Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Kemampuan belajar anak tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak informasi yang dapat diingat. Ada kemampuan lain yang bekerja di balik proses belajar, seperti mengatur perhatian, mengingat instruksi, mengendalikan respons, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas secara bertahap. Kemampuan-kemampuan tersebut berkaitan dengan fungsi eksekutif atau executive function.
Fungsi eksekutif merupakan sekumpulan proses kognitif yang membantu seseorang mengatur pikiran dan perilaku untuk mencapai tujuan. Dalam kehidupan sekolah, kemampuan ini digunakan ketika anak mengikuti instruksi guru, berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, menyelesaikan tugas, menunggu giliran, mengatur perlengkapan, hingga memeriksa kembali pekerjaan.
Karena itu, lingkungan pendidikan memiliki kesempatan besar untuk membantu perkembangan fungsi eksekutif melalui kegiatan sehari-hari. Pembelajaran tidak harus selalu berupa latihan khusus. Rutinitas, tugas, permainan, aktivitas kelompok, dan berbagai kegiatan terstruktur dapat menjadi pengalaman yang melatih kemampuan tersebut.
Secara umum, fungsi eksekutif mencakup beberapa kemampuan utama. Salah satunya adalah working memory, yaitu kemampuan menyimpan informasi sementara dan menggunakannya ketika menyelesaikan suatu tugas.
Contohnya, ketika anak mendapatkan beberapa instruksi sekaligus, mereka perlu mengingat langkah-langkah tersebut sambil mengerjakannya. Kemampuan lain adalah pengendalian diri atau inhibitory control, yaitu kemampuan menahan respons yang tidak sesuai dengan situasi.
Ada pula fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan menyesuaikan cara berpikir ketika menghadapi perubahan aturan, strategi, atau kondisi. Ketiga kemampuan dasar ini kemudian mendukung keterampilan yang lebih kompleks seperti perencanaan, pemecahan masalah, dan pengaturan diri.
Fungsi eksekutif berkembang secara bertahap sejak masa kanak-kanak dan terus mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia serta pengalaman.
Banyak aktivitas belajar membutuhkan kemampuan untuk mengatur diri. Seseorang mungkin memahami materi pelajaran, tetapi tetap mengalami kesulitan jika tidak mampu mengatur perhatian atau menyelesaikan pekerjaan secara terstruktur.
Misalnya, mengerjakan tugas yang terdiri dari beberapa bagian membutuhkan kemampuan mengingat instruksi, menentukan urutan pekerjaan, mengalokasikan waktu, dan mempertahankan perhatian sampai tugas selesai.
Artinya, pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai suatu mata pelajaran. Pendidikan juga menyediakan berbagai pengalaman yang dapat melatih kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara teratur.
Hal ini membuat pengembangan fungsi eksekutif relevan dalam pendidikan dasar karena pada tahap ini anak sedang membangun berbagai kebiasaan belajar dan kemampuan mengatur dirinya.
Rutinitas yang konsisten dapat memberikan struktur bagi anak. Ketika terdapat urutan kegiatan yang dapat dipahami, anak memiliki kesempatan untuk belajar memperkirakan apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Misalnya, anak belajar menyiapkan perlengkapan sebelum pembelajaran, mengikuti kegiatan, merapikan kembali barang setelah digunakan, kemudian berpindah ke aktivitas berikutnya.
Rutinitas seperti ini terlihat sederhana, tetapi melibatkan berbagai proses mental. Anak perlu mengingat urutan, mengarahkan perhatian, dan menyelesaikan satu aktivitas sebelum melanjutkan ke aktivitas lainnya.
Dalam lingkungan sekolah seperti Yayasan Al Ma’soem Bandung yang memiliki berbagai jenjang dan aktivitas pendidikan, rutinitas dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar sehari-hari. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan setiap jenjang.
Tugas yang cukup kompleks dapat dipecah menjadi beberapa tahapan. Cara ini membantu anak memahami bahwa suatu pekerjaan tidak selalu harus diselesaikan sekaligus.
Misalnya, sebuah tugas dapat dimulai dengan memahami instruksi, mengumpulkan informasi, mengerjakan bagian utama, memeriksa hasil, kemudian menyelesaikannya. Setiap tahap memberikan kesempatan untuk melatih perencanaan dan pemantauan diri.
Guru dapat mengajarkan anak untuk bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu?” atau “Apa yang masih belum selesai?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membentuk kebiasaan melakukan perencanaan sebelum bertindak.
Permainan yang memiliki aturan dapat memberikan pengalaman untuk melatih fungsi eksekutif. Anak perlu mengingat aturan, menunggu giliran, menyesuaikan strategi, dan mengendalikan keinginan untuk langsung bertindak.
Permainan dengan aturan yang berubah juga dapat melatih fleksibilitas kognitif. Ketika aturan baru diperkenalkan, anak perlu menyesuaikan pemahaman dan perilakunya.
Karena itu, aktivitas bermain yang dirancang dengan tujuan pendidikan dapat memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Anak mendapatkan pengalaman kognitif dan sosial secara bersamaan.
Yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesulitan permainan harus sesuai dengan perkembangan anak. Tantangan yang terlalu mudah mungkin kurang memberikan stimulasi, sedangkan aturan yang terlalu kompleks dapat membuat anak kesulitan mengikuti kegiatan.
Aktivitas fisik juga dapat berkaitan dengan kemampuan pengaturan diri. Dalam permainan olahraga, seseorang perlu memperhatikan instruksi, mengikuti aturan, mengingat strategi, dan menyesuaikan tindakan berdasarkan situasi.
Misalnya, permainan beregu membutuhkan perhatian terhadap posisi anggota kelompok dan perubahan kondisi permainan. Seseorang tidak hanya perlu melakukan gerakan fisik, tetapi juga mengambil keputusan berdasarkan situasi yang sedang berlangsung.
Inilah salah satu alasan mengapa kegiatan fisik dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang lebih luas. Aktivitas tersebut dapat memberikan kesempatan untuk melatih aspek fisik sekaligus kemampuan kognitif dan sosial.
Guru dapat memberikan dukungan secara bertahap. Pada awalnya, anak mungkin membutuhkan instruksi yang lebih jelas dan terstruktur. Setelah mulai terbiasa, bantuan dapat dikurangi agar anak memiliki kesempatan untuk mengatur pekerjaannya sendiri.
Contohnya, guru dapat terlebih dahulu memberikan daftar langkah yang harus dilakukan. Setelah beberapa kali latihan, anak dapat diminta membuat urutan langkahnya sendiri.
Pendekatan ini membantu membangun scaffolding, yaitu dukungan sementara yang diberikan sampai seseorang mampu melakukan tugas dengan lebih mandiri.
Dengan demikian, tujuan pembelajaran bukan membuat anak selalu bergantung pada instruksi, tetapi secara bertahap membantu mereka mengembangkan kemampuan mengatur proses belajarnya sendiri.
Struktur memang penting, tetapi lingkungan pendidikan juga perlu memberikan ruang untuk fleksibilitas. Anak perlu belajar bahwa tidak semua situasi berjalan sesuai rencana.
Ketika jadwal berubah, aturan kegiatan disesuaikan, atau suatu tugas membutuhkan strategi berbeda, anak dapat memperoleh kesempatan untuk melatih fleksibilitas kognitif.
Guru dapat menjelaskan perubahan secara sederhana dan membantu anak memahami apa yang perlu dilakukan. Dengan demikian, perubahan tidak hanya dianggap sebagai gangguan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar beradaptasi.
Lingkungan pendidikan yang memiliki beragam kegiatan dan jenjang dapat memberikan banyak kesempatan untuk mengembangkan fungsi eksekutif. Aktivitas pembelajaran, kegiatan organisasi, olahraga, seni, kegiatan keagamaan, hingga berbagai pengalaman di lingkungan sekolah dapat memberikan tantangan yang berbeda.
Setiap aktivitas dapat melatih kemampuan yang berbeda pula. Kegiatan yang membutuhkan perencanaan dapat melatih pengaturan diri, permainan dengan aturan dapat melatih pengendalian respons, sedangkan aktivitas yang membutuhkan perubahan strategi dapat melatih fleksibilitas berpikir.
Dalam konteks pendidikan di Yayasan Al Ma’soem Bandung, berbagai pengalaman tersebut dapat dipandang bukan hanya sebagai aktivitas tambahan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang mendukung proses belajar dalam jangka panjang.
Perkembangan fungsi eksekutif berlangsung secara bertahap. Karena itu, kemampuan mengatur perhatian, mengingat instruksi, merencanakan pekerjaan, dan mengendalikan respons tidak selalu muncul dengan tingkat yang sama pada setiap anak.
Pendampingan perlu diberikan sesuai perkembangan masing-masing. Anak yang masih membutuhkan pengingat bukan berarti tidak mampu berkembang. Justru melalui latihan yang konsisten dan dukungan yang tepat, mereka dapat perlahan belajar mengambil alih tanggung jawab terhadap prosesnya sendiri.
Pendidikan yang baik bukan hanya memberikan target untuk dicapai, tetapi juga menyediakan pengalaman yang membantu seseorang membangun kemampuan untuk mencapai target tersebut.
Dengan memahami fungsi eksekutif, lingkungan sekolah dapat melihat kegiatan sehari-hari dari perspektif yang lebih luas. Mengikuti rutinitas, mengerjakan tugas bertahap, bermain dengan aturan, berolahraga, merencanakan kegiatan, dan menghadapi perubahan semuanya dapat menjadi bagian dari proses perkembangan kemampuan berpikir dan mengatur diri.