Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran
Ketika mendengar istilah “sekolah internasional”, sebagian orang tua langsung membayangkan pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, materi dari luar negeri, dan orientasi global yang sangat kuat.
Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan penting: jika anak belajar dengan standar internasional, apakah mereka akan semakin jauh dari budaya Indonesia?
Pertanyaan ini semakin relevan pada jenjang SMP. Remaja sedang berada pada tahap penting dalam pembentukan identitas. Mereka mulai mengenal dunia yang lebih luas, berinteraksi dengan berbagai perspektif, dan membangun pandangan tentang siapa diri mereka.
Pendidikan internasional seharusnya tidak membuat anak memilih antara menjadi “global” atau menjadi “Indonesia”.
Justru, pendidikan yang baik dapat membantu anak memiliki keduanya.
Memiliki global mindset berarti anak mampu memahami bahwa dunia terdiri dari berbagai budaya, bahasa, cara berpikir, dan kebiasaan.
Namun, memahami budaya lain tidak berarti harus meninggalkan budaya sendiri.
Seorang siswa dapat belajar bahasa Inggris dengan baik sekaligus tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan percaya diri.
Ia dapat mempelajari sains dengan standar internasional sambil memahami nilai-nilai sosial di lingkungan sekitarnya.
Ia dapat bepergian ke luar negeri sekaligus memahami sejarah dan budaya daerahnya.
Inilah konsep yang penting: global competence seharusnya dibangun di atas identitas yang kuat.
Dalam program Al Ma’soem International Class Lower Secondary, Cambridge Curriculum digunakan untuk Mathematics, Science, dan English. Program juga memiliki integrated syllabus serta interactive and purposeful learning activities.
Kehadiran Cambridge tidak berarti seluruh pengalaman belajar harus terlepas dari konteks Indonesia.
Matematika tetap dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Sains dapat dikaitkan dengan lingkungan sekitar.
Bahasa Inggris dapat digunakan untuk membuka akses kepada dunia internasional.
Dengan pendekatan kontekstual, siswa belajar bahwa pengetahuan internasional bukan sesuatu yang berdiri jauh dari kehidupan mereka.
Bahasa Inggris merupakan bagian penting dari pendidikan global.
Namun, kemampuan bahasa Inggris seharusnya menjadi tambahan kemampuan, bukan pengganti bahasa Indonesia.
Dalam program International Class terdapat Bilingual Instruction menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.
Pendekatan bilingual dapat membantu siswa berkembang dalam bahasa Inggris sambil tetap memiliki kemampuan memahami konsep melalui bahasa Indonesia.
Lebih luas lagi, bilingualisme dapat membantu anak memahami bahwa satu gagasan dapat disampaikan dengan cara berbeda dalam bahasa berbeda.
Ini merupakan kemampuan komunikasi yang sangat berharga.
Identitas budaya tidak hanya dibangun melalui mata pelajaran khusus tentang budaya.
Budaya dapat hadir dalam berbagai aktivitas.
Misalnya, ketika belajar seni, siswa dapat mengenal musik tradisional.
Ketika belajar sejarah, siswa dapat membahas perjalanan bangsa Indonesia.
Ketika belajar bahasa, siswa dapat membandingkan ungkapan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Ketika belajar sains, siswa dapat membahas lingkungan dan permasalahan lokal.
Dengan demikian, budaya tidak diposisikan sebagai materi yang terpisah dari pembelajaran modern.
Budaya menjadi bagian dari kehidupan belajar.
Program International Class juga mencantumkan Field Trip dan Free Annual Overseas Study Tour.
Keduanya dapat memiliki fungsi pendidikan yang berbeda.
Field trip dapat menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan lokal atau tempat tertentu secara langsung.
Sementara overseas study tour dapat memberikan pengalaman mengenal lingkungan internasional.
Jika keduanya dirancang dengan baik, siswa justru dapat belajar membandingkan.
Mereka dapat bertanya: apa yang sama? Apa yang berbeda? Mengapa perbedaan tersebut terjadi? Apa yang dapat kita pelajari?
Dengan cara tersebut, perjalanan internasional tidak hanya menjadi wisata.
Pendidikan internasional seharusnya tidak mengajarkan bahwa budaya luar lebih baik daripada budaya sendiri.
Yang perlu dibangun adalah kemampuan menghargai perbedaan.
Anak dapat belajar bahwa cara makan, cara berbicara, pakaian, tradisi, dan kebiasaan masyarakat dapat berbeda.
Perbedaan bukan sesuatu yang harus ditertawakan.
Perbedaan juga bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Sikap seperti ini sangat penting dalam kehidupan global.
Program Lower Secondary secara eksplisit menekankan English proficiency, academic excellence, dan strong moral values.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan internasional tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.
Nilai moral menjadi bagian penting.
Anak perlu memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus belajar menghormati orang lain, bertanggung jawab, menjaga kejujuran, dan memiliki kepedulian sosial.
Identitas anak tidak hanya dibentuk oleh bahasa atau budaya.
Karakter juga merupakan bagian besar dari identitas.
Ada risiko tertentu ketika anak terlalu banyak terpapar budaya luar tanpa mendapatkan fondasi budaya sendiri.
Anak mungkin mulai menganggap bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri lebih keren.
Sekolah dan keluarga perlu membantu anak membangun cara berpikir yang lebih kritis.
Anak dapat mengagumi teknologi dari negara lain tanpa menganggap Indonesia tidak mampu.
Anak dapat mempelajari bahasa Inggris tanpa merasa bahasa Indonesia kurang bernilai.
Anak dapat mengenal budaya luar tanpa merasa harus meninggalkan budayanya.
Sekolah tidak dapat menjadi satu-satunya tempat pembentukan identitas budaya.
Keluarga memiliki peran besar.
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang tradisi keluarga, makanan daerah, sejarah lokal, bahasa daerah, seni, musik, dan berbagai bentuk kebudayaan Indonesia.
Jika keluarga memiliki tradisi tertentu, anak dapat diajak memahami maknanya.
Dengan demikian, identitas budaya tidak hanya menjadi teori.
Anak mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari.
Remaja sering memiliki pertanyaan tentang identitas.
Mereka mungkin bertanya mengapa budaya tertentu berbeda.
Mereka mungkin membandingkan Indonesia dengan negara lain.
Orang tua tidak perlu takut dengan pertanyaan tersebut.
Justru, pertanyaan merupakan kesempatan untuk membangun pemikiran kritis.
Anak dapat belajar bahwa mencintai budaya sendiri tidak berarti menolak budaya lain.
Kurikulum internasional dapat menjadi jendela.
Melalui pembelajaran Mathematics, Science, dan English, siswa dapat mengenal cara belajar yang lebih luas.
Namun, jendela bukanlah rumah.
Rumah tetap menjadi tempat anak berakar.
Dalam konteks pendidikan, keluarga, bahasa, nilai moral, budaya, dan pengalaman lokal dapat menjadi “rumah” tersebut.
Dari fondasi itu, anak dapat melihat dunia dengan lebih percaya diri.
Tujuan pendidikan global bukan membuat semua anak menjadi sama.
Justru dunia membutuhkan individu yang memiliki identitas kuat dan mampu berkolaborasi dengan orang dari latar belakang berbeda.
Anak Indonesia dapat menjadi global citizen tanpa kehilangan identitas sebagai orang Indonesia.
Mereka dapat menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan dunia, lalu menggunakan kemampuan tersebut untuk memperkenalkan budaya sendiri.
Ini merupakan bentuk global mindset yang lebih sehat.
Penggabungan pendekatan internasional dengan konteks pendidikan Indonesia tidak harus menjadi ancaman terhadap identitas budaya anak.
Dalam program Al Ma’soem International Class Lower Secondary, penggunaan Cambridge Curriculum pada Mathematics, Science, dan English berjalan bersama Bilingual Instruction, integrated syllabus, kegiatan interaktif, serta penekanan pada strong moral values.
Ditambah pengalaman Field Trip dan Free Annual Overseas Study Tour, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat lingkungan lokal maupun internasional.
Kuncinya adalah bagaimana pengalaman tersebut diarahkan.
Anak tidak perlu memilih antara menjadi Indonesia dan menjadi global.
Mereka dapat menjadi keduanya.
Anak yang mengenal akar budayanya dengan baik justru memiliki modal yang lebih kuat untuk mengenal dunia tanpa kehilangan arah.