Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Internet membuat siswa dapat menemukan informasi dalam waktu yang sangat singkat. Materi pelajaran, video pembelajaran, berita, gambar, pendapat, hingga berbagai bentuk konten dapat ditemukan melalui perangkat digital. Kemudahan tersebut memberikan banyak peluang untuk belajar, tetapi juga membuat siswa perlu memiliki kemampuan untuk menentukan informasi mana yang dapat digunakan dan bagaimana informasi tersebut sebaiknya diperlakukan.
Karena itu, keterampilan digital tidak cukup jika hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan komputer atau menggunakan aplikasi. Siswa juga perlu memahami cara membaca informasi secara hati-hati, mengenali sumber, membedakan fakta dengan pendapat, serta mempertimbangkan dampak ketika membagikan sesuatu kepada orang lain.
Bagi lingkungan pendidikan seperti Al Ma’soem, kemampuan tersebut semakin relevan karena siswa SD, SMP, dan SMA berada pada tahap perkembangan yang berbeda dalam menggunakan teknologi. Pendekatan literasi digital dapat disesuaikan dengan usia sehingga teknologi tidak hanya menjadi alat untuk mengakses informasi, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan belajar yang bertanggung jawab.
Tidak semua informasi yang muncul di internet memiliki tingkat keakuratan yang sama. Ada informasi yang berasal dari sumber resmi, tulisan berdasarkan pengalaman pribadi, pendapat seseorang, hingga konten yang dibuat terutama untuk menarik perhatian.
Siswa yang terbiasa menerima informasi tanpa memeriksa sumber dapat mengalami kesulitan membedakan berbagai jenis informasi tersebut. Dalam kegiatan belajar, hal ini dapat memengaruhi kualitas tugas maupun pemahaman terhadap suatu materi.
Karena itu, siswa perlu mulai mengenal pertanyaan sederhana ketika menemukan informasi: siapa yang membuatnya, dari mana informasi tersebut berasal, kapan dibuat, dan apakah terdapat sumber lain yang dapat digunakan untuk membandingkannya.
Salah satu kemampuan penting dalam literasi digital adalah membedakan informasi yang dapat diverifikasi dengan pernyataan yang bersifat opini.
Misalnya, sebuah tulisan dapat menyatakan bahwa suatu metode belajar merupakan cara paling efektif. Pernyataan tersebut belum tentu merupakan fakta hanya karena ditulis dengan bahasa yang meyakinkan. Siswa perlu melihat apakah terdapat data, penelitian, atau sumber yang mendukung pernyataan tersebut.
Pada jenjang SD, konsep tersebut dapat diperkenalkan melalui contoh sederhana. Ketika memasuki SMP dan SMA, pembahasannya dapat berkembang menjadi kemampuan membandingkan sumber, memahami data, serta mengevaluasi argumen.
Sumber memberikan konteks mengenai asal sebuah informasi. Ketika siswa menemukan materi dari internet, mereka perlu mengetahui apakah informasi tersebut berasal dari institusi pendidikan, lembaga resmi, media, organisasi, atau sumber lain.
Tidak berarti sebuah informasi otomatis benar hanya karena berasal dari suatu lembaga. Siswa tetap perlu melihat isi, tanggal publikasi, konteks, dan bukti yang tersedia. Namun, mengenali sumber merupakan langkah awal yang penting dalam proses pemeriksaan informasi.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan ketika siswa mencari bahan untuk tugas sekolah. Daripada langsung menggunakan hasil pencarian pertama, mereka dapat membandingkan beberapa sumber dan menentukan informasi yang paling sesuai dengan kebutuhan tugas.
Membandingkan informasi dapat dilakukan melalui kegiatan belajar yang sederhana. Guru dapat memberikan dua sumber yang membahas topik serupa kemudian meminta siswa menemukan persamaan dan perbedaannya.
Siswa dapat melihat apakah kedua sumber menggunakan data yang sama, memiliki sudut pandang berbeda, atau memberikan informasi dengan tingkat kedalaman yang tidak sama. Dari sini, mereka mulai memahami bahwa satu topik dapat dijelaskan melalui beberapa sumber.
Pada jenjang yang lebih tinggi, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi pemeriksaan referensi dan penyusunan argumen berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemampuan menggunakan perangkat digital perlu berjalan bersama pemahaman mengenai tanggung jawab. Siswa tidak hanya perlu mengetahui cara mengakses dan membuat informasi, tetapi juga memahami bahwa tindakan di ruang digital dapat berdampak kepada orang lain.
Contohnya adalah penggunaan foto, tulisan, video, atau karya milik orang lain. Siswa perlu mengenal bahwa tidak semua materi yang ditemukan di internet dapat digunakan atau disebarkan tanpa memperhatikan sumber dan hak penggunaannya.
Begitu pula ketika berkomunikasi melalui media digital. Bahasa yang digunakan tetap perlu memperhatikan kesopanan dan konteks, meskipun komunikasi berlangsung melalui layar.
Banyak tugas siswa saat ini membutuhkan pencarian informasi. Mereka dapat menggunakan internet untuk mencari referensi, memahami materi tambahan, atau menemukan data yang berkaitan dengan topik pembelajaran.
Pada tahap ini, literasi digital dapat membantu siswa tidak sekadar menyalin informasi. Mereka perlu membaca, memahami, memilih bagian yang relevan, kemudian menyusun kembali informasi tersebut menggunakan pemahamannya sendiri.
Kebiasaan tersebut menjadi semakin penting ketika siswa memasuki SMP dan SMA. Tugas akademik dapat membutuhkan sumber yang lebih beragam sehingga kemampuan memilih dan mengolah informasi menjadi bagian dari proses belajar.
Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan penggunaan teknologi secara terarah. Di Al Ma’soem, pembelajaran komputer dan praktik dasar komputer tercantum dalam pengalaman belajar SD, sementara perkembangan kemampuan digital dapat terus berlanjut sesuai jenjang pendidikan siswa.
Penggunaan perangkat dalam kegiatan belajar dapat diarahkan bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk membangun kebiasaan mencari informasi dengan benar. Siswa dapat dibiasakan mencantumkan sumber, memeriksa informasi, dan tidak langsung mempercayai setiap konten yang ditemukan.
Pada tingkat SMP dan SMA, pembahasan dapat berkembang menjadi kemampuan menggunakan sumber digital untuk penelitian sederhana, presentasi, penyusunan karya, dan berbagai kebutuhan akademik lainnya.
Konten yang mengejutkan atau menarik secara emosional belum tentu merupakan informasi yang paling akurat. Judul yang berlebihan dapat membuat seseorang ingin langsung membaca atau membagikannya tanpa memeriksa isi.
Siswa perlu memahami bahwa tampilan sebuah informasi bukan bukti kebenarannya. Mereka dapat belajar berhenti sejenak sebelum menyebarkan sesuatu, membaca isi secara lengkap, dan memeriksa sumbernya.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu siswa menjadi pengguna informasi yang lebih cermat. Mereka tidak harus menjadi ahli teknologi untuk dapat bersikap kritis terhadap informasi digital.
Dahulu, buku dan guru menjadi sumber utama bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan. Saat ini, anak dapat menemukan berbagai informasi hanya dengan menggunakan perangkat digital.
Perubahan tersebut membuat peran sekolah tidak hanya menyampaikan informasi. Sekolah juga memiliki ruang untuk membantu siswa memahami bagaimana informasi diperoleh, diperiksa, digunakan, dan disampaikan kembali.
Bagi siswa Al Ma’soem, kemampuan tersebut dapat dikembangkan sesuai jenjang. Siswa SD dapat mulai mengenal sumber dan kebiasaan menggunakan teknologi secara tepat, siswa SMP dapat belajar membandingkan informasi, sedangkan siswa SMA dapat mengembangkan kemampuan riset dan evaluasi sumber secara lebih mendalam.
Kemampuan menggunakan teknologi akan terus berubah seiring perkembangan perangkat dan platform. Karena itu, mengajarkan satu aplikasi tertentu saja tidak cukup untuk mempersiapkan siswa menghadapi perubahan teknologi.
Kemampuan yang lebih mendasar adalah mengetahui cara belajar menggunakan teknologi, mencari informasi, mengevaluasi sumber, menjaga etika, dan menggunakan perangkat untuk tujuan yang produktif. Keterampilan tersebut dapat digunakan meskipun teknologi yang dipakai siswa nantinya berubah.
Di lingkungan Al Ma’soem, literasi digital dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang melengkapi pembelajaran akademik. Dari kemampuan dasar menggunakan komputer hingga kemampuan menilai informasi, siswa memiliki kesempatan untuk memahami bahwa kecakapan digital bukan hanya soal bisa menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya dengan tepat, kritis, dan bertanggung jawab.