Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Dalam kehidupan sekolah, siswa tidak selalu setuju dengan semua keputusan, aturan, pembagian tugas, atau pendapat yang muncul dalam sebuah kegiatan. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena setiap siswa memiliki pengalaman, kebutuhan, dan cara berpikir yang berbeda. Namun, memiliki keberatan bukan berarti seseorang boleh menyampaikannya dengan cara yang kasar atau merendahkan orang lain. Siswa perlu belajar bahwa cara menyampaikan pendapat sama pentingnya dengan isi pendapat itu sendiri.
Kemampuan menyampaikan keberatan secara sopan dapat dilatih melalui berbagai situasi sederhana. Ketika pembagian tugas kelompok terasa kurang seimbang, ketika jadwal kegiatan berubah, ketika instruksi belum dipahami, atau ketika seorang siswa merasa ada keputusan yang perlu dipertimbangkan kembali, ia dapat menyampaikan pendapat tanpa membuat suasana menjadi tegang. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari keterampilan komunikasi yang berguna dalam kehidupan sekolah maupun di luar sekolah.
Di lingkungan pendidikan seperti Al Ma’soem Bandung, siswa berinteraksi dengan banyak orang dalam kegiatan akademik, organisasi, ekstrakurikuler, dan kehidupan pesantren. Semakin banyak interaksi yang dilakukan, semakin besar pula kemungkinan munculnya perbedaan pendapat. Karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan keberatan dengan jelas, tenang, dan tetap menghargai orang lain.
Ketika siswa menyampaikan keberatan, hal tersebut tidak selalu berarti ia menolak seluruh keputusan. Bisa saja siswa hanya ingin meminta penjelasan atau mengusulkan perubahan pada bagian tertentu. Misalnya, dalam kerja kelompok terdapat pembagian pekerjaan yang membuat satu anggota memiliki beban lebih banyak. Siswa dapat menyampaikan bahwa pembagian tersebut perlu ditinjau kembali tanpa menyatakan bahwa seluruh rencana kelompok tidak baik.
Perbedaan antara keberatan dan penolakan perlu dipahami sejak dini. Keberatan dapat menjadi bagian dari diskusi untuk mencari pilihan yang lebih baik. Sementara itu, penolakan yang disampaikan tanpa alasan dapat membuat pembicaraan berhenti sebelum persoalan dipahami.
Siswa dapat memulai dengan menjelaskan bagian yang menjadi perhatian. Kalimat seperti “Saya merasa bagian ini cukup berat kalau dikerjakan sendiri, apakah bisa dibagi?” akan lebih mudah diterima daripada pernyataan yang langsung menyalahkan anggota lain. Isi pembicaraannya tetap sama, tetapi cara penyampaiannya membuat ruang diskusi tetap terbuka.
Nada bicara, pilihan kata, dan waktu penyampaian dapat memengaruhi respons orang lain. Pendapat yang sebenarnya masuk akal dapat sulit diterima jika disampaikan ketika seseorang sedang marah atau menggunakan kata-kata yang menyerang. Karena itu, siswa perlu belajar mengatur emosi sebelum menyampaikan keberatan.
Bukan berarti siswa harus selalu menyembunyikan rasa tidak nyaman. Justru perasaan tersebut dapat disampaikan dengan cara yang lebih terarah. Siswa dapat menjelaskan apa yang membuatnya keberatan, mengapa hal tersebut menjadi masalah, dan apa yang menurutnya dapat menjadi solusi.
Beberapa hal sederhana yang dapat diperhatikan ketika menyampaikan keberatan adalah:
Kebiasaan tersebut membuat siswa belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mempertimbangkan bagaimana pesan diterima oleh orang lain.
Keberatan akan lebih mudah dipahami apabila disertai alasan. Ketika siswa mengatakan “Saya tidak mau” tanpa penjelasan, orang lain mungkin tidak mengetahui persoalan sebenarnya. Namun, jika siswa menjelaskan bahwa ia belum memahami instruksi atau merasa waktu pengerjaan terlalu singkat, pembicaraan dapat diarahkan pada masalah yang lebih konkret.
Alasan juga membantu siswa memeriksa kembali pendapatnya sendiri. Sebelum menyampaikan keberatan, ia dapat bertanya kepada dirinya apakah masalah tersebut memang penting, apakah informasinya sudah benar, dan apakah ada kemungkinan dirinya belum memahami situasi secara lengkap.
Proses tersebut melatih kemampuan berpikir sebelum berbicara. Siswa tidak sekadar bereaksi terhadap sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, tetapi belajar menyusun alasan berdasarkan keadaan yang sebenarnya.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam perbedaan pendapat adalah mengubah pembicaraan tentang masalah menjadi serangan terhadap pribadi. Misalnya, ketika seorang teman terlambat mengerjakan bagian tugas, siswa mengatakan bahwa temannya memang selalu malas. Pernyataan tersebut tidak membantu menyelesaikan masalah karena pembicaraan bergeser dari tugas yang terlambat menjadi penilaian terhadap karakter seseorang.
Siswa dapat belajar mengganti serangan pribadi dengan penjelasan mengenai kejadian. Daripada mengatakan “Kamu memang tidak bisa diandalkan”, ia dapat mengatakan bahwa bagian tugas belum selesai sesuai waktu yang telah disepakati dan hal tersebut membuat kelompok kesulitan menyusun hasil akhir.
Cara tersebut membuat persoalan lebih mudah diperbaiki. Teman yang menerima masukan juga dapat memahami perilaku mana yang perlu diperhatikan tanpa merasa seluruh dirinya sedang diserang.
Kerja kelompok menjadi salah satu tempat yang baik untuk melatih kemampuan ini. Setiap anggota memiliki kesempatan menyampaikan pendapat, tetapi keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan kepentingan bersama.
Jika siswa tidak setuju dengan ide teman, ia dapat menjelaskan alasan ketidaksetujuannya sekaligus memberikan alternatif. Misalnya, jika kelompok ingin menggunakan terlalu banyak materi dalam presentasi, seorang siswa dapat mengusulkan agar materi dipadatkan supaya waktu penyampaian tetap cukup.
Keberatan yang disertai solusi dapat membuat diskusi lebih produktif. Namun, siswa juga perlu siap menerima kemungkinan bahwa usulannya tidak dipilih. Menyampaikan pendapat bukan berarti pendapat tersebut harus selalu menjadi keputusan akhir.
Tidak semua keberatan akan menghasilkan perubahan. Setelah mendengarkan semua pendapat, kelompok atau guru dapat mengambil keputusan yang berbeda dari usulan seorang siswa. Dalam situasi tersebut, siswa perlu belajar menerima keputusan selama keputusan tersebut dibuat melalui proses yang wajar dan tidak melanggar aturan.
Menerima keputusan berbeda bukan berarti pendapat sebelumnya tidak berguna. Siswa sudah belajar menyampaikan pandangannya, mendengarkan alasan orang lain, dan memahami bahwa keputusan bersama terkadang tidak sesuai dengan pilihan pribadi.
Namun, ada situasi tertentu yang membutuhkan perhatian lebih serius. Jika keberatan berkaitan dengan keselamatan, perundungan, pelanggaran aturan, atau hal lain yang dapat merugikan seseorang, siswa sebaiknya tidak memilih diam hanya karena takut berbeda pendapat. Ia dapat menyampaikan persoalan kepada guru, pembina, atau pihak yang bertanggung jawab dengan cara yang tepat.
Waktu penyampaian juga dapat menentukan apakah keberatan akan dibahas dengan baik. Ketika suasana sedang sangat ramai atau seseorang sedang terburu-buru, pembicaraan mungkin tidak berjalan optimal. Siswa dapat menunggu waktu yang lebih sesuai atau meminta kesempatan untuk berbicara.
Dalam kegiatan sekolah, misalnya, perubahan teknis yang mendesak mungkin harus segera dibahas. Namun, evaluasi terhadap keputusan yang tidak mendesak dapat dilakukan setelah kegiatan selesai. Dengan memahami perbedaan tersebut, siswa belajar menentukan kapan harus berbicara segera dan kapan sebaiknya menunggu.
Pemilihan waktu bukan berarti menghindari persoalan. Justru hal tersebut menunjukkan bahwa siswa mempertimbangkan kondisi agar pembicaraan dapat berlangsung secara efektif.
Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang membuat siswa berani menyampaikan pendapat. Ketika siswa mengetahui bahwa pertanyaan atau keberatan dapat disampaikan dengan sopan, mereka akan lebih mudah belajar terbuka terhadap persoalan yang dihadapi.
Guru juga dapat mengajarkan perbedaan antara kritik terhadap pekerjaan dan serangan terhadap pribadi. Dalam diskusi kelas, misalnya, siswa dapat diarahkan untuk memberikan alasan ketika tidak setuju terhadap suatu pendapat. Dengan begitu, perbedaan tidak dianggap sebagai pertengkaran, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.
Dalam kegiatan pesantren maupun aktivitas sekolah lainnya, prinsip yang sama dapat diterapkan. Siswa belajar menyampaikan kebutuhan, kesulitan, atau keberatan kepada pihak yang tepat tanpa mengabaikan tata krama dan aturan yang berlaku.
Komunikasi yang sehat tidak berhenti setelah siswa menyampaikan keberatannya. Ia juga perlu mendengarkan tanggapan. Bisa saja pihak lain memiliki informasi yang sebelumnya belum diketahui atau memiliki alasan tertentu yang membuat sebuah keputusan diambil.
Kemampuan mendengar membuat siswa lebih terbuka terhadap kemungkinan bahwa pandangannya belum lengkap. Jika setelah mendengar penjelasan ternyata keberatan tersebut tidak lagi relevan, siswa dapat mengubah pendapatnya. Mengubah pendapat setelah mendapatkan informasi baru bukan tanda kelemahan, tetapi menunjukkan kemampuan berpikir secara terbuka.
Sebaliknya, jika keberatan masih memiliki alasan yang kuat, siswa dapat menyampaikannya kembali dengan cara yang tetap tenang. Dengan demikian, diskusi dapat berlangsung tanpa harus berubah menjadi perselisihan.
Belajar menyampaikan keberatan dengan sopan membantu siswa mengembangkan banyak kemampuan sekaligus. Mereka belajar mengenali perasaan, menyusun alasan, mengatur emosi, berbicara dengan jelas, mendengarkan orang lain, dan menerima hasil diskusi. Semua kemampuan tersebut tidak hanya berguna untuk tugas sekolah.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan bertemu dengan situasi ketika keinginannya berbeda dari keputusan orang lain. Kemampuan untuk menyampaikan keberatan tanpa merusak hubungan menjadi bekal penting dalam pertemanan, organisasi, keluarga, hingga lingkungan profesional.
Karena itu, siswa tidak perlu takut memiliki pendapat yang berbeda. Yang perlu dilatih adalah bagaimana pendapat tersebut disampaikan. Keberatan yang disampaikan dengan alasan yang jelas, bahasa yang santun, dan sikap terbuka dapat menjadi bagian dari komunikasi yang sehat. Dari kebiasaan sederhana tersebut, siswa belajar bahwa menghargai orang lain tidak berarti harus selalu setuju, tetapi mampu berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa hormat.