Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Perkataan merupakan bagian penting dari kehidupan siswa di sekolah. Setiap hari, anak berbicara dengan guru, teman, maupun orang lain dalam berbagai situasi. Percakapan tersebut dapat menjadi sarana untuk belajar, membangun pertemanan, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan masalah. Namun, perkataan juga dapat menimbulkan masalah ketika disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain.
Dalam pendidikan Islam, menjaga lisan merupakan salah satu nilai akhlak yang penting dikenalkan kepada anak. Menjaga lisan bukan berarti siswa harus selalu diam atau takut menyampaikan pendapat. Justru, anak perlu belajar menggunakan perkataan secara tepat, jujur, sopan, dan bertanggung jawab.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan bahasa dan kemampuan sosial anak berlangsung secara bertahap. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikan sesuatu, serta bagaimana mempertimbangkan dampak perkataannya terhadap orang lain.
Menjaga lisan dapat dipahami sebagai kemampuan mengendalikan perkataan agar tidak digunakan untuk menyakiti, menghina, menyebarkan keburukan, atau merugikan orang lain. Dalam ajaran Islam, perkataan memiliki tanggung jawab moral sehingga seseorang dianjurkan untuk berbicara dengan baik.
Bagi siswa, konsep tersebut dapat diterapkan dalam situasi sederhana. Misalnya, ketika tidak menyukai hasil pekerjaan teman, anak dapat memberikan pendapat dengan cara yang sopan. Ketika merasa kecewa, anak dapat menyampaikan perasaannya tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan.
Dengan begitu, menjaga lisan bukan sekadar aturan tentang kata yang boleh atau tidak boleh diucapkan. Anak juga belajar memahami bahwa cara menyampaikan sesuatu dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain.
Anak masih mengembangkan kemampuan pengendalian diri. Mereka terkadang mengatakan sesuatu secara spontan sebelum mempertimbangkan akibatnya. Hal tersebut dapat menjadi bagian dari proses perkembangan yang kemudian perlu diarahkan melalui pendidikan.
Guru dapat mengajarkan kebiasaan sederhana berupa berhenti sejenak sebelum berbicara. Anak dapat belajar mempertimbangkan apakah perkataannya benar, perlu disampaikan, dan disampaikan dengan cara yang tepat.
Misalnya, ketika seorang siswa melihat temannya melakukan kesalahan, ia tidak perlu langsung menertawakan atau mengomentarinya di depan banyak orang. Ia dapat memilih cara yang lebih baik, seperti memberikan bantuan atau menyampaikan saran secara pribadi.
Kebiasaan berpikir sebelum berbicara dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mengendalikan respons dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain.
Pendidikan tentang menjaga lisan perlu dibedakan dari larangan untuk berbicara. Anak tetap perlu memiliki kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pendapat, tidak setuju, dan mengungkapkan perasaan.
Yang perlu dipelajari adalah bagaimana menyampaikan hal tersebut dengan cara yang tepat.
Contohnya, siswa boleh mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pendapat teman. Namun, ketidaksetujuan tersebut dapat disampaikan dengan alasan yang jelas tanpa mengejek pribadi orang yang memiliki pendapat berbeda.
Dengan demikian, pendidikan menjaga lisan justru dapat mendukung kemampuan komunikasi yang sehat. Anak belajar bahwa kebebasan berbicara juga disertai tanggung jawab.
Al-Qur’an memberikan banyak perhatian terhadap cara manusia berbicara. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 70, orang-orang beriman diperintahkan untuk berkata dengan perkataan yang benar. Prinsip tersebut dapat dikenalkan kepada siswa melalui contoh yang dekat dengan kehidupan mereka.
Berbicara benar berarti tidak sengaja menyampaikan informasi palsu atau mengubah cerita untuk merugikan orang lain. Anak dapat belajar bahwa kejujuran tidak hanya berkaitan dengan tindakan, tetapi juga dengan perkataan.
Selain itu, dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, umat Islam diingatkan agar tidak saling mengolok-olok. Nilai tersebut relevan dalam kehidupan sekolah karena candaan yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.
Anak sering menggunakan candaan dalam berinteraksi dengan teman. Candaan dapat menjadi bagian dari hubungan pertemanan, tetapi perlu dipahami bahwa tidak semua candaan dapat diterima oleh setiap orang.
Sebuah perkataan yang berkaitan dengan kekurangan, kondisi pribadi, atau sesuatu yang membuat seseorang merasa malu dapat memberikan dampak yang tidak menyenangkan meskipun pembicara menganggapnya sebagai lelucon.
Guru dapat membantu siswa memahami perbedaan tersebut melalui contoh situasi. Anak dapat diajak bertanya apakah sebuah candaan membuat semua pihak nyaman atau justru membuat seseorang merasa dipermalukan.
Pembelajaran ini membantu anak mengembangkan kepekaan sosial tanpa harus membuat mereka takut untuk bercanda atau berinteraksi.
Guru menjadi salah satu figur yang diamati siswa dalam kehidupan sekolah. Cara guru berbicara, memberikan koreksi, dan merespons kesalahan dapat menjadi contoh bagi anak.
Ketika guru memberikan teguran dengan bahasa yang tegas tetapi tetap menghargai siswa, anak dapat melihat bahwa koreksi tidak harus dilakukan dengan kata-kata yang merendahkan.
Guru juga dapat menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dapat dibicarakan tanpa saling menyerang. Dari situ, siswa memperoleh pengalaman bahwa komunikasi yang baik membutuhkan pengendalian diri.
Keteladanan seperti ini sejalan dengan prinsip pembelajaran melalui pengamatan. Anak tidak hanya memperoleh pengetahuan dari penjelasan, tetapi juga dapat mempelajari perilaku melalui contoh yang mereka lihat.
Ketika terjadi perkataan yang menyakiti antarsiswa, sekolah dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk memberikan pembelajaran. Anak perlu memahami apa yang terjadi, mengapa perkataan tersebut tidak tepat, dan bagaimana memperbaiki situasi.
Pendekatan tersebut lebih mendidik daripada sekadar memberikan hukuman tanpa penjelasan. Siswa dapat belajar mengenali dampak perkataan dan memahami bahwa kebebasan berbicara memiliki batas ketika mulai merugikan orang lain.
Jika perkataan tersebut sudah menjadi bagian dari tindakan perundungan atau dilakukan berulang kali untuk menyakiti seseorang, sekolah perlu mengambil langkah perlindungan yang sesuai dan melibatkan orang dewasa yang bertanggung jawab.
Kemampuan menjaga lisan juga dapat diterapkan ketika anak memberikan kritik. Kritik tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Dalam proses belajar, siswa justru perlu belajar memberikan masukan agar pekerjaan dapat diperbaiki.
Namun, kritik sebaiknya diarahkan pada tindakan atau hasil pekerjaan, bukan menyerang pribadi seseorang.
Sebagai contoh, daripada mengatakan bahwa pekerjaan teman “jelek”, siswa dapat menjelaskan bagian mana yang masih dapat diperbaiki dan memberikan alasan. Cara tersebut membuat kritik menjadi lebih bermanfaat.
Anak kemudian belajar bahwa berbicara dengan baik bukan berarti selalu mengatakan sesuatu yang menyenangkan. Terkadang, perkataan yang jujur dan membangun justru diperlukan.
Pembelajaran menjaga lisan juga perlu diperkuat melalui keluarga. Anak dapat mengamati bagaimana orang tua berbicara kepada anggota keluarga, tetangga, maupun orang lain.
Orang tua dapat membantu anak mengevaluasi pengalaman komunikasi yang mereka alami di sekolah. Ketika anak bercerita tentang konflik dengan teman, orang tua dapat mengajak mereka memahami apa yang dikatakan dan bagaimana cara yang lebih baik untuk menyampaikan perasaan.
Kebiasaan berdiskusi seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa emosi boleh dirasakan dan disampaikan, tetapi cara menyampaikannya tetap perlu diperhatikan.
Menjaga lisan merupakan nilai pendidikan Islam yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Anak dapat menerapkannya ketika berbicara dengan guru, berdiskusi dengan teman, memberikan kritik, bercanda, maupun menghadapi perbedaan pendapat.
Melalui pembiasaan dan keteladanan, siswa dapat belajar bahwa perkataan bukan sekadar suara yang keluar dalam percakapan. Setiap perkataan dapat memengaruhi perasaan dan hubungan dengan orang lain.
Karena itu, pendidikan Islam dapat membantu anak memahami bahwa berbicara dengan benar, sopan, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari akhlak. Anak tetap dapat memiliki suara dan menyampaikan pendapat, tetapi belajar menggunakan perkataannya dengan pertimbangan yang baik.