Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Belajar dan mengajar memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan saat berlangsungnya proses Pendidikan. Sebagai tenaga pendidik kita harus paham bahwa proses mengajar bukan sekadar menerangkan atau menjelaskan saja. mengajar itu adalah kombinasi antara seni dan ilmu pengetahuan. Kita harus memiliki skill khusus agar siswa memiliki gairah dan memiliki keinginan untuk memperdalam ilmu yang sedang dipelajari.
Suasana nyaman akan memberikan energi positif dalam proses belajar dan mengajar bagi guru dan siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan siswa saat belajar jika guru atau pengajar memberikan ruang pada siswa untuk berdiskusi dan membagikan pandangan terhadap apa yang ia pelajari dan mengevaluasi hasil belajar secara Bersama-sama agar menciptakan suasana tanpa ada Batasan antara guru dan murid saat berdiskusi guna membentuk karakter siswa yang berani, cerdik dalam bergaul, sopan, berkompetensi dan membiasakan siswa tidak mengacu pada system rangking yang menurut beberapa survey hanya meresahkan siswa dan orang tua, karna pada dasarnya setiap individu memiliki keunikan tersendiri yang mungkin akan menjadi nilai jual saat berada dunia kerja nanti.
Kondisi yang nyaman saat proses belajar mengajar berlangsung akan mengaktikan bagian otak yang memiliki prinsip kerja untuk berfikir atau yang disebut neo-cortex. Jika bagian otak tersebut aktif niscaya akan memberikan akselerasi pada proses belajar serta meningkatkan percaya diri pada anak. Sedangkan suasana yang cenderung flat atau bahkan memiliki tekanan cenderung akan menurunkan fungsi otak yang memiliki prinsip kerja berfikir efektif.
Bahagia tanpa dibebani nilai atau skor tertentu merupakan bentuk dari program merdeka belajar yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan republic Indonesia yaitu nadiem makarim. Program merdeka belajar ini bertujuan agar para guru, peserta didik serta orang tua mendapatkan suasana belajar yang nyaman serta bahagia. Program merdeka belajar dilahirkan dari banyaknya keluhan terhadap sistem pendidikan. Salah satunya keluhan soal banyaknya peserta didik yang dipatok oleh nilai-nilai tertentu. Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir, terutama esensi kemerdekaan berpikir harus diterapkan oleh guru terlebih dahulu. Jika guru tidak menerapkan, tidak mungkin bisa terjadi pada peserta didik.
Namun ada beberapa program sebagai kebijakan juga yang dijalankan oleh Menteri Pendidikan republic Indonesia nadiem makarim guna membantu terciptanya hasil maksimal program belajar merdeka, apa saja? yuk mari kita simak.
USBN diganti menjadi ujian (assessment)
Dikutip dari Kompas.com Tahun 2020, USBN akan diganti dengan ujian (asesmen) yang diselenggarakan hanya oleh sekolah. Ujian untuk menilai kompetensi siswa dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis dan/atau bentuk penilaian lain yang lebih komprehensif, seperti portofolio dan penugasan seperti tugas kelompok, karya tulis, dan lain sebagainya. Menurut nadiem dengan begitu guru dan sekolah lebih merdeka dalam menilai hasil belajar siswa. Bahkan diharapkan anggaran USBN dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah
2021 UN diganti
Menteri Nadiem melihat situasi saat ini materi UN terlalu padat sehingga siswa dan guru cenderung menguji penguasaan konten, bukan kompetensi penalaran. Disamping itu, UN dianggap jadi beban siswa, guru dan orangtua karena menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu. Karenanya tahun 2020, UN akan dilaksanakan terakhir kalinya. Sebagai penggantinya, pada 2021, UN diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
Perubahan Cara Membuat RPP yang dipersingkat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) selama ini, guru diarahkan mengikuti format RPP secara kaku. Tetapi nanti guru akan bebas memilih, membuat, menggunakan dan mengembangkan format RPP. Dulu, RPP terlalu banyak komponen dan guru diminta menulis sangat rinci (satu dokumen RPP bisa lebih 20 halaman). Tetapi nanti akan dipersingkat yakni RPP berisi tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan asesmen. RPP hanya 1 halaman saja. Sehingga penulisan RPP dilakukan dengan efisien dan efektif yang menjadikan guru punya waktu untuk mempersiapkan juga mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri
Sistem Zonasi Sekolah lebih fleksibel
Untuk program “Merdeka Belajar” yang terrakhir ini, Nadiem menjelaskan bahwa Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Adapun kebijakannya, PPDB lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Menurut Nadiem, komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5 persen. Untuk jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah. “Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi,” ujar Nadiem.