Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran
Materi pelajaran yang panjang sering kali membuat siswa membutuhkan cara khusus agar informasi yang dipelajari tidak terasa terlalu banyak. Buku pelajaran, modul, hasil diskusi, artikel, maupun catatan guru dapat berisi berbagai informasi yang saling berkaitan. Jika seluruh bagian diperlakukan sebagai informasi yang sama penting, siswa bisa mengalami kesulitan ketika harus mengingat kembali isi materi.
Salah satu keterampilan yang dapat membantu menghadapi kondisi tersebut adalah kemampuan membuat ringkasan. Meringkas bukan sekadar memotong jumlah kalimat dari sebuah bacaan. Siswa perlu memahami isi materi terlebih dahulu, menemukan gagasan utama, memilih informasi yang mendukung, kemudian menyusunnya kembali menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Proses tersebut membuat kegiatan membaca menjadi lebih aktif.
Ketika mendapatkan materi yang terdiri dari banyak halaman, siswa dapat tergoda untuk menyalin hampir seluruh isi bacaan kemudian menyebutnya sebagai ringkasan. Padahal, ringkasan seharusnya membantu pembaca melihat inti informasi dengan lebih cepat. Karena itu, bagian pertama yang perlu dilakukan adalah memahami apa sebenarnya yang sedang dibahas.
Siswa dapat mulai dengan membaca keseluruhan materi secara bertahap. Setelah memahami gambaran umumnya, perhatian dapat diarahkan pada judul, subjudul, istilah penting, penjelasan utama, serta contoh yang benar-benar membantu memahami konsep. Tidak semua kalimat memiliki kedudukan yang sama. Ada informasi yang menjadi inti, sementara bagian lainnya berfungsi menjelaskan atau memberikan ilustrasi.
Kemampuan membedakan informasi utama dan informasi pendukung menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Misalnya, sebuah materi menjelaskan suatu proses yang terdiri dari beberapa tahap. Siswa tidak harus menyalin seluruh uraian panjang tentang proses tersebut. Mereka dapat mengambil tahapan utamanya, kemudian menambahkan keterangan yang dianggap penting agar urutannya tetap mudah dipahami.
Ringkasan yang baik biasanya diawali dengan kegiatan membaca yang memiliki tujuan. Siswa perlu mengetahui apakah mereka sedang mencari pengertian, proses, penyebab, akibat, perbandingan, contoh, atau beberapa unsur sekaligus. Tujuan membaca dapat membantu menentukan informasi mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
Pada pelajaran yang memiliki banyak istilah, misalnya, siswa dapat lebih dulu mencari definisi dan hubungan antara istilah tersebut. Pada materi sejarah, perhatian dapat diarahkan pada urutan peristiwa, tokoh, latar belakang, serta dampaknya. Sementara pada pelajaran sains, siswa mungkin perlu memperhatikan proses, hubungan sebab akibat, hasil pengamatan, dan konsep yang menjelaskan suatu fenomena.
Cara seperti ini membuat proses meringkas menjadi lebih terarah. Siswa tidak perlu menghafalkan seluruh kalimat dari sumber. Mereka belajar mencari struktur informasi di balik sebuah bacaan.
Materi yang panjang umumnya terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fokus berbeda. Karena itu, salah satu strategi yang dapat digunakan adalah menentukan gagasan utama dari setiap paragraf atau subbagian.
Siswa dapat mencoba menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Bagian ini sebenarnya menjelaskan apa?” Jika jawabannya sudah ditemukan, jawaban tersebut dapat ditulis menggunakan beberapa kata kunci. Setelah seluruh bagian memiliki kata kunci, siswa dapat melihat hubungan antargagasan tersebut.
Misalnya sebuah bacaan membahas lingkungan sekolah. Satu bagian menjelaskan kebersihan, bagian lain membahas pengelolaan sampah, kemudian ada pembahasan mengenai kebiasaan siswa. Ringkasan tidak harus mengulang seluruh uraian masing-masing bagian. Siswa dapat menyusunnya menjadi beberapa gagasan utama yang menunjukkan hubungan antara kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, dan kebiasaan warga sekolah.
Proses tersebut melatih kemampuan memahami struktur bacaan. Siswa tidak hanya mengetahui isi, tetapi juga memahami bagaimana satu informasi berhubungan dengan informasi lainnya.
Salah satu tanda bahwa siswa mulai memahami materi adalah kemampuan menjelaskan kembali menggunakan bahasa sendiri. Hal ini juga berlaku ketika membuat ringkasan.
Menyalin kalimat dari buku memang dapat membuat pekerjaan terlihat lebih cepat selesai. Namun, jika siswa belum memahami maknanya, ringkasan tersebut belum tentu membantu ketika digunakan untuk belajar kembali. Dengan menulis menggunakan bahasa sendiri, siswa perlu memastikan bahwa mereka benar-benar memahami informasi yang sedang diringkas.
Bahasa yang digunakan tidak harus terlalu sederhana hingga menghilangkan istilah penting. Istilah khusus tetap dapat dipertahankan apabila memang diperlukan. Yang dapat diubah adalah cara menjelaskan hubungan antarinformasi sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa yang membuat catatan tersebut.
Kebiasaan ini juga dapat membantu ketika siswa harus menjelaskan materi secara lisan. Ringkasan yang ditulis dengan pemahaman sendiri biasanya lebih mudah dikembangkan menjadi penjelasan daripada catatan yang seluruhnya berupa kutipan.
Ringkasan tidak selalu harus berbentuk paragraf. Siswa dapat memilih bentuk yang sesuai dengan karakter materi. Untuk materi yang menjelaskan tahapan, daftar bernomor dapat digunakan. Untuk materi yang memiliki hubungan antarkonsep, diagram sederhana dapat membantu. Sementara materi yang membandingkan dua hal dapat dirangkum menggunakan tabel.
Beberapa bentuk ringkasan yang dapat digunakan antara lain:
Kebebasan memilih bentuk membuat kegiatan meringkas tidak terasa seperti pekerjaan mekanis. Siswa dapat menyesuaikan cara mencatat dengan jenis informasi yang sedang dipelajari.
Kemampuan meringkas juga dapat berguna ketika siswa menghadapi materi yang semakin banyak menjelang ujian. Daripada membuka kembali seluruh halaman buku setiap kali ingin mengulang, siswa dapat menggunakan ringkasan sebagai peta awal untuk mengingat materi.
Namun, ringkasan tidak seharusnya menjadi satu-satunya bahan belajar. Jika terdapat konsep yang belum dipahami, siswa tetap perlu kembali kepada sumber yang lebih lengkap. Ringkasan berfungsi membantu menemukan bagian penting dengan lebih cepat, bukan menggantikan seluruh materi.
Siswa dapat membuat ringkasan secara bertahap sejak materi pertama kali dipelajari. Dengan demikian, menjelang ujian mereka tidak harus membuat catatan dalam jumlah besar sekaligus. Setiap bab dapat memiliki catatan inti yang kemudian diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada konsep penting yang tertinggal.
Pada jenjang SMP dan SMA, siswa dapat menemukan materi dari berbagai sumber. Selain buku, mereka mungkin menggunakan modul, hasil diskusi, artikel, atau bahan pembelajaran digital. Ketika beberapa sumber membahas topik yang sama, kemampuan meringkas membantu menyatukan informasi tersebut.
Siswa perlu memperhatikan apakah informasi dari sumber yang berbeda benar-benar membahas hal yang sama. Ada sumber yang memberikan definisi, sementara sumber lainnya memberikan contoh atau penjelasan tambahan. Dengan memahami fungsi masing-masing sumber, siswa dapat menyusun catatan yang lebih lengkap tanpa harus menyalin semuanya.
Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa mencari informasi bukan hanya tentang mengumpulkan sebanyak mungkin bahan. Informasi perlu dipahami, dipilah, dan disusun agar dapat digunakan secara efektif.
Keterampilan meringkas juga dapat muncul dalam kegiatan kelompok. Ketika beberapa siswa membaca bahan yang berbeda, setiap anggota dapat membuat ringkasan singkat dari bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Ringkasan tersebut kemudian dibagikan kepada anggota lain.
Cara ini dapat membuat proses kerja lebih teratur. Teman satu kelompok tidak perlu membaca seluruh sumber yang sama jika pembagian tugas memang memungkinkan. Namun, hasil ringkasan tetap perlu didiskusikan agar seluruh anggota memiliki pemahaman yang seragam terhadap materi.
Dari sini, siswa belajar bahwa ringkasan bukan hanya alat untuk belajar sendiri. Kemampuan memilih informasi penting juga dapat membantu seseorang menyampaikan bahan kepada orang lain dengan lebih efisien.
Setelah selesai menulis, ringkasan sebaiknya tidak langsung dianggap selesai. Siswa dapat membacanya kembali dan memeriksa apakah gagasan utama sudah tercantum, apakah ada informasi yang terlalu banyak, atau apakah ada bagian penting yang justru terlewat.
Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan mencoba menjelaskan materi hanya berdasarkan ringkasan tersebut. Jika siswa masih dapat memahami alur pembahasannya, berarti catatan tersebut cukup membantu. Jika ada bagian yang terasa membingungkan, mungkin perlu ditambahkan kata kunci atau penjelasan singkat.
Kebiasaan memeriksa kembali membuat siswa memahami bahwa kualitas catatan tidak hanya ditentukan oleh jumlah halaman. Catatan yang lebih singkat tetapi tepat sasaran dapat lebih berguna daripada catatan panjang yang sulit dibaca kembali.
Di lingkungan pendidikan seperti SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, kemampuan membuat ringkasan dapat menjadi salah satu keterampilan belajar yang berkembang melalui berbagai mata pelajaran dan aktivitas. Semakin sering siswa berlatih memilih informasi, memahami gagasan utama, dan menyusun kembali materi menggunakan bahasanya sendiri, semakin terbentuk pula kebiasaan belajar yang terarah. Kemampuan tersebut dapat digunakan bukan hanya ketika menghadapi buku pelajaran, tetapi juga saat membaca bahan diskusi, menyiapkan presentasi, mengerjakan proyek, maupun mempelajari informasi baru secara mandiri.