Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar
Sudah 11 kali Indonesia mengalami perubahan kurikulum, berawal dari kurikulum 1947, terus diganti pada 1964, 1968, 1973, 1975, 1984, 1994, 1997, 2004, 2006, dan terakhir adalah kurikulum 2013. Namun pada tahun 2022 dalam rangka melakukan pemulihan pembelajaran pasca pandemi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) mengeluarkan kebijakan dalam pengembangan kurikulum baru yang dinamakan kurikulum Merdeka belajar. Kebijakan dari Kemendikburistek ini terkait kurikulum nasional yang akan dikaji ulang pada tahun 2024 mendatang, berdasarkan evaluasi masa pemulihan belajar. Lantas apa itu kurikulum merdeka belajar? dan bagaimana implementasi kurikulum merdeka?
Kurikulum merdeka belajar adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Dalam kurikulum ini peserta didik akan memiliki waktu yang cukup banyak untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensi nya, karena pembelajaran dalam kurikulum merdeka ini lebih condong ke pada kemandirian peserta didik. Dimana setiap pembelajaran yang ada di sekolah dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan minat dan bakatnya masing masing.
Kurikulum merdeka ini bersifat fleksibel dan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter siswa dan kompetensi peserta didik. Adapun 3 karakteristik dalam kurikulum merdeka belajar diantaranya adalah :
- Pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan soft skill dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila
- Fokus kepada materi esensial sehingga ada waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar antara lain: literasi dan numerasi
- Fleksibilitas guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan pelajaran muatan lokal.
Kurikulum ini juga memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan pendidikan yang lebih menyenangkan bagi peserta didik maupun guru. Tidak seperti kurikulum 2013 yang lebih menekankan peserta didik pada pengetahuan dalam kurikulum merdeka belajar ini peserta didik lebih difokuskan pada berbagai macam hal salah satunya adalah tentang pendidikan karakter sesuai dengan pancasila.
Perbedaan kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka
KURTILAS atau Kurikulum 2013 dirancang berdasarkan tujuan sistem pendidikan nasional sedangkan kurikulum merdeka menambahkan pengembangan profil pelajar sesuai dengan pancasila
Pada KURTILAS atau Kurikulum 2013 jam pelajaran di ataru per minggu sedangkan pada kurkulum merdeka jam pelajaran dihitung dalam rentang waktu 1 tahun
Waktu pembelajaran yang lebih fleksibel pada kurkulum Merdeka, maka dari itu siswa akan lebih banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya untuk menunjang minat dan bakatnya tidak seperti kurikulum 2013 yang melakukan pembelajaran rutin setiap minggu dengan mengutamakan kegiatan di dalam kelas.
Dalam aspek penilaian juga ada perbedaan, jika kurikulum 2013 lebih mengedepankan 4 aspek penilaian seperti Pengetahuan, Keterampilan, Sikap dan Perilaku. Pada Kurikulum mereka lebih mengutamakan proyek penguatan profil pelajar pancasila, kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
Penerapan Kurikulum merdeka belajar dalam setiap jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan tingkat SD sederajat
Penerapan kurikulum merdeka pada jenjang SD menerapkan penilaian peserta didik berdasarkan 3 fase yaitu Fase A atau setara dengan kelas 1 – 2 SD, Fase B atau setara dengan kelas 3 – 4 SD dan Fase C setara dengan kelas 5 – 6 SD, dalam kurikulum merdeka ini peserta didik tidak diwajibkan mengambil bahasa inggris sebagai salah satu mata pelajaran karena kurikulum ini mendasarkan pembelajaran pada kemampuan peserta didik dan sekolah. Pada kurkulum ini juga pada fase B mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan dan mulai bisa dipelajari ketika siswa menginjak kelas 3 SD.
Jenjang pendidikan tingkat SMP sederajat
Pada jenjang SMP kurikulum merdeka hanya menerapkan satu fase saja yaitu fase D atau setara dengan kelas 7 – 9 SMP. Adapun mata pelajaran yang diwajibkan dalam kurikulum merdeka belajar pada jenjang SMP adalah Informatika atau Komputer. Selain itu peserta didik juga dapat memilih minimal 5 mata pelajaran seni dan prakarya seperti Seni Musik, Teater Seni Rupa , Tari dan Prakarya (Hasil karya atau hasil pekerjaan tangan seperti Origami, Boneka benang, Bunga dari sedotan, dan lain lain)
Jenjang Pendidikan tingkat SMA sederajat
Pada jenjang pendidikan tingkat SMA, kurikulum merdeka menerapkan penilaian berdasarkan 2 fase yaitu Fase E atau setara dengan kelas 10 dan Fase V atau setara dengan kelas 11 dan 12 SMA. Pada fase E ini mata pelajaran IPA dan IPS masih dijadikan mata pelajaran yang lebih spesifik. Peserta didik dapat memilih minimal 5 mata pelajaran seni dan prakarya. Di kelas 10 juga peserta didik akan mempelajari semua mata pelajaran umum, Peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat di kelas 11 dan 12. Peserta didik memilih mata pelajaran dari kelompok mata pelajaran yang tersedia sesuai dengan minat dan bakatnya ke depan akan ke perguruan tinggi mana dan akan mengambil prodi apa. Syarat kelulusan peserta didik juga adalah dengan menulis esai ilmiah.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
Adapun keunggulan dari kurikulum merdeka belajar adalah sebagai berikut :
- Lebih sederhana namun mendalam
Dalam kurikulum merdeka proses pembelajaran lebih berfokus pada pada materi yang penting, dalam kurikulum merdeka pada jenjang SMP dan SMA peserta didik bisa memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya sehingga tidak perlu lagi ada penjurusan pada jenjang SMA dan siswa tidak hanya fokus pada pembelajaran tapi bisa lebih fokus dalam pengembangan minat dan bakatnya. Karena proses pembelajaran pada kurikulum ini lebih bersifat fleksibel dan tidak terburu buru.
- Lebih memiliki kebebasan atau sesuai namanya MERDEKA
Pada kurikulum ini guru dapat mengajar sesuai dengan tahap pencapaian dan perkembangan peserta didik. Selain itu sekolah juga memiliki kebijakan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan satuan pendidikan dan kemampuan peserta didiknya.
- Kurikulum Merdeka Belajar bisa lebih relevan dan interaktif.
Artinya, pelajaran akan lebih terkait pada hal-hal yang sedang terjadi dan bisa dijadikan bahan diskusi antar murid selama pelajaran. Selain itu juga ada banyak sekali metode pembelajaran yang bisa digunakan guru, seperti debat, active learning, project based learning, blended learning, flipped classroom, dan lain sebagainya. Dengan begini, peserta didik bisa mengenal hal-hal terbaru dan mengembangkan kemampuan sosialnya melalui diskusi dan berbagai macam metode pembelajaran kreatif lainnya.
Kekurangan Kurikulum Merdeka Belajar
Seperti dikutip dari kompasiana.com ada 3 kekurangan dari kurikulum merdeka belajar diantaranya adalah sebagai berikut :
- Kurikulum Merdeka Belajar dinilai kurang matang dalam persiapannya
Mengingat Kurikulum Merdeka Belajar ini masih seumur jagung usai diluncurkan oleh Mendikbud ristek beberapa bulan lalu, Kurikulum Merdeka Belajar ini masih perlu dilakukan pengkajian dan evaluasi yang lebih mendalam agar efektif dan tepat dalam penerapannya.
- Sistem pendidikan dan pengajaran yang belum terencana dengan baik
Pada bagian prosedur pelaksanaan pendidikan dan pengajaran pada Kurikulum Merdeka Belajar belum membahas tentang upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sehingga bisa disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka Belajar belum menuju kepada sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dengan baik.
- Kurangnya SDM dan sistem belum terstruktur
Karena Kurikulum Merdeka Belajar ini masih baru pastinya harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu dan memerlukan persiapan yang matang agar mempunyai sistem yang terstruktur dan sistematis. Selain itu juga perlu mempersiapkan SDM ( guru/pengajar ) sebagai pelaksana kurikulum tersebut.
Penerapan kurikulum merdeka ini sudah diterapkan di SMP dan SMA Al Ma’soem, alasannya karena memang implementasi ini sesuai dengan konsep pendidikan di Al Masoem selama ini yang lebih menonjolkan minat dan bakat siswa dan memaksimalkan semua itu dengan program program sekolah seperti program intrakurikuler dan ekstrakurikuler sekolah.
Selain itu juga baik SMP dan SMA Al Ma’soem, kami menerapkan konsep kelas peminatan. Dari peminatan tahfidz dan peminatan bahasa inggris. Dimana tujuannya berbeda jika pada jenjang SMP peminatan ini lebih menekankan pada fasilitas dukungan sekolah pada siswa yang ingin memaksimalkan public speaking dan grammar serta percakapan dalam berbahasa inggris di sekolah pada jenjang SMA peminatan bahasa inggris lebih ditekankan kepada siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi luar negeri.
Dengan kurikulum merdeka ini, Al Ma’soem tidak merasa kesulitan bahkan kami menjadi sekolah pertama di Kabupaten Sumedang yang menerapkan konsep kurikulum merdeka belajar. Karena dari segi Fasilitas sekolah, SDM dan Sistem pendidikan seperti ini sudah berlaku lama di Al Masoem sehingga tidak butuh penyesuaian yang lama bagi Al Ma’soem untuk menerapkannya. Selain itu juga konsep kurikulum merdeka ini lebih mempermudah peserta didik untuk bisa fokus pada tujuan mereka, yaitu diterima ke perguruan tinggi favorit sesuai dengan minat dan bakat mereka.

