Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Masa SMP merupakan periode ketika siswa mulai menemukan berbagai minat baru. Ada yang tertarik pada olahraga, seni, teknologi, organisasi, hingga dunia menulis. Bagi siswa yang memiliki ketertarikan pada tulisan, berita, fotografi, opini, atau cerita kreatif, kegiatan jurnalistik dan mading sekolah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan secara bertahap.
Ekskul jurnalistik dan mading bukan sekadar aktivitas membuat tulisan untuk ditempel di papan informasi. Jika dikelola dengan baik, kegiatan tersebut dapat menjadi latihan literasi yang mempertemukan kemampuan membaca, menulis, melakukan observasi, menyusun informasi, bekerja dalam tim, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Siswa SMP hidup di tengah lingkungan informasi yang sangat cepat. Mereka menemukan berita, video, unggahan media sosial, opini, dan berbagai bentuk konten setiap hari. Kondisi tersebut membuat kemampuan memahami informasi menjadi semakin penting.
Kegiatan jurnalistik dapat mengajarkan siswa untuk tidak langsung menerima sebuah informasi. Mereka dapat belajar bertanya mengenai apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan peristiwa berlangsung, serta bagaimana informasi tersebut dapat disampaikan secara jelas.
Keterampilan tersebut tidak hanya berguna bagi siswa yang ingin menjadi penulis. Kemampuan memilah informasi, menyusun argumen, dan berkomunikasi juga bermanfaat dalam berbagai bidang pendidikan.
Majalah dinding atau mading sekolah dapat menjadi media sederhana tetapi memiliki fungsi pendidikan yang luas. Siswa dapat mengisinya dengan artikel pendek, berita kegiatan sekolah, wawancara, puisi, cerita, ilustrasi, komik edukatif, fotografi, hingga informasi seputar kegiatan siswa.
Keberagaman konten memungkinkan siswa dengan minat berbeda untuk berkontribusi. Siswa yang senang menulis dapat membuat artikel. Mereka yang menyukai desain dapat mengatur tampilan. Siswa yang tertarik fotografi dapat mendokumentasikan kegiatan.
Dengan demikian, mading tidak hanya melatih kemampuan individu, tetapi juga membangun pengalaman kolaboratif.
Salah satu kelebihan jurnalistik sekolah adalah siswa dapat mengambil ide dari lingkungan terdekat. Mereka tidak harus langsung menulis tema yang rumit.
Kegiatan sekolah, lomba, ekstrakurikuler, wawancara guru, profil teman berprestasi, kegiatan sosial, atau program literasi dapat menjadi bahan tulisan. Dari situ siswa belajar bahwa menulis membutuhkan pengamatan.
Misalnya, ketika meliput kegiatan olahraga, siswa tidak cukup menulis bahwa kegiatan tersebut berlangsung. Mereka dapat belajar mencatat tujuan kegiatan, peserta, proses latihan, pengalaman siswa, serta hal menarik yang ditemukan selama observasi.
Proses tersebut membantu mengubah pengalaman sehari-hari menjadi tulisan yang memiliki informasi.
Jurnalistik juga dapat menjadi sarana untuk melatih komunikasi. Siswa dapat belajar membuat daftar pertanyaan, memperkenalkan diri, meminta waktu narasumber, mencatat jawaban, kemudian mengolah hasil wawancara menjadi tulisan.
Keterampilan wawancara membutuhkan keberanian sekaligus kesopanan. Siswa belajar bahwa pertanyaan harus relevan dan tidak boleh dibuat untuk menjatuhkan orang lain.
Pengalaman tersebut dapat membantu siswa menjadi komunikator yang lebih percaya diri.
Menulis tidak selesai setelah paragraf terakhir dibuat. Tulisan perlu diperiksa kembali agar lebih jelas, rapi, dan mudah dipahami.
Dalam kegiatan jurnalistik, siswa dapat belajar mengenali kesalahan ejaan, kalimat yang terlalu panjang, informasi yang belum lengkap, atau judul yang kurang sesuai dengan isi.
Proses penyuntingan juga mengajarkan sikap terbuka terhadap kritik. Tulisan yang diperbaiki bukan berarti tulisan awalnya gagal. Justru, revisi merupakan bagian normal dari proses menghasilkan karya yang lebih baik.
Kegiatan mading dapat dibagi menjadi beberapa peran. Ada penulis, editor, fotografer, ilustrator, desainer, dan koordinator. Pembagian tersebut memberikan pengalaman kerja kelompok yang nyata.
Siswa belajar bahwa sebuah produk tidak selalu dibuat oleh satu orang. Setiap anggota memiliki tanggung jawab yang saling berhubungan.
Jika penulis terlambat menyelesaikan artikel, editor dan desainer dapat terkena dampaknya. Dari situ siswa belajar mengenai manajemen waktu, komunikasi, dan tanggung jawab bersama.
Kegiatan jurnalistik sekolah juga dapat dikembangkan mengikuti perkembangan teknologi. Tulisan siswa dapat dipublikasikan melalui media digital sekolah jika tersedia dan sesuai dengan kebijakan sekolah.
Namun, penggunaan media digital juga perlu disertai pemahaman mengenai etika. Siswa perlu belajar menghormati privasi, memeriksa informasi, mencantumkan sumber secara tepat, dan tidak mengambil karya orang lain tanpa izin.
Dengan demikian, jurnalistik dapat menjadi jembatan antara literasi konvensional dan literasi digital.
Bagi siswa yang memang tertarik pada dunia menulis, hasil karya dari ekskul jurnalistik dapat dikumpulkan menjadi portofolio. Portofolio tersebut dapat berisi artikel, laporan kegiatan, wawancara, fotografi, desain mading, atau proyek editorial.
Portofolio tidak harus digunakan untuk mengejar pencapaian tertentu. Yang lebih penting, siswa dapat melihat perkembangan kemampuannya dari waktu ke waktu.
Tulisan pertama mungkin masih sederhana. Setelah berlatih, struktur tulisan dapat menjadi lebih rapi, pilihan kata semakin baik, dan kemampuan menyampaikan gagasan semakin berkembang.
Ekskul jurnalistik dan mading sekolah dapat menjadi wadah positif bagi siswa SMP Al Masoem yang memiliki minat pada dunia kepenulisan dan komunikasi. Kegiatannya dapat mencakup menulis, membaca, wawancara, observasi, fotografi, desain, penyuntingan, dan kerja tim.
Lebih dari sekadar menghasilkan mading, kegiatan tersebut dapat membangun keterampilan yang relevan dengan kehidupan siswa. Mereka belajar mengolah informasi, menyampaikan gagasan, menerima masukan, bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap karya.
Bagi orang tua yang melihat anak memiliki ketertarikan pada menulis, jurnalistik dapat menjadi salah satu kegiatan yang patut dipertimbangkan. Sementara bagi siswa, pengalaman menjadi bagian dari tim redaksi dapat menjadi langkah awal untuk mengenal dunia literasi secara lebih menyenangkan dan praktis.
Dengan pendampingan yang tepat, kegiatan jurnalistik dapat membantu siswa menjadi pembaca yang lebih kritis, penulis yang lebih terlatih, serta komunikator yang mampu menyampaikan gagasan secara jelas dan bertanggung jawab.