Kasih Sayang Guru Kepada Muridnya

Kasih Sayang Guru Kepada Muridnya

Kehidupan di sekolah tidak lepas dari peran guru dalam mendidik para muridnya. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu di dalam kelas, tetapi juga membimbing para siswa di luar kelas. Mereka berperan sebagai orang tua ‘kedua’ yang akan memerhatikan tumbuh kembang para murid ketika bersekolah. Itulah bentuk dari kasih sayang guru kepada muridnya.

Kasih Sayang Guru Kepada Muridnya

Sebenarnya apa itu kasih sayang? Ini pertanyaan yang menarik. Sejatinya manusia adalah makhluk yang membutuhkan kasih sayang, suatu perasaan cinta baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Perasaan cinta ini ibarat pemantik api kehidupan. Bila api tersebut menyala maka seseorang dapat mampu mencintai dirinya atau menyebarkan perasaan kasih sayangnya kepada orang lain. Namun ketika api itu meredup, maka dapat dipastikan seseorang akan mengabaikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Hubungan kasih sayang ini cukup penting dimiliki, karena inilah bentuk hubungan antar manusia yang fitrah atau alamiah. Ketika hubungan dibangun atas dasar pemaksaaan atau kekerasan, maka itulah bentuk hubungan yang tidak normal.

Setiap orang tua pasti memahami bahwa untuk menjaga perkembangan mental, fisik dan rohani sang anak perlu dilandasi oleh cinta. Wujud cinta tersebut bisa berupa memberikan mengajarkan ilmu, menjadi teman bermain, memberikan dukungan emosional, menyekolahkan di sekolah yang bagus dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut dapat memberikan ketenangan jiwa, perasaan aman, percaya diri dan timbulnya kepercayaan kepada orang tua. Inilah yang menjadi tantangan bagi guru untuk bisa meneruskan perjuangan orang tua dalam mendidik anaknya.

Guru Adalah Orang Tua Kedua

Ada anggapan bahwa guru adalah orang tua kedua bagi para murid, dan ini benar adanya. Hubungan kasih sayang antara guru dan murid memiliki pengaruh timbal balik. Ketika guru tidak mencintai anak didiknya, maka hal yang mustahil bagi guru untuk membimbingnya. Sedangkan ketika guru mencintai anak didiknya, maka yang ada adalah semangat untuk mendidik mereka.

Murid juga termasuk amanah dari orang tua anak, atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’alla, yang harus tetap dijaga. Setiap guru bertanggung jawab penuh atas proses pendidikan mereka di sekolah. Dalam pencapaian proses tersebut, guru hendaknya menghindari sikap tidak adil. Ada kalanya terdapat murid yang melakukan kesalahan, maka sudah sepantasnya diberikan hukuman yang mendidik. Begitu pula ketika ada murid yang berhasil mengharumkan nama sekolah, maka berikan hadiah yang layak.

Sikap guru jangan terlalu berlebihan dalam hal ini. Memberikan penghargaan dengan sepantasnya dan tidak berlebihan dengan hukuman. Tidak terlalu pelit tetapi juga tidak menjadi sang pengumbar janji. Jangan ragu dalam pengmbilan keputusan, tetapi juga bukan yang mengabaikan apa yang salah.

Yang tidak kalah penting adalah agar mampu mewujudkan kasih sayang kepada muridnya adalah niat yang tulus untuk pendidikan yang lebih baik. Perjuangan menjadi guru bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan mental baja dan dedikasi yang tinggi agar mampu menjadi bagian dair pendidikan bagi masyarakat. Bagi yang mampu, maka terbuka peluangnya untuk membagikan ilmu yang bermanfaat. Ini merupakan salah satu 3 amalan yang tidak akan terputus ketika meninggal.

Disadur oleh tulisan Alif Sarifudin Ahmad dari suaramuhammadiyah.id, ilmu yang bermanfaat menurut Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Kitabul Ilmi harus memenuhi 12 kriteria dalam adabnya. 12 Kriteria tersebut terdiri dari: 1. Niat yang ikhlas, 2. menghilangkan kebodohan, 3. membela syariat, 4. berlapang dada, 5. mengamalkan, 6. berdakwah, 7. hikmah, 8. sabar, 9. memuliakan ahli ilmu (guru atau ulama), 10. berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Hadits, 11. meneliti dan keuletan, dan 12. bersungguh-sungguh dalam memahami Al Qur’an dan Hadits

12 kriteria yang digagas oleh Syaikh Utsaimin ini diharapkan menjadi panduan para guru dan pendidik lainnya agar bisa menjadi pengajar yang baik secara akal dan akhlak. Dengan akal dan akhlak yang baik, menciptakan suasana kasih sayang kepada para muridnya adalah hal yang dapat terjadi secara naluriah dan menjauhi kekerasan kepada murid. Semoga anak didik yang diajar oleh para guru bisa meniru hal positif ini di kehidupan dewasa nanti, hidup dengan penuh gairah dan kasih sayang kepada sesama.

 

 

Penulis: Gumilar Ganda