Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Pacaran merupakan sebuah ikatan hubungan yang bisa disebut umum di dunia masyarakat. Namun dalam agama islam pacaran itu tidak ada, yang ada adalah ta’aruf. Ta’aruf adalah istilah dari Bahasa Persia yang mengacu pada bentuk kesopanan atau seni etiket di Iran, yang menekankan pada rasa hormat dan peringkat sosial. Taaruf adalah ritual kesopanan yang bertujuan menyamakan kedudukan dalam budaya hierarkis. Di beberapa sekolah siswa pacaran itu seperti hal yang umum bahkan lumrah. Beberapa guru menjadikan siswa yang pacaran sebagai bahan guyonan saja dan hanya menegur saja agar tidak terlalu kebablasan, beberapa guru juga bahkan membiarkan wanita dan laki laki menjalin sebuah hubungan yang memang tidak ada dalam agama. Namun mungkin ini berbeda dengan sekolah yang memang memiliki konsep dan budaya pesantren, budaya pacaran di masa remaja pasti dilarang bahkan beberapa sekolah memberikan hukuman bagi mereka yang menjalin hubungan pacaran, karena pada dasarnya pacaran merupakan kegiatan atau hubungan khas budaya barat.
Di budaya timur tidak ada yang namanya pacaran, justru karena budaya barat yang memang banyak meresap ke negara kita maka hal seperti itu seakan hal yang lumrah. Bahkan saya sendiri yakin dari semua orang tua yang membaca artikel ini 90%nya pasti pernah merasakan hubungan pacaran bahkan cinta monyet. Namun meski begitu orang tua paham betul juga bahwa hubungan seperti itu memang dilarang dan pasti tidak akan mengijinkan putra putrinya untuk pacaran bukan? Begitu juga Al Ma’soem sebagai lembaga pendidikan yang memiliki konsep pendidikan boarding school berbudaya pesantren. Kami melarang siswa untuk pacaran, lantas bagaimana cara sekolah menyikapi siswa yang pacaran? Berikut ulasannya :
Orang pacaran identik dengan berduaan, baik itu di tempat ramai maupun di tempat sepi. Oke di tempat ramai kami masih bisa mengawasi apa saja yang mereka lakukan disana. Mungkin juga bisa jadi tontonan publik maka dari itu kami hanya memberikan teguran secara lisan untuk tidak berdua duaan di lingkungan sekolah dan juga diluar sekolah. Bahkan jika memang ada perkumpulan yang mencurigakan yang bercampur antara laki laki dan perempuan juga akan ditegur. Ditambah juga CCTV di beberapa sudut lingkungan sekolah membuat kami mudah untuk mengawasi baik dari jauh atau dari dekat. Namun berbeda jika sudah berada ditempat sepi, ini akan dilanjutkan ke cara menyikapi yang ke 2.
Ketika siswa mendaftar sekolah kami memberikan berbagai macam uraian tata tertib sekolah, disana ada terdapat beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di lingkungan sekolah bahkan di luar sekolah. Contoh ketika siswa berpacaran dilingkungan sekolah dan berada ditempat sepi, siswa akan dibawa ke kantor BK untuk diberikan sanksi poin pelanggaran. Sanksi pacaran juga termasuk besar yaitu 80 poin pelanggaran yang artinya jika anda siswa Al Masoem anda sudah kehilangan 80% imun anda untuk sekolah di Al Masoem dan untuk santri anda telah kehilangan 55% imun anda untuk sekolah dan berpesantren di Al Masoem. Parahnya lagi jika memang ditemukan ditempat yang tidak layak dan memang terdapat bukti bahwa melakukan tindakan asusila, siswa tersebut akan diberikan sanksi berat yaitu dikeluarkan dari sekolah.
Tentu saja yang dikeluarkan adalah kedua pasangan tersebut karena tidak ada yang namanya korban dalam hubungan pacaran, karena pacaran adalah komitmen berdua, dan mengeluarkan siswa yang pacaran adalah bentuk tanggung jawab dari siswa itu sendiri. Tapi tetap saja sebisa mungkin kami tidak pernah ingin mengeluarkan siswa dari sekolah, sebisa mungkin kami mencegah siswa sebelum melakukan hal yang asusila.
Yang paling penting adalah Al Ma’soem selalu melibatkan orang tua siswa dalam menanggulangi masalah siswa termasuk siswa yang berpacaran di sekolah. Biasanya baik wali kelas dan wali santri selalu berkomunikasi dengan orang tua baik itu untuk akademik siswa dan juga tentang masalah siswa di sekolah maupun di pesantren. Selain itu Al Masoem juga memiliki cara untuk mencegah siswa untuk pacaran. Dan salah satu cara untuk mencegah siswa berpacaran adalah dengan memberikan edukasi kepada laki laki dan perempuan tentang rasa malu.
Edukasi tentang rasa malu ini dilakukan setiap Senin pagi jika memang siswa tidak melaksanakan diseminasi, dan pada saat keputrian siswi Al Ma’soem yang dilaksanakan pada hari jumat. Dalam keputrian ini, siswi diberikan edukasi khusus tentang pentingnya menjadi siswi muslimah agar mereka terhindar dari hal hal yang merugikan wanita salah satunya adalah pacaran. Karena pacaran yang sangat dirugikan adalah wanita, bagaimana tidak? Wanita adalah makhluk yang memang harus dijaga dengan baik, setiap inci tubuhnya adalah aurat. Aurat yang memang harus dijaga untuk mereka yang halal baginya. Bayangkan saja jika aurat itu diberikan atau diperlihatkan kepada mereka yang bukan muhrimnya, apakah itu bukan hal yang rugi? Pernah tidak terpikirkan bahwa anda sebagai wanita adalah makhluk yang memang sangat indah? Anda adalah bidadari bagi suami suami anda, lantas untuk apa anda memberikan itu kepada orang yang belum tentu menjadi jodoh anda kelak? Yuk stop pacaran. Al Ma’soem melarang karena memang merugikan anda para wanita muslimah. Karena Al Ma’soem memang menggunakan konsep budaya pesantren yang memegang mengajarkan 100% agama dan 100% pengetahuan umum, jadilah wanita muslimah yang memang benar benar menjadi bidadari dunia dan akhirat bagi mahrammu kelak.