Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Menunda pekerjaan sekolah merupakan kebiasaan yang cukup mudah terjadi dalam kehidupan siswa. Tugas sebenarnya sudah diberikan beberapa hari sebelumnya, tetapi siswa merasa masih memiliki banyak waktu sehingga memilih mengerjakannya nanti. Ketika waktu pengumpulan semakin dekat, barulah muncul rasa terburu-buru untuk menyelesaikannya. Siklus seperti ini dapat terjadi berulang kali apabila siswa belum menemukan cara untuk mengatur kebiasaan belajarnya.
Menunda pekerjaan tidak selalu berarti siswa malas. Ada kalanya siswa menunda karena tugas terlihat terlalu sulit, tidak tahu harus memulai dari mana, merasa kurang tertarik dengan tugas tersebut, atau ingin mengerjakan ketika suasana hati sedang lebih baik. Namun, jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, pekerjaan sekolah dapat menumpuk dan membuat siswa merasa semakin terbebani. Karena itu, siswa perlu belajar mengenali penyebab dirinya sering menunda agar dapat menemukan cara yang sesuai untuk mengatasinya.
Setiap siswa dapat memiliki alasan yang berbeda ketika menunda tugas. Salah satu penyebab yang umum adalah menganggap sebuah pekerjaan masih terlalu jauh dari batas pengumpulan. Pikiran seperti “nanti saja, masih ada waktu” membuat siswa merasa belum perlu memulai. Padahal, semakin lama pekerjaan ditunda, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk memeriksa dan memperbaiki hasilnya.
Penyebab lainnya adalah tugas yang terasa terlalu besar. Ketika melihat banyak halaman yang harus dibaca atau pekerjaan yang memiliki beberapa tahap, siswa bisa merasa bingung untuk memulainya. Rasa bingung tersebut kemudian membuat siswa memilih melakukan kegiatan lain yang dianggap lebih mudah. Padahal, pekerjaan besar biasanya akan terasa lebih ringan jika dipecah menjadi beberapa langkah sederhana.
Salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan menunda adalah tidak terlalu memikirkan keseluruhan tugas sekaligus. Siswa dapat memulai dari bagian yang paling mudah. Misalnya, ketika mendapat tugas membuat presentasi, langkah pertama tidak harus langsung menyelesaikan seluruh isi. Siswa dapat membuka dokumen, menentukan judul, kemudian menuliskan beberapa gagasan awal.
Langkah kecil tersebut membantu menghilangkan hambatan untuk memulai. Setelah pekerjaan sudah berjalan, biasanya siswa akan lebih mudah melanjutkan bagian berikutnya. Yang penting bukan selalu menyelesaikan semuanya dalam satu waktu, tetapi membuat kemajuan secara bertahap.
Siswa juga dapat membuat target sederhana seperti:
Cara tersebut membuat tugas yang awalnya terlihat besar menjadi serangkaian pekerjaan yang lebih mudah dipahami.
Sebagian siswa merasa baru bisa mengerjakan tugas ketika sedang memiliki suasana hati yang bagus. Akibatnya, pekerjaan sering tertunda karena mood yang diharapkan tidak kunjung datang. Padahal, dalam kegiatan belajar, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan ketika seseorang sedang merasa sangat bersemangat.
Membiasakan diri untuk memulai meskipun motivasi belum terlalu tinggi dapat menjadi latihan penting. Siswa tidak perlu langsung belajar dalam waktu yang sangat lama. Cukup mulai dengan waktu singkat untuk membaca materi atau mengerjakan satu bagian tugas. Setelah terbiasa memulai, siswa dapat menemukan ritme belajar yang lebih nyaman.
Kebiasaan tersebut berbeda dengan memaksakan diri secara berlebihan. Siswa tetap perlu mengenali kondisi tubuh dan pikirannya. Ketika memang membutuhkan istirahat, beristirahat merupakan hal yang wajar. Yang perlu dihindari adalah menggunakan alasan “belum mood” setiap kali harus mengerjakan pekerjaan sekolah.
Batas waktu yang dibuat sendiri dapat membantu siswa menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat sebenarnya. Misalnya, tugas dikumpulkan pada hari Jumat, tetapi siswa menetapkan target pribadi untuk menyelesaikannya pada Kamis sore. Dengan cara ini, masih terdapat waktu untuk mengecek kembali pekerjaan apabila ditemukan kesalahan.
Target pribadi juga dapat dibuat lebih kecil. Jika sebuah tugas membutuhkan beberapa hari, siswa dapat menentukan bagian yang ingin diselesaikan setiap harinya. Tidak harus selalu dalam jumlah yang sama karena tingkat kesulitan pekerjaan dapat berbeda. Yang terpenting adalah adanya kemajuan yang jelas dari hari ke hari.
Kebiasaan ini dapat membuat siswa lebih sadar bahwa tenggat waktu bukan sesuatu yang perlu dikejar pada menit-menit terakhir. Mereka belajar memberikan ruang bagi proses pengerjaan, pemeriksaan, dan perbaikan.
Gangguan kecil dapat membuat pekerjaan yang sebenarnya sederhana membutuhkan waktu jauh lebih lama. Ketika sedang membaca materi, misalnya, siswa berhenti berkali-kali untuk melihat hal lain. Konsentrasi akhirnya terpecah dan pekerjaan menjadi sulit diselesaikan.
Karena itu, siswa dapat mencoba menciptakan kondisi belajar yang lebih mendukung. Meja belajar dapat dirapikan terlebih dahulu, perlengkapan yang dibutuhkan disiapkan, dan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tugas dijauhkan untuk sementara. Jika menggunakan perangkat digital untuk belajar, siswa juga dapat berusaha tetap berada pada aplikasi atau halaman yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Tujuannya bukan membuat suasana belajar benar-benar bebas dari semua gangguan, melainkan mengurangi gangguan yang sebenarnya dapat dikendalikan. Semakin sedikit hal yang menarik perhatian ketika sedang mengerjakan tugas, semakin mudah siswa mempertahankan fokus.
Teman dapat membantu siswa mengatasi kebiasaan menunda, terutama ketika mereka mempunyai tugas atau target yang sama. Siswa dapat saling mengingatkan tentang batas pengumpulan atau berdiskusi ketika menemukan bagian tugas yang belum dipahami. Interaksi seperti ini dapat membuat proses pengerjaan terasa lebih ringan.
Namun, bantuan teman sebaiknya tidak berubah menjadi ketergantungan. Siswa tetap perlu mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabnya sendiri. Teman dapat menjadi pengingat atau partner diskusi, tetapi keputusan untuk mulai mengerjakan tetap berasal dari diri sendiri.
Kebiasaan tersebut juga mengajarkan tanggung jawab. Siswa memahami bahwa tugas sekolah bukan hanya sesuatu yang harus selesai karena guru meminta, tetapi juga bagian dari latihan mengelola kewajiban secara mandiri.
Jika siswa sering menunda, mereka dapat mencoba melihat kembali kapan dan mengapa kebiasaan tersebut muncul. Apakah tugas biasanya ditunda karena terlalu sulit? Apakah siswa sering kehilangan waktu karena melakukan kegiatan lain? Atau justru karena instruksi tugas belum dipahami dengan baik?
Mengenali pola tersebut akan membantu siswa menentukan solusi yang lebih tepat. Jika masalahnya adalah tidak memahami instruksi, siswa dapat bertanya kepada guru. Jika tugas terasa terlalu besar, pekerjaan dapat dipecah menjadi beberapa bagian. Jika gangguan menjadi penyebab utama, siswa dapat mengatur lingkungan belajarnya.
Dengan cara ini, kesalahan dalam mengatur waktu tidak hanya menjadi pengalaman yang membuat siswa kecewa. Pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.
Kebiasaan mengatasi penundaan tidak selalu dapat dibentuk dalam waktu singkat. Siswa membutuhkan latihan yang konsisten dan lingkungan yang mendukung. Guru dapat membantu dengan memberikan instruksi yang jelas, mengingatkan tenggat secara proporsional, serta mendorong siswa memahami proses pengerjaan, bukan hanya hasil akhirnya.
Keluarga juga dapat memberikan dukungan dengan menciptakan suasana yang memungkinkan siswa mengerjakan tugas dengan tenang. Dukungan tidak harus berupa pengawasan terus-menerus. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan kapan dan bagaimana menyelesaikan tugas juga dapat menjadi latihan kemandirian.
Sekolah seperti Al Ma’soem Bandung dapat menjadi ruang bagi siswa untuk membangun kebiasaan tersebut melalui berbagai aktivitas akademik dan nonakademik. Semakin banyak pengalaman yang membuat siswa harus mengatur pekerjaan sendiri, semakin banyak pula kesempatan bagi mereka untuk belajar bertanggung jawab terhadap proses yang dijalani.
Mengatasi kebiasaan menunda bukan berarti siswa harus selalu produktif sepanjang hari. Justru yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus mulai dan bagaimana membuat pekerjaan bergerak secara bertahap. Tugas yang dikerjakan sedikit demi sedikit sering kali terasa lebih ringan dibandingkan pekerjaan yang sengaja dibiarkan sampai mendekati batas pengumpulan.
Ketika siswa mulai terbiasa menyelesaikan pekerjaan tanpa menunggu waktu terakhir, mereka dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengevaluasi hasilnya. Mereka juga tidak perlu menghadapi tekanan yang sama seperti ketika seluruh tugas dikerjakan dalam waktu singkat.
Kebiasaan sederhana untuk mulai mengerjakan hari ini, meskipun hanya satu bagian kecil, dapat menjadi langkah penting. Dari sana, siswa belajar bahwa menyelesaikan pekerjaan bukan hanya tentang mengejar tenggat, tetapi juga tentang membangun tanggung jawab dan kemandirian dalam menjalani kehidupan sekolah.