Siswa SMP Pesantren

Mempertahankan Budaya Pesantren sebagai Ajang Pendidikan Karakter di Pesantren Siswa Al Ma’Soem

Pesantren Siswa Al Ma’soem berlokasi di Jln. Raya Cipacing No. 22 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Berdiri sejak tahun 2000, sampai dengan saat ini masih tetap eksis dan berperan dalam pengembangan dan pembinaan para santri. Berada pada lokasi strategis dengan akses yang mudah dijangkau, dilengkapi sarana prasarana yang sangat lengkap, menjadikan pesantren ini banyak dikunjungi dan diminati masyarakat. Jumlah keseluruhan santri sampai dengan saat ini, sekitar 1.020 orang, terdiri dari anak usia SMP dan SMA. Pertama kali didirikan oleh Bapak H. Ma’soem, seorang pengusaha muslim sukses, putera asli daerah Jawa Barat. Dibantu dan didukung sepenuhnya oleh istri dan putra-putrinya. Pembangunan pesantren dilakukan setelah pendirian SMA dan SMP Al Ma’soem, semuanya murni dibiayai sendiri, hasil dari jerih payah perusahaan sendiri, yang sudah berdiri sejak tahun 1971, tanpa ada sedikitpun bantuan dari pihak lain.

Santri yang menimba ilmu di Pesantren Siswa Al Ma’soem merupakan para pelajar SMP dan SMA Al Ma’soem. Tidak ada santri yang berasal dari sekolah lain, atau hanya pesantren saja tanpa bersekolah. Setiap pagi sampai dengan sore hari, mereka belajar pada pendidikan formal di sekolah dan pada waktu-waktu yang lainnya, mereka beraktivitas di pesantren. Tidak ada waktu yang terbuang begitu saja, setiap hari dalam 24 jam kegiatan mereka teratur dan terjadwal, sesuai dengan program yang telah direncanakan.

Pesantren Siswa Al Ma’soem merupakan pesantren tipe khalafiyah. Tipe pesantren modern, tetapi masih mempertahankan ciri khas dan budaya pesantrennya. Meskipun berada di wilayah yang ramai dan padat penduduk serta suasana serba modern, saat ini masih tetap mempertahankan budaya kepesantrenannya. Ciri khas dan budaya pesantren, terlihat dari beberapa hal, diantaranya adalah pola kepemimpinan pesantren yang mandiri tidak terpengaruh atau dipengaruhi oleh pihak lain. Kemudian mengajarkan ilmu ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan umum, pengajaran kitab-kitab rujukan yang dikaji, masih menggunakan kitab-kitab klasik atau kitab kuning, meskipun tidak secara keseluruhan. serta terlihat dalam pemilihan sistem nilai yang digunakan. Komponen yang menjadi ciri khas tersebut, dianggap sebagai penopang kuat atas budaya yang dikembangkan di pesantren, sebagai ajang pendidikan karakter bagi para santrinya.

Pola kepemimpinan pada Pesantren Siswa Al Ma’soem, bersifat kolektif demokratis. Tugas dan wewenang telah didelegasikan dan dideskripsikan dengan jelas. Pemegang otoritas tertinggi berada di tangan pimpinan pesantren, dibantu oleh beberapa orang pengurus dan para ustadzah. Mereka mengabdi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, bekerja sama secara bersinergi. Mereka juga merupakan pemegang otoritas utama dalam memberikan bimbingan, pembinaan dan nasihat kepada para santri. Dari merekalah seluruh kebijakan pondok dikeluarkan, untuk mengatur jalannya kegiatan para santri. Penanggung jawab secara keseluruhan tetap dipegang oleh pimpinan pesantren.

Para ustadzah yang telah mendapat tugas dan wewenang untuk mengasuh membimbing dan membina para santri, mencurahkan seluruh potensi dan kemampuannya untuk berkhidmat pada pesantren. Setiap hari, mereka selalu mengemban tugas mulia untuk mengasuh, membimbing dan membina para santri dan selalu hadir dalam setiap gerak dan aktifitas pesantren. Hal ini dimungkinkan karena para ustadz/ah bersama keluarganya rata-rata tinggal di lingkungan pesantren. Arahan atau nasihat-nasihat mereka yang berhubungan dengan kegiatan pondok pesantren dilaksanakan tidak saja ketika pengajian atau pembelajaran berlangsung, tetapi di luar waktu itu juga selalu mereka lakukan dengan penuh pengabdian.

Dengan penampilan keseharian yang sangat sederhana dan bersahaja, para ustadz/ah senantiasa memberikan bimbingan dan arahan pada para santri. Dilakukan secara lemah lembut dan sopan santun serta tidak saja hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Sehingga dalam keseharian menjadi panutan dan suri tauladan bagi para santri. Mereka dijadikan figur yang sangat dihormati dan disegani serta dituruti oleh para santri. Para santri tidak ada yang berani bersikap macam-macam terhadap mereka. Hal itu semua menjadi budaya di Pesantren Siswa Al Ma’soem, yang membentuk karakter para santri. Dalam keseharian, para santri sudah biasa untuk bersikap sopan, ramah dan selalu hormat terhadap orang yang lebih tua, khususnya terhadap guru. Ta’dzim terhadap guru merupakan salah satu kewajiban, yang sudah menjadi budaya di pesantren.

Selanjutnya, implikasi dari pembentukan karakter santri seperti itu, yaitu  bahwa pengetahuan yang diperoleh santri tidak sekedar terwujud dalam ranah kognitif saja, melainkan juga terbentuk dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam hal ini, pesantren melaksanakan proses belajar dan pembelajaran secara integratif-komprehensif atau secara terpadu dan menyeluruh. Pengetahuan yang dipelajari oleh santri adalah ilmu-ilmu yang menjadi perhatian utama, yang telah ditulis oleh para ulama klasik, yang saat ini telah beredar luas dalam bentuk kitab kuning. Kitab yang menjadi materi pembelajaran di pesantren, meskipun masih secara umum. Dianggap sebagai ilmu klasik, yang didasarkan pada apa yang pernah dipelajari sejak zaman Nabi Muhammad Saw. para sahabat dan para tabi’in. Materi agama yang mendalam dan menyeluruh serta dipadukan dengan pengajaran materi tentang akhlak yang lebih mendalam. Kemudian diaplikasikan dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari.

Dengan pola seperti itu diyakini akan memunculkan sikap mental positif dari para santri. Sehingga akan membentuk sebuah sikap kolektivitas yang menjadi dasar terwujudnya sistem nilai, yang nantinya akan diberlakukan dan menjadi budaya serta ciri khas pesantren. Sistem nilai ini tidak saja berfungsi sebagai suatu pedoman, tetapi bisa menjadi pendorong kelakuan santri dalam kehidupannya, berfungsi sebagai suatu sistem tata kelakuan, yang menjadi karakter santri.

Memperhatikan serentetan proses kegiatan yang ada di Pesantren Siswa Al Ma’soem ini, sebagaimana telah dikemukakan di atas, budaya-budaya yang hidup, yang tampak dalam keseharian, sudah menjadi karakter para santri. Diantaranya adalah budaya saling menghormati dan menghargai. Tercermin dalam keseharian, para santri sangat ta’dzim terhadap pimpinan pesantren dan para ustadz/ah-nya, menyayangi sesamanya dan selalu bersikap sopan terhadap siapa saja. Kemudian budaya disiplin, tercermin dalam keseharian santri ketika mengikuti kegiatan di pesantren. Mulai dari bangun tidur sebelum subuh sampai dengan tidur kembali pada malam hari, semuanya diatur, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Tidak ada santri yang berani melanggar secara terang-terangan, karena sesuai dengan aturan yang ada, sanksinya sangat berat. Meskipun mungkin ada saja yang melanggar secara sembunyi-sembunyi.

Budaya lain yang tampak adalah budaya mandiri. Berbagai aktivitas dilakukan oleh para santri ketika mengisi waktu luangnya. Kemandirian serta tanggung jawab yang tertanam dalam sikap mental mereka, mampu mengarahkan aktivitas mereka lebih berfungsi. Artinya tidak banyak santri yang memanfaatkan waktu luangnya hanya untuk bermalas-malasan. Mereka menggunakannya sesuai dengan kebutuhan pribadinya yang sekiranya dapat menunjang keberhasilan hidup mereka. Masih banyak budaya lain yang tampak dalam keseharian di Pesantren Siswa Al Ma’soem ini. Budaya tersebut merupakan ajang pembentukan karakter para santri. Dengan dibatasi dan dinaungi oleh kaidah atau aturan aturan yang telah ditetapkan. Peraturan yang telah ditetapkan, telah diketahui dan ditaati oleh seluruh santri, sehingga tidak ada santri yang berani melanggarnya.

Melihat dari gambaran budaya pesantren tersebut di atas, maka dapat dikemukakan bahwa pendidikan karakter bisa dilakukan melalui penularan dan pembiasaan budaya pesantren. Budaya pesantren akan melahirkan karakter positif dalam upaya pembinaan para santri. Budaya yang agung seperti saling menghormati, menghargai, menyayangi, budaya disiplin, mandiri dan yang lainnya akan memperkuat internalisasi karakter santri, yang sebelumnya sudah terbentuk. Disamping itu, dalam waktu yang bersamaan, terciptanya budaya pesantren akan mempertebal karakter yang tertanam dalam mental santri, sehingga akan menjadi ukuran-ukuran moral dalam melakukan segala tindakannya. Hal itu semua harus terwujud dan tetap dipertahankan, seperti yang telah dilakukan di Pesantren Siswa Al Ma’soem Jatinangor Kabupaten Sumedang.