WhatsApp Image 2026 08 31 at 11.13.02 (1)

Bagaimana Ekstrakurikuler TIK & Media Pesantren Mendidik Santri Membuat Konten Dakwah Digital Positif?

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menyampaikan gagasan. Kondisi tersebut juga memberikan peluang bagi lembaga pendidikan pesantren untuk mengenalkan literasi digital kepada santri. Jika dahulu kegiatan dakwah lebih banyak dilakukan melalui ceramah, kajian, tulisan, atau kegiatan tatap muka, kini pesan-pesan positif juga dapat disampaikan melalui video, poster digital, podcast, fotografi, dan berbagai bentuk konten lainnya.

Bagi santri boarding school, kemampuan menggunakan teknologi secara bijak dapat menjadi salah satu bekal penting. Karena itu, kegiatan ekstrakurikuler TIK dan media dapat menjadi ruang untuk mengenalkan keterampilan digital sekaligus mengajarkan tanggung jawab dalam membuat dan menyebarkan informasi.

Di lingkungan Pesantren Al Ma’soem, teknologi juga menjadi bagian dari pengelolaan informasi santri. Informasi mengenai sistem pendidikan dan kegiatan santri menunjukkan adanya pemanfaatan teknologi dalam mendukung komunikasi dan pengelolaan kehidupan pesantren.

Mengapa Literasi Digital Penting bagi Santri?

Santri hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung dengan internet.

Mereka dapat menemukan berbagai informasi melalui mesin pencari, media sosial, platform video, dan aplikasi komunikasi.

Namun, kemampuan menggunakan internet tidak cukup hanya dengan mengetahui cara membuka aplikasi.

Santri juga perlu memahami bagaimana memilih informasi, memeriksa kebenaran, menjaga privasi, menghormati orang lain, dan membuat konten yang bertanggung jawab.

Di sinilah literasi digital menjadi penting.

Ekstrakurikuler TIK dan media dapat menjadi ruang untuk mengenalkan keterampilan tersebut secara lebih praktis.

Dari Pengguna Menjadi Pembuat Konten

Sebagian besar pelajar merupakan pengguna konten digital.

Mereka menonton video, membaca artikel, melihat foto, dan menggunakan media sosial.

Kegiatan media dapat mengajak santri melangkah lebih jauh menjadi pembuat konten.

Mereka belajar bahwa membuat konten bukan hanya soal merekam video atau mengambil gambar.

Ada proses menentukan ide, membuat konsep, menulis naskah, mengambil gambar, melakukan penyuntingan, dan memastikan informasi yang disampaikan sesuai.

Proses tersebut dapat melatih kreativitas sekaligus tanggung jawab.

Konten Dakwah Digital

Dalam konteks pesantren, salah satu bentuk konten yang dapat dikembangkan adalah konten dakwah digital.

Konten tersebut dapat berupa pengingat ibadah, pesan akhlak, edukasi keislaman, dokumentasi kegiatan positif, kutipan pembelajaran, atau materi edukatif lain yang sesuai dengan program lembaga.

Namun, santri perlu memahami bahwa dakwah digital tidak berarti bebas membuat klaim keagamaan tanpa dasar.

Jika menyampaikan informasi agama, sumber dan konteksnya perlu diperhatikan.

Untuk materi yang membutuhkan penjelasan keagamaan, santri dapat diarahkan untuk berkonsultasi dengan guru atau pembina yang kompeten.

Belajar Membuat Video

Video merupakan salah satu bentuk konten yang populer.

Dalam kegiatan TIK dan media, santri dapat belajar dasar produksi video seperti menentukan tema, membuat storyboard sederhana, mengatur pengambilan gambar, merekam suara, dan melakukan editing.

Tidak semua video harus dibuat dengan peralatan mahal.

Yang lebih penting adalah kemampuan menyusun pesan dan menghasilkan karya yang jelas.

Santri dapat belajar menggunakan perangkat yang tersedia sesuai fasilitas lembaga.

Desain Grafis dan Poster Digital

Selain video, poster digital juga dapat menjadi media komunikasi.

Santri dapat membuat poster mengenai kegiatan pesantren, pengumuman, motivasi belajar, kebersihan, atau pesan keagamaan.

Dalam prosesnya, mereka belajar memilih teks, mengatur tata letak, menggunakan gambar yang sesuai, dan membuat desain yang mudah dibaca.

Kegiatan tersebut dapat mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan komunikasi visual.

Fotografi dan Dokumentasi

Kegiatan media juga dapat mengajarkan dasar fotografi.

Santri belajar memperhatikan komposisi, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan momen yang tepat.

Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan sekolah dan pesantren.

Namun, dokumentasi tetap harus memperhatikan izin dan privasi.

Tidak semua kegiatan atau orang dapat direkam dan dipublikasikan secara bebas.

Etika Sebelum Mengunggah Konten

Salah satu pelajaran penting dalam media digital adalah berpikir sebelum mengunggah.

Santri perlu mempertimbangkan apakah konten tersebut benar, bermanfaat, tidak merugikan orang lain, dan sesuai dengan aturan.

Foto teman, misalnya, tidak seharusnya dipublikasikan tanpa mempertimbangkan izin dan ketentuan yang berlaku.

Demikian juga informasi internal pesantren tidak boleh disebarkan sembarangan.

Kebiasaan tersebut merupakan bagian dari etika digital.

Belajar Memeriksa Informasi

Internet berisi informasi yang sangat banyak.

Tidak semuanya benar.

Santri perlu belajar membedakan informasi faktual dengan opini, iklan, rumor, dan informasi yang belum terverifikasi.

Sebelum membuat konten berdasarkan suatu informasi, santri dapat diarahkan untuk mencari sumber yang kredibel.

Keterampilan ini penting karena pembuat konten mempunyai tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.

Menghindari Konten Negatif

Media digital dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Ekstrakurikuler media dapat mengarahkan santri untuk menghasilkan karya yang edukatif dan positif.

Santri dapat belajar bahwa menarik perhatian tidak harus dilakukan dengan membuat konten yang provokatif.

Konten yang bermanfaat juga dapat dikemas secara kreatif.

Dengan demikian, keterampilan digital berkembang bersama kesadaran mengenai tanggung jawab.

Melatih Kerja Sama

Produksi konten sering kali dilakukan dalam tim.

Satu orang dapat bertugas sebagai penulis, orang lain menjadi kamerawan, editor, narator, atau penanggung jawab publikasi.

Pembagian tugas tersebut mengajarkan kerja sama.

Santri belajar bahwa karya yang baik membutuhkan kontribusi beberapa orang.

Mereka juga belajar menerima kritik dan melakukan revisi.

Bekal untuk Masa Depan

Kemampuan digital mempunyai relevansi luas.

Di masa depan, santri dapat membutuhkan kemampuan membuat presentasi, mengolah informasi, membuat video, melakukan desain, atau berkomunikasi melalui media digital.

Karena itu, kegiatan TIK dan media dapat menjadi pengalaman tambahan yang berguna di luar pesantren.

Namun, tujuan utama kegiatan tetap perlu disesuaikan dengan program pendidikan dan tingkat kemampuan santri.

Peran Pembina

Pembina mempunyai peran penting dalam mengarahkan kegiatan.

Santri membutuhkan panduan mengenai teknik sekaligus etika.

Pembina dapat memberikan tugas membuat video, poster, dokumentasi, atau proyek digital lainnya.

Setelah selesai, karya dapat dievaluasi.

Evaluasi bukan hanya mengenai kualitas gambar atau desain, tetapi juga ketepatan informasi, bahasa, etika, dan kesesuaian dengan tujuan.

Kesimpulan

Ekstrakurikuler TIK dan media dapat menjadi ruang penting bagi santri boarding school untuk memahami teknologi secara lebih produktif. Santri tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi dapat belajar menjadi pembuat konten yang kreatif dan bertanggung jawab.

Dalam konteks pesantren, keterampilan tersebut dapat diarahkan untuk membuat konten dakwah digital yang positif, edukatif, dan sesuai dengan nilai yang diajarkan.

Melalui video, desain grafis, fotografi, dan media digital lainnya, santri dapat mengembangkan kreativitas sekaligus belajar mengenai etika penggunaan teknologi.

Yang paling penting, kemampuan digital perlu berjalan bersama kemampuan menyaring informasi. Santri perlu memahami bahwa setiap konten yang dipublikasikan dapat memberikan dampak kepada orang lain.

Dengan pendampingan yang tepat, ekstrakurikuler TIK dan media dapat menjadi salah satu bekal santri untuk menghadapi kehidupan digital secara lebih bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.