Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Sekolah dasar menjadi salah satu tempat anak belajar memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan, kelebihan, dan pencapaian yang berbeda. Dalam satu kelas, mungkin ada anak yang cepat memahami pelajaran matematika, ada yang pandai menggambar, ada yang memiliki kemampuan olahraga, ada yang berani berbicara di depan kelas, dan ada pula yang lebih menonjol dalam kegiatan seni atau organisasi sederhana bersama teman. Perbedaan tersebut dapat menjadi pengalaman yang sangat baik bagi perkembangan anak apabila mereka belajar melihat keberhasilan orang lain bukan sebagai ancaman terhadap dirinya. Anak perlu memahami bahwa ketika seorang teman mendapatkan nilai bagus, memenangkan perlombaan, berhasil menyelesaikan tugas, atau menunjukkan kemampuan tertentu, keberhasilan tersebut tidak berarti dirinya menjadi kurang hebat.
Kemampuan ikut merasa senang atas keberhasilan teman merupakan bagian dari perkembangan sosial dan emosional anak. Sikap ini tidak berarti anak harus selalu merasa senang ketika dirinya sendiri belum berhasil, karena rasa kecewa atau iri sesekali merupakan hal yang dapat muncul secara alami. Yang perlu dilatih adalah bagaimana anak mengelola perasaan tersebut agar tidak berubah menjadi perilaku yang merendahkan, mengejek, atau sengaja mengganggu temannya. Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang tepat untuk melatih kemampuan tersebut karena anak bertemu dengan banyak teman dan menyaksikan berbagai pencapaian hampir setiap hari.
Anak sering kali mulai membandingkan dirinya dengan teman ketika memasuki lingkungan sekolah. Mereka dapat melihat siapa yang paling cepat menyelesaikan soal, siapa yang mendapatkan nilai tinggi, siapa yang terpilih mengikuti perlombaan, atau siapa yang mendapatkan pujian dari guru.
Perbandingan tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Anak dapat termotivasi ketika melihat temannya memiliki kemampuan tertentu. Masalah dapat muncul ketika anak menganggap keberhasilan teman sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Karena itu, anak perlu dibantu memahami bahwa kemampuan seseorang tidak hanya dapat diukur dari satu bidang.
Seorang anak mungkin tidak unggul dalam matematika, tetapi sangat baik dalam olahraga. Anak lain mungkin tidak terlalu percaya diri berbicara, tetapi memiliki kemampuan menggambar yang luar biasa. Perbedaan seperti ini dapat membantu anak melihat bahwa setiap orang mempunyai proses perkembangan masing-masing.
Keberhasilan teman dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar tanpa harus merasa kalah. Ketika melihat temannya mendapatkan hasil baik, anak dapat memperhatikan usaha yang dilakukan dan mengambil hal positif dari pengalaman tersebut.
Beberapa hal yang dapat dipelajari anak antara lain:
Dengan cara tersebut, keberhasilan seorang anak dapat memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya, bukan hanya bagi dirinya sendiri.
Mengucapkan selamat mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak yang sedang merasa kecewa karena dirinya belum berhasil, tindakan tersebut bisa terasa sulit. Anak dapat dilatih menggunakan kalimat sederhana seperti “selamat ya”, “keren”, atau “semoga aku juga bisa belajar seperti kamu”.
Orang tua dan guru dapat menjelaskan bahwa memberikan apresiasi kepada teman tidak membuat pencapaian anak tersebut berkurang. Sebaliknya, ucapan sederhana dapat membuat hubungan pertemanan menjadi lebih nyaman.
Anak juga perlu memahami bahwa apresiasi tidak harus selalu diberikan melalui kata-kata. Membantu teman, memberikan tepuk tangan ketika teman tampil, mendengarkan ketika teman bercerita, atau tidak mengejek ketika teman mendapatkan penghargaan juga merupakan bentuk menghargai keberhasilan orang lain.
Rasa iri tidak harus langsung dianggap sebagai perilaku buruk. Anak mungkin merasa sedih ketika melihat temannya mendapatkan sesuatu yang juga diinginkannya. Perasaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenali emosi.
Orang tua dapat membantu anak mengatakan apa yang dirasakan. Misalnya, anak dapat mengungkapkan bahwa dirinya kecewa karena belum terpilih mengikuti perlombaan. Setelah itu, orang tua dapat membantu anak melihat apa yang bisa dilakukan berikutnya tanpa merendahkan pencapaian teman.
Anak perlu mengetahui bahwa merasa kecewa bukan masalah, tetapi cara menunjukkan kekecewaan tetap perlu diperhatikan. Anak boleh merasa sedih, tetapi tidak perlu menjatuhkan teman yang berhasil.
Kegiatan kompetisi dapat memberikan pengalaman penting bagi anak. Mereka belajar berusaha, mengikuti aturan, menghadapi hasil, dan menghargai peserta lain. Namun, anak juga perlu memahami bahwa kompetisi tidak hanya tentang menjadi juara.
Dalam informasi SD Al Ma’soem, siswa didorong menyalurkan minat dan bakat melalui ekstrakurikuler, Program Days, serta berbagai kompetisi dan lomba di luar sekolah, dengan tujuan mengasah kemampuan sekaligus membangun kompetisi yang sehat.
Konsep kompetisi yang sehat dapat membantu anak melihat bahwa keberhasilan teman merupakan bagian dari pengalaman bersama. Ketika satu anak memenangkan perlombaan, anak lain dapat belajar memberikan apresiasi sekaligus mengevaluasi pengalamannya sendiri.
Tepuk tangan ketika teman tampil merupakan contoh sederhana dari perilaku suportif. Anak belajar bahwa dirinya dapat memberikan dukungan meskipun bukan dirinya yang sedang berada di depan.
Kebiasaan tersebut dapat dilakukan ketika teman membaca puisi, menyanyikan lagu, mempresentasikan tugas, mengikuti pertandingan, atau menunjukkan hasil karya. Anak tidak harus selalu memahami seluruh kemampuan temannya untuk memberikan apresiasi.
Dukungan kecil seperti tepuk tangan atau ucapan positif dapat membuat anak yang tampil merasa dihargai. Pada saat yang sama, anak yang memberikan dukungan belajar bahwa keberhasilan orang lain tidak perlu direspons dengan persaingan yang tidak sehat.
Guru memiliki peran penting dalam membentuk suasana kelas. Ketika pencapaian anak diapresiasi secara sehat, siswa dapat melihat bahwa usaha lebih penting daripada sekadar membandingkan siapa yang paling unggul.
Guru dapat memberikan apresiasi terhadap berbagai jenis kemampuan. Tidak hanya nilai akademik, tetapi juga keberanian bertanya, kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, kreativitas, ketekunan, dan perkembangan sikap.
Dengan begitu, anak tidak merasa bahwa hanya satu jenis keberhasilan yang layak mendapatkan penghargaan. Setiap anak memiliki kesempatan untuk menunjukkan perkembangan sesuai potensinya.
Peran orang tua juga penting dalam membantu anak melihat keberhasilan teman secara positif. Kalimat seperti “lihat temanmu bisa, kamu kenapa tidak?” mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi dapat membuat anak melihat pencapaian teman sebagai tekanan.
Lebih baik, orang tua membantu anak membandingkan dirinya dengan perkembangan sebelumnya. Jika sebelumnya anak membutuhkan banyak bantuan ketika mengerjakan tugas dan sekarang sudah mampu menyelesaikannya dengan lebih mandiri, hal tersebut juga merupakan pencapaian.
Pendekatan seperti ini membantu anak membangun motivasi dari perkembangan dirinya sendiri tanpa harus menjadikan keberhasilan teman sebagai ukuran harga dirinya.
Ketika anak melihat temannya memiliki kemampuan tertentu, rasa kagum dapat diarahkan menjadi motivasi. Misalnya, anak kagum melihat temannya mampu bermain futsal dengan baik. Daripada merasa dirinya tidak bisa, anak dapat menjadikan pengalaman tersebut sebagai alasan untuk berlatih.
Begitu pula ketika melihat teman pandai membaca atau berbicara bahasa Inggris. Anak dapat bertanya bagaimana temannya belajar dan kemudian mencoba menerapkan kebiasaan yang sesuai dengan dirinya.
Proses ini membantu anak memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang selalu muncul tanpa latihan. Banyak pencapaian merupakan hasil dari kebiasaan, kesempatan, dan usaha yang dilakukan secara konsisten.
Salah satu pemahaman penting yang dapat dibangun sejak SD adalah bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang jumlahnya terbatas. Ketika seorang teman mendapatkan nilai bagus, anak lain tetap memiliki kesempatan untuk berkembang.
Anak dapat memiliki pencapaian masing-masing pada waktu yang berbeda. Ada yang cepat dalam satu bidang, tetapi membutuhkan waktu lebih lama dalam bidang lain. Perbedaan tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar.
Ketika anak memahami hal ini, mereka tidak harus merasa terancam ketika melihat teman berhasil. Mereka dapat belajar berkata dalam hati bahwa keberhasilan temannya adalah sesuatu yang patut dihargai, sementara dirinya tetap dapat berusaha mencapai perkembangan sendiri.
Kegiatan kelompok memberikan kesempatan bagi anak untuk melihat bahwa keberhasilan tidak selalu berasal dari satu orang. Setiap anggota memiliki tugas yang dapat saling melengkapi.
Anak yang pandai menggambar dapat membantu bagian visual, anak yang percaya diri berbicara dapat menyampaikan hasil diskusi, sedangkan anak yang teliti dapat membantu memeriksa pekerjaan. Dari sini anak belajar bahwa kemampuan berbeda justru dapat membuat kelompok menjadi lebih kuat.
Pengalaman tersebut juga membantu anak menghargai kontribusi teman. Mereka belajar bahwa seseorang tidak harus menjadi yang paling menonjol untuk memberikan manfaat bagi kelompok.
Menghargai teman bukan hanya dilakukan ketika teman berhasil. Anak juga perlu belajar memberikan dukungan ketika temannya mengalami kegagalan.
Ketika teman kalah dalam pertandingan atau mendapatkan hasil yang belum sesuai harapan, anak dapat memberikan semangat tanpa mengejek. Kalimat sederhana seperti “tidak apa-apa, coba lagi” dapat membuat hubungan pertemanan menjadi lebih positif.
Kemampuan memberikan dukungan saat orang lain gagal juga membantu anak memahami bahwa setiap orang dapat mengalami keberhasilan dan kegagalan. Tidak ada seorang pun yang selalu menang dalam semua hal.
Kemampuan menghargai keberhasilan teman berkaitan dengan berbagai nilai karakter seperti empati, kerendahan hati, kerja sama, dan sikap saling menghormati. Anak tidak hanya belajar bagaimana menjadi seseorang yang berprestasi, tetapi juga bagaimana bersikap ketika orang lain mendapatkan prestasi.
Dalam visi SD Al Ma’soem, pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi “Cageur, Bageur, Pinter”, dengan misi yang juga mencakup kepedulian sosial dan gotong royong.
Nilai tersebut dapat diterapkan melalui interaksi sederhana di sekolah. Anak belajar memberikan selamat, mendukung teman, menghargai perbedaan kemampuan, dan tetap berusaha mengembangkan dirinya sendiri.
Anak yang terbiasa memberikan apresiasi akan lebih mudah membangun hubungan pertemanan yang sehat. Mereka tidak selalu melihat teman sebagai pesaing, tetapi juga sebagai orang yang dapat menjadi sumber belajar dan dukungan.
Ketika satu anak berhasil, anak lain dapat ikut memberikan semangat. Ketika seorang anak mengalami kesulitan, teman dapat membantu. Pola hubungan seperti ini membuat suasana sekolah menjadi lebih nyaman karena anak merasa tidak harus menghadapi semua hal sendirian.
Pada akhirnya, kemampuan ikut senang atas keberhasilan teman bukan berarti anak harus menghilangkan keinginan untuk berprestasi. Anak tetap boleh memiliki target dan ingin menjadi lebih baik. Bedanya, mereka belajar mengejar keberhasilan tanpa harus menjatuhkan orang lain, sekaligus mampu memberikan penghargaan ketika teman mendapatkan kesempatan untuk bersinar.