Image 2023 08 28

Eksplorasi Pendidikan Internasional: Fadel Alumni Al Masoem 2017 di Tunisia

Dunia pendidikan selalu menghadirkan kisah-kisah mengagumkan yang membuka mata kita pada peluang tak terbatas. Salah satu kisah luar biasa datang dari seorang alumni SMA Plus Pesantren Siswa Al Masoem tahun 2017, Fadel yang berhasil lulus dan menetap di Tunisia. Beliau merupakan satu dari sekian banyak alumni Al Masoem yang menginspirasi. Dalam era globalisasi ini, melintasi batas-batas geografis bukan lagi sebuah mimpi yang mustahil, melainkan suatu realitas yang menginspirasi.

Fadel, Alumni SMA Plus Pesantren Al Masoem Tahun 2017. Memiliki Keinginan untuk Kuliah ke Timur Tengah dari SMA

Dalam wawancara yang dilaksanakan pada hari Jumat (26/08) Fadel selaku alumni SMA Plus Pesantren Al Masoem mengungkapkan bahwa impiannya untuk bisa kuliah ke Timur Tengah adalah Impian dia sejak SMA β€œsejak SMA saya memang memiliki impian untuk bisa kuliah ke luar negeri, terutama Al Azhar, tapi kebetulan waktu itu saya coba cari informasi tentang kuliah ke Timur tengah dan mencoba mendaftar ke Al Azhar, Universitas Islam Madinah, King Saud dan ke Universitas Az Zaitunah dan alhamdulilah diterima ke Universitas Az Zaitunah yang ada di Tunisia,” ungkapnya.

2

Dalam perjalanan mengemban pendidikan di Tunisia, Fadel mengungkapkan bahwa sistem pembelajaran disana berbeda dengan sistem pendidikan di sekolah sekolah di Indonesia. β€œDi Tunisia itu berbeda dengan di Indonesia terutama dalam sistem pendidikan kuliahnya, di Tunisia kuliah itu dibuat menjadi delapan semester, atau empat tahun untuk tingkat sarjana sedangkan di Tunisia itu seperti sekolah menengah, jadi kuliah itu diberikan waktu hanya tiga tahun saja dengan sistem tahun pertama, tahun kedua dan tahun ketiga. Dan akhir dari kuliah juga hanya ada ujian kampus tidak ada pembuatan skripsi seperti di negara kita”. Fadel juga mengungkapkan bahwa madzhab yang dianut rata rata warga Tunisia itu adalah maliki yang memiliki beberapa perbedaan dengan madzhab yang dianut di Indonesia yang rata rata Imam Syafi’i. Disana hewan anjing seperti kucing di Indonesia, hampir di setiap sudut jalan bahkan banyak warga muslim yang memelihara anjing sedangkan di madzhab Imam Syafi’i hewan anjing dianggap najis jadi lebih tidak dianjurkan.

Sebelum Kuliah ke Tunisia, Fadel Mengambil Program Bahasa Arab di MakassarΒ 

Dalam perjalanan mengemban pendidikan ke Tunisia, Fadel mengungkapkan bahwa beberapa bulan sebelum keberangkatannya, dia mengambil program (Les) Bahasa Arab di Makassar. Ini penting karena di Tunisia rata rata masyarakatnya menggunakan bahasa Arab dan bahasa Prancis. Di Indonesia bahasa Prancis masih menjadi bahasa yang jarang digunakan, bahkan masih sedikit tempat les yang menyediakan program bahasa Prancis maka dari itu bahasa Arab menjadi pilihan baik jika memang ada alumni atau adik kelas yang ingin melanjutkan ke Tunisia. Di Al Masoem juga Bahasa Arab menjadi mata pelajaran yang dijadikan pelajaran umum, tapi demi memaksimalkan bahasa maka dari itu penting untuk bisa belajar mandiri atau bahkan ikut serta dalam les untuk memperdalam bahasa Arab.Β 

Mahasiswa Dituntut untuk bisa Berpikir dan Bernalar Kritis

Yang paling unik adalah, pembelajaran di Tunisia terutama untuk tingkat sarjana mahasiswa dituntut untuk bisa bernalar kritis. Nalar kritis sendiri merujuk pada kemampuan berpikir secara analitis, terstruktur, dan kritis dalam menghadapi informasi, argumen, atau situasi tertentu. Ini melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi, menganalisis, dan memahami informasi dengan cermat sebelum membuat keputusan atau menyimpulkan suatu hal. Nalar kritis melibatkan berbagai kemampuan, termasuk kemampuan mengidentifikasi argumen yang valid, mengenali bias atau kesalahan dalam pemikiran, menghubungkan ide-ide yang berbeda, serta menyusun pendapat atau keputusan yang lebih informasional dan rasional.

Kegiatan Al Masoem (18)
Siswa Bernalar Kritis

Seseorang yang memiliki nalar kritis yang baik cenderung tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi mereka akan mengajukan pertanyaan, memeriksa fakta, menganalisis implikasi dari argumen, dan mencari pemahaman yang lebih mendalam. Kemampuan ini sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan, dan interaksi sosial.

Dalam kasus ujian di Tunisia, mahasiswa diberikan hanya beberapa soal saja berbentuk essay, tapi jawaban yang diberikan oleh mahasiswa penting untuk bisa menjelaskan secara detail seperti hours adanya pendahuluan, perumusan masalah, isi dari soal tersebut dan terakhir kesimpulan. Dan konsep seperti ini memang umum dalam pembelajarn di Tunisia yang notabene menggunakan sistem pendidikan yang sama dengan sistem pendidikan negara Perancis.

Di Al Masoem sendiri nalar kritis sudah diciptakan dalam metode pendidikan siswa selama masih di SMP dan SMA, beberapa guru juga mewajibkan setiap siswa untuk bisa menjawab soal dengan sistem yang mirip seperti diketahui, ditanyakan, dan jawaban. Metode seperti ini membantu siswa untuk bisa memaksimalkan dan memahami arti dari soal yang memang diberikan oleh guru maupun oleh tenaga didik.

Kuliah dengan Jalur Mandiri (Non Beasiswa)

Fadel merupakan alumni SMA Al Masoem yang bisa kuliah ke Tunisia tanpa jalur beasiswa alias jalur mandiri. Tapi kuliah ke Tunisia memiliki biaya hidup yang cukup murah dibandingkan dengan negara lainnya meskipun tidak melalui jalur beasiswa. Fadel mengungkapkan bahwa biaya hidup di sana cukup murah dengan fasilitas pendidikan yang sangat baik. β€œDalam satu tahun mahasiswa hanya membayar 56 dinar atau 300 ribu untuk biaya kuliah dan itu sudah include semuanya”. Fadel juga menambahkan bahwa tempat tinggal untuk mahasiswa indonesia yang tidak mendapatkan beasiswa atau jalur mandiri adalah bisa menyewa rumah biaya juga tidak terlalu mahal hanya 100-150 dinar dari 500-750 ribu rupiah saja untuk sewa rumah, sedangkan untuk makan danΒ  keseharian cukup sekitar satu hingga satu setengah juta per bulan, tapi semua tergantung dari masing masing orangnya juga, ungkapnya.

Tiga hal dari SMA Al Masoem yang Bermanfaat di kuliahan

Fadel tidak bisa memungkiri semua hal yang didapatkannya tidak bisa maksimal juga tanpa ada didikan di SMA Plus Pesantren Al Masoem, maka dari itu Fadel mengungkapkan ada beberapa hal yang memang memberikan manfaat yang tinggi untuk bisa Fadel mengemban Ilmu pendidikan di Tunisia diantaranya adalah hal yang memang tercantum dalam kurikulum Al Masoem seperti :Β 

  • Di Al Masoem Shalat Wajib Tepat Waktu

Hal pertama yang paling berkesan adalah masalah shalat, di Al Masoem shalat itu harus tepat waktu. Dan ternyata manfaat dari aturan itu sangat terasa saat ini, karena memang betul salah satu nikmat dari sekolah di pendidikan Pesantren itu adalah aturan manajemen waktu yang sangat tersusun rapi. Kebiasaan dan tuntutan untuk bisa shalat dengan tepat waktu membuat kita sebagai santri bisa memanajemen waktu dengan baik, dan ini manfaatnya sangat terasa hingga saat ini. Apalagi berada di Tunisia, tempat yang jauh dari rumah harus bisa mandiri dan memanajemen waktu dengan baik.

  • Sistem Poin di Al Masoem

Sistem poin pelanggaran juga menjadi hal yang memberikan pelajaran penting bagi Fadel, menurutnya sistem seperti ini memang benar benar membentuk mental siswa tidak hanya dengan omongan belaka tapi juga contoh dari guru dan wali santri. Karena sebaik baiknya aturan dan sebaik baiknya perintah adalah dengan memberikan contoh yang baik kepada siswanya. Dan Al Masoem berhasil memberikan contoh yang benar benar nyata dan manfaatnya terasa hingga saat ini.Β 

  • Guru TegasΒ 

Yang terakhir adalah guru Al Masoem itu tegas, tegas dalam artian karena mereka sayang terhadap muridnya dan ingin memperbaiki muridnya. Itu adalah hal yang bagus, karena kalau guru cuek terhadap siswa, bagaimana siswa bisa dibina, tutupnya.

Melangkah Menuju Masa Depan: Jejak Inspiratif Fadel di Tunisia

Kisah Fadel yang mengejar pendidikan internasional di Tunisia benar-benar membuktikan bahwa belajar tidak hanya sebatas di kelas, tetapi di seluruh dunia yang menanti untuk dijelajahi. Melalui perjalanan ini, kita mengerti bahwa tekad untuk terus belajar, beradaptasi dengan budaya baru, dan menerapkan nalar kritis adalah inti dari pengembangan diri yang holistik.

Fadel, seorang perwakilan dari kelulusan Al Masoem 2017, telah memberikan contoh inspiratif bagi kita semua. Ia telah menunjukkan bahwa dunia ini adalah panggung yang luas untuk meraih impian dan menerapkan pengetahuan dengan cara yang paling mendalam. Kita dapat belajar dari semangatnya yang tidak pernah padam, bahkan ketika menghadapi tantangan yang tidak terduga.

Maka, mari kita semua mengambil inspirasi dari cerita Fadel. Jadilah penjelajah ilmu, penentang batasan-batasan, dan pemimpin masa depan yang membawa perubahan positif. Kita, seperti Fadel, dapat membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan semangat untuk terus berkembang, tak ada hal yang mustahil di dunia ini.

Akhir kata, mari kita memandang masa depan dengan mata penuh harap, sambil memegang erat prinsip-prinsip yang telah mengilhami Fadel dalam perjalanannya yang penuh makna ini. Semoga cerita Fadel akan terus mengingatkan kita bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup yang membebaskan pikiran, membuka peluang, dan menerangi jalan menuju kesuksesan dan pencapaian yang luar biasa.