PSAM (2)

Bagaimana Pembiasaan Shalat Wajib Berjamaah dan Dhuha Bersama Membina Kedisiplinan di SMP Al Ma’soem?

Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana sekolah membentuk kebiasaan dan karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu karakter penting yang perlu ditanamkan sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah kedisiplinan. Disiplin bukan sekadar datang ke sekolah tepat waktu atau menyelesaikan tugas sesuai batas yang ditentukan, tetapi juga kemampuan untuk menjalankan kewajiban secara konsisten, teratur, dan bertanggung jawab.

SMP Al Ma’soem menjadikan pembentukan karakter sebagai bagian dari proses pendidikan. Dalam program Tahun Ajaran 2027–2028, SMP Al Ma’soem mengusung konsep Future Skills dan memiliki arah pembentukan generasi yang CAGEUR, BAGEUR, dan PINTER. CAGEUR dimaknai sebagai takwa, disiplin, dan tangguh; BAGEUR sebagai akhlak, jujur, dan manfaat; sedangkan PINTER berarti cerdas, adaptif, dan mandiri.

Salah satu kegiatan yang mendukung pembentukan karakter tersebut adalah pembiasaan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama. Dalam informasi resmi program SMP Al Ma’soem, kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Tahfidz & Ibadah, bersama dengan program Tahfidz minimal 3 juz.

Shalat Berjamaah sebagai Pembiasaan yang Teratur

Kedisiplinan pada dasarnya tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Ketika seorang siswa terbiasa mengikuti kegiatan pada waktu yang telah ditentukan, ia belajar memahami bahwa setiap aktivitas mempunyai waktu dan aturan yang perlu dihormati.

Shalat wajib berjamaah dapat menjadi salah satu bentuk pembiasaan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya mengarahkan siswa untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga membangun keteraturan dalam menjalani aktivitas harian di lingkungan sekolah. Siswa belajar menyesuaikan kegiatan dengan waktu ibadah dan mengikuti pelaksanaan shalat secara bersama-sama.

Pembiasaan seperti ini dapat membantu siswa memahami pentingnya konsistensi. Kedisiplinan tidak dibangun hanya melalui nasihat, melainkan melalui aktivitas yang dilakukan secara rutin. Dengan mengikuti kegiatan ibadah secara teratur, siswa memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana sebuah kewajiban dijalankan secara konsisten.

Di lingkungan pendidikan, kebiasaan tersebut juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter. Program SMP Al Ma’soem secara khusus menempatkan takwa dan disiplin sebagai bagian dari karakter CAGEUR, sehingga kegiatan ibadah memiliki keterkaitan dengan tujuan pembentukan karakter siswa.

Dhuha Bersama Membentuk Kebiasaan Positif

Selain shalat wajib berjamaah, SMP Al Ma’soem juga mencantumkan Dhuha bersama sebagai bagian dari program Tahfidz & Ibadah.

Pembiasaan shalat Dhuha bersama dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk memulai aktivitas dengan kebiasaan ibadah yang dilakukan secara teratur. Karena dilakukan bersama dalam lingkungan sekolah, siswa tidak hanya menjalankan aktivitas secara individual, tetapi juga belajar mengikuti kegiatan yang telah menjadi bagian dari budaya sekolah.

Kebiasaan tersebut dapat mengajarkan bahwa kedisiplinan membutuhkan kesediaan untuk melakukan sesuatu secara konsisten meskipun aktivitas tersebut dilakukan berulang kali. Dalam konteks pendidikan karakter, pengulangan menjadi penting karena sebuah nilai dapat lebih mudah diterapkan ketika telah menjadi kebiasaan.

Dengan demikian, shalat Dhuha bersama bukan hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari pembiasaan ibadah yang mendukung tujuan pendidikan karakter di SMP Al Ma’soem.

Disiplin Tidak Hanya Berarti Patuh terhadap Aturan

Salah satu hal penting dalam membangun kedisiplinan adalah memahami bahwa disiplin tidak identik dengan hukuman. Disiplin juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan menjalankan tanggung jawab.

Hal ini sejalan dengan pendekatan SMP Al Ma’soem yang menerapkan sistem point dan secara tegas menyatakan tidak menggunakan sanksi fisik. Ketentuan tersebut menjadi bagian dari sistem pembinaan siswa di sekolah.

Dalam konteks pembiasaan ibadah, siswa diarahkan untuk mengenal tanggung jawab melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin. Ketika kegiatan shalat berjamaah dan Dhuha bersama telah menjadi bagian dari aktivitas sekolah, siswa mendapatkan pengalaman untuk mengikuti jadwal, menjaga keteraturan, dan menjalankan kewajiban.

Dari sini, disiplin dapat dipahami bukan sekadar takut terhadap konsekuensi ketika melanggar aturan. Lebih jauh, siswa diharapkan terbiasa menjalankan sesuatu karena memahami bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawabnya.

Lingkungan Sekolah Mendukung Pembentukan Kebiasaan

Pembiasaan akan lebih mudah dilakukan apabila lingkungan sekolah menyediakan fasilitas dan suasana yang mendukung. SMP Al Ma’soem mencantumkan masjid sebagai salah satu fasilitas sekolah, selain berbagai fasilitas lain seperti ruang konselor, ruang seminar, ruang multimedia, sarana olahraga, laboratorium, dan klinik.

Keberadaan masjid menjadi bagian penting dalam mendukung kegiatan ibadah di lingkungan sekolah. Dengan adanya fasilitas tersebut, kegiatan keagamaan dapat menjadi bagian dari kehidupan sekolah dan tidak berdiri terpisah dari aktivitas pendidikan lainnya.

Selain itu, SMP Al Ma’soem juga memiliki pembelajaran pesantren yang mencakup Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.

Materi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan di Al Ma’soem tidak hanya berfokus pada satu kegiatan. Program ibadah berjalan berdampingan dengan pembelajaran yang berkaitan dengan Al-Qur’an, tahfidz, fiqih ibadah, serta akhlak. Dengan demikian, pembiasaan shalat dapat ditempatkan dalam lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Kedisiplinan sebagai Bagian dari Karakter CAGEUR

Konsep CAGEUR di SMP Al Ma’soem memiliki makna Takwa, Disiplin dan Tangguh. Artinya, disiplin ditempatkan bersama nilai ketakwaan dan ketangguhan sebagai karakter yang ingin dibentuk pada siswa.

Dalam kerangka tersebut, pembiasaan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama dapat dilihat sebagai salah satu kegiatan yang mendukung pembentukan karakter takwa sekaligus kedisiplinan. Kegiatan ibadah yang dilaksanakan secara rutin memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menjalankan aktivitas secara teratur.

Kedisiplinan yang terbentuk dari kebiasaan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi aktivitas lain di sekolah. Misalnya, siswa terbiasa memperhatikan jadwal, mengikuti kegiatan yang telah ditentukan, serta menyelesaikan tanggung jawab sesuai ketentuan.

SMP Al Ma’soem sendiri menerapkan berbagai kegiatan untuk mendukung perkembangan siswa. Selain program Tahfidz dan ibadah, terdapat ekstrakurikuler yang variatif dengan ketentuan siswa wajib memilih minimal satu ekstrakurikuler. Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan kokurikuler seperti Math Day, Cooking Day, Expression Day, Moeslim Day dan Manasik Haji, Sains Day, Sport Day, Independence Day, Batik Day, English Day, Career Day, serta Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda.

Keberagaman kegiatan tersebut membuat pembentukan kedisiplinan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran di kelas. Siswa juga mendapatkan pengalaman menjalankan berbagai kegiatan dengan aturan dan jadwal yang berbeda.

Dari Kebiasaan Menjadi Karakter

Karakter tidak terbentuk dalam waktu singkat. Diperlukan proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Hal inilah yang membuat kegiatan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama memiliki posisi penting dalam program pendidikan karakter.

Ketika siswa terbiasa menjalankan ibadah secara rutin di lingkungan sekolah, mereka mendapatkan pengalaman mengenai keteraturan, tanggung jawab, dan konsistensi. Pengalaman tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang lebih luas.

Pada jenjang SMP, proses ini menjadi relevan karena siswa sedang berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan arahan sekaligus pembiasaan. Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar mengelola waktu, mengikuti aturan, dan membangun tanggung jawab pribadi.

Dengan konsep Future Skills, SMP Al Ma’soem juga tidak hanya menempatkan siswa pada aspek akademik. Program sekolah mencakup Kurikulum Holistik, Kelas Internasional, Program Tahfidz dengan konsep Ziyadah dan Mutqin, 10 kokurikuler, peminatan olimpiade, serta beasiswa akademik dan nonakademik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan siswa diarahkan melalui berbagai aspek. Pembentukan karakter melalui pembiasaan ibadah menjadi salah satu bagian yang melengkapi kegiatan akademik dan pengembangan potensi siswa.

Pembiasaan Ibadah untuk Mendukung Kedisiplinan Siswa

Pada akhirnya, pembiasaan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama di SMP Al Ma’soem dapat dipahami sebagai bagian dari pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan ibadah dan pembentukan karakter. Program tersebut secara langsung tercantum dalam bagian Tahfidz & Ibadah, bersama program Tahfidz minimal 3 juz.

Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin, siswa mendapatkan pengalaman untuk menjalankan kewajiban secara teratur. Nilai kedisiplinan kemudian tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi diperkenalkan melalui aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian siswa di sekolah.

Keterkaitan antara ibadah dan kedisiplinan juga tercermin dalam karakter CAGEUR, yaitu takwa, disiplin, dan tangguh. Dengan demikian, pembiasaan shalat berjamaah dan Dhuha bersama menjadi salah satu cara SMP Al Ma’soem mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan pembentukan karakter.

Pada akhirnya, tujuan dari pembiasaan tersebut bukan hanya agar siswa mengetahui pentingnya disiplin, tetapi agar mereka memiliki pengalaman menjalankan keteraturan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan lingkungan sekolah, fasilitas masjid, pembelajaran pesantren, serta berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, pembentukan karakter diharapkan menjadi bagian dari pengalaman pendidikan siswa secara menyeluruh.