekal yang bermanfaat untuk menghadapi berbagai situasi di masa depan. Anak belajar bahwa tidak semua koreksi harus ditanggapi dengan rasa kecewa dan tidak semua kesalahan harus membuat dirinya berhenti mencoba.
Dengan pendampingan guru dan orang tua yang tepat, anak dapat belajar melihat kritik sebagai informasi yang membantu dirinya berkembang, sementara evaluasi menjadi bagian dari proses untuk mengenal kemampuan dan memperbaiki diri.