IMG

Bagaimana Ekstrakurikuler Seni Musik Islami, Gitar, dan Biola di Pesantren Al Ma’soem Dikelola Tanpa Melanggar Nilai Kesantunan?

Memilih pesantren untuk anak tidak selalu berarti membatasi ruang kreativitas dan minat seni. Justru, lingkungan pendidikan yang baik seharusnya mampu memberikan kesempatan kepada santri untuk mengembangkan berbagai potensi selama kegiatan tersebut tetap berjalan secara terarah. Salah satu bidang yang menarik perhatian adalah seni musik, termasuk musik Islami, gitar, dan biola.

Pertanyaannya, bagaimana ekstrakurikuler seni musik Islami, gitar, dan biola di Pesantren Al Ma’soem dapat dikelola tanpa mengabaikan nilai kesantunan dan lingkungan pendidikan pesantren?

Pertanyaan tersebut penting bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan agama sekaligus kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat. Bakat seni tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan keagamaan. Dengan pengelolaan yang tepat, kegiatan musik dapat menjadi sarana belajar disiplin, kreativitas, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian tampil di depan orang lain.

Al Ma’soem sendiri memiliki tradisi kegiatan ekstrakurikuler yang cukup beragam. Dalam berbagai informasi mengenai kegiatan ekstrakurikuler, bidang seni mencakup gitar akustik, biola, paduan suara, olah vokal, serta sejumlah kegiatan seni dan musik lainnya.

Musik Tidak Hanya Tentang Hiburan

Ketika mendengar istilah ekstrakurikuler musik, sebagian orang mungkin langsung menganggapnya sebagai kegiatan hiburan. Padahal, proses mempelajari alat musik memiliki banyak unsur pendidikan.

Seorang siswa yang belajar gitar harus memahami ritme, kord, tempo, koordinasi jari, dan ketepatan permainan. Sementara itu, belajar biola membutuhkan konsentrasi, ketelitian, koordinasi tangan, pendengaran yang baik, serta latihan berulang.

Dengan demikian, kegiatan musik sebenarnya memiliki proses pembelajaran yang cukup kompleks.

Hal serupa berlaku dalam musik Islami. Kegiatan seperti nasyid, marawis, hadroh, qasidah, atau bentuk seni musik bernuansa keagamaan dapat menjadi ruang bagi santri untuk mengekspresikan kreativitas melalui kegiatan yang tetap memiliki hubungan dengan nilai-nilai positif.

Di lingkungan pesantren, aspek yang paling penting bukan sekadar jenis alat musik yang digunakan, tetapi bagaimana kegiatan tersebut diarahkan, kapan dilaksanakan, apa tujuan kegiatannya, dan bagaimana santri tetap menjaga tata krama selama mengikuti kegiatan.

Gitar dan Biola sebagai Media Pengembangan Bakat

Tidak semua santri memiliki minat yang sama. Ada santri yang lebih tertarik pada olahraga, ada yang menyukai teknologi, ada pula yang memiliki ketertarikan pada seni.

Karena itu, keberadaan kegiatan seperti gitar dan biola memberikan alternatif bagi santri yang mempunyai kemampuan musikal.

Gitar merupakan salah satu instrumen yang relatif dekat dengan kehidupan anak muda. Proses belajar gitar dapat dimulai dari pengenalan bagian alat musik, cara memegang gitar, teknik dasar memetik atau menggenjreng, membaca kord, mengikuti tempo, hingga memainkan lagu secara lebih terstruktur.

Sementara itu, biola memiliki karakter pembelajaran yang berbeda. Siswa perlu belajar mengenai posisi tubuh, cara memegang bow, penempatan jari, ketepatan nada, serta koordinasi antara tangan dan pendengaran.

Informasi terbaru dari Al Ma’soem juga menunjukkan bahwa biola menjadi salah satu pilihan kegiatan seni yang dapat membantu siswa mengembangkan konsentrasi, kreativitas, ketekunan, dan kepercayaan diri.

Artinya, pembelajaran musik tidak harus berhenti pada kemampuan memainkan sebuah lagu. Ada proses pembentukan kebiasaan belajar di dalamnya.

Mengapa Musik Bisa Membentuk Kedisiplinan?

Kemampuan memainkan alat musik tidak dapat diperoleh hanya dalam satu atau dua kali latihan.

Seorang santri yang ingin mahir bermain gitar atau biola harus berlatih secara rutin. Kesalahan dalam memainkan nada atau kord merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dari sinilah muncul pelajaran penting mengenai konsistensi.

Santri belajar bahwa kemampuan tidak muncul secara instan.

Jika hari ini belum mampu memainkan sebuah lagu dengan baik, mereka dapat mencoba kembali pada latihan berikutnya. Setelah beberapa kali latihan, koordinasi tangan menjadi lebih baik, pendengaran semakin terlatih, dan permainan mulai terdengar lebih teratur.

Kebiasaan seperti ini dapat membantu membangun pola pikir bahwa keberhasilan membutuhkan proses.

Dalam konteks pendidikan pesantren, pengalaman tersebut menjadi semakin menarik karena santri juga harus belajar mengatur waktu antara kegiatan akademik, ibadah, kehidupan asrama, belajar mandiri, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Bagaimana Menjaga Nilai Kesantunan dalam Kegiatan Musik?

Inilah salah satu pertanyaan yang paling relevan bagi orang tua.

Kegiatan musik di lingkungan pesantren tentu perlu mempunyai batasan dan tata kelola yang jelas. Kesantunan tidak hanya berkaitan dengan jenis kegiatan, tetapi juga perilaku santri ketika mengikuti kegiatan.

Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan.

1. Mengutamakan tujuan pendidikan

Kegiatan musik sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pengembangan bakat, bukan semata-mata sebagai hiburan.

Dengan tujuan yang jelas, santri memahami bahwa mereka mengikuti kegiatan untuk belajar keterampilan, mengembangkan kreativitas, dan memperoleh pengalaman.

2. Memiliki jadwal yang teratur

Ekstrakurikuler tidak boleh mengganggu kewajiban utama santri.

Kegiatan dapat ditempatkan pada jadwal yang sudah ditentukan sehingga santri tetap dapat mengikuti pembelajaran, ibadah, kegiatan asrama, dan aktivitas lainnya.

Pengaturan jadwal juga membantu santri belajar mengenai manajemen waktu.

3. Menjaga etika selama latihan

Santri tetap perlu memperhatikan cara berpakaian, cara berbicara, sikap terhadap pembina, dan interaksi dengan teman.

Nilai kesantunan tidak hilang hanya karena kegiatan yang dilakukan adalah seni. Justru, kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang untuk mempraktikkan sopan santun dalam situasi nyata.

4. Memilih materi yang sesuai

Dalam lingkungan pendidikan pesantren, materi musik dapat diarahkan kepada karya-karya yang memiliki pesan positif dan tidak bertentangan dengan nilai pendidikan yang diterapkan lembaga.

Untuk kegiatan musik Islami, misalnya, santri dapat mempelajari lagu-lagu atau bentuk pertunjukan yang membawa pesan keagamaan, moral, persaudaraan, pendidikan, dan nilai positif lainnya.

5. Pembina tetap melakukan pendampingan

Santri yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tetap membutuhkan arahan.

Pembina berperan dalam menjaga suasana latihan, memberikan koreksi teknik, mengatur kegiatan, sekaligus memastikan santri memahami tanggung jawabnya.

Dengan pendampingan tersebut, ekstrakurikuler tidak berjalan tanpa arah.

Musik Islami Memberikan Ruang Ekspresi yang Berbeda

Bagi pesantren, musik Islami dapat menjadi salah satu pilihan menarik karena unsur seni dapat dikombinasikan dengan pesan keagamaan.

Kegiatan seperti nasyid, marawis, hadroh, qasidah, atau vokal bernuansa Islami dapat melatih kemampuan musikal sekaligus memberikan pengalaman tampil secara berkelompok.

Dalam kegiatan kelompok, santri belajar bahwa sebuah pertunjukan tidak bergantung pada satu orang.

Ada yang bertugas sebagai vokal, memainkan instrumen, mengatur tempo, mempersiapkan penampilan, hingga memastikan seluruh anggota siap tampil.

Hal tersebut secara tidak langsung mengajarkan kerja sama.

Santri juga belajar untuk tidak selalu menjadi pusat perhatian. Mereka perlu memahami kapan harus memainkan peran utama dan kapan harus memberikan ruang kepada anggota lain.

Kemampuan semacam ini sangat berguna dalam kehidupan sosial.

Gitar dan Biola Juga Mengajarkan Kesabaran

Ada satu hal menarik dari belajar alat musik, yaitu prosesnya tidak selalu mudah.

Pada tahap awal, permainan gitar mungkin terdengar belum rapi. Jari dapat terasa kaku ketika berpindah kord. Pada biola, menghasilkan nada yang tepat juga membutuhkan latihan panjang.

Namun, justru kesulitan tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran.

Santri belajar menghadapi kesalahan tanpa langsung menyerah.

Mereka juga belajar menerima koreksi dari pembina. Jika posisi jari salah, diperbaiki. Jika tempo tidak tepat, diulang. Jika nada kurang presisi, dilatih kembali.

Sikap menerima koreksi ini merupakan keterampilan yang penting dalam pendidikan.

Apakah Ekstrakurikuler Musik Bisa Meningkatkan Kepercayaan Diri?

Bisa menjadi salah satu sarana untuk itu.

Bayangkan seorang santri yang pada awalnya hanya berani berlatih di dalam kelompok kecil. Setelah beberapa bulan latihan, ia mulai mampu memainkan sebuah lagu bersama teman-temannya.

Kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam kegiatan sekolah atau pesantren.

Pengalaman tersebut dapat memberikan rasa percaya diri karena santri melihat hasil dari latihan yang telah dilakukan.

Bukan hanya keberhasilan tampil yang penting, tetapi proses menuju penampilan tersebut.

Santri belajar mempersiapkan diri, mengatasi rasa gugup, berkonsentrasi ketika tampil, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.

Kegiatan musik juga dapat menjadi sarana untuk mengenali potensi diri.

Seorang anak yang sebelumnya tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai kemampuan musik dapat menemukan bakat tersebut setelah mengikuti ekstrakurikuler.

Bagaimana dengan Kehidupan Asrama?

Konteks boarding school membuat pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler menjadi lebih menarik.

Santri yang tinggal di asrama memiliki rutinitas yang lebih terstruktur dibandingkan siswa yang hanya berada di sekolah selama jam belajar.

Karena itu, kegiatan ekstrakurikuler harus ditempatkan dalam sistem yang memperhatikan keseimbangan antara belajar, ibadah, istirahat, kehidupan sosial, dan pengembangan minat.

Dalam kondisi seperti ini, kegiatan musik bukan sekadar tambahan aktivitas. Jika dikelola dengan baik, kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari pembentukan keseimbangan aktivitas santri.

Santri memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang mereka sukai tanpa harus meninggalkan tanggung jawab utama sebagai pelajar dan santri.

Mengapa Orang Tua Perlu Melihat Program Secara Menyeluruh?

Ketika mencari pesantren, orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya apakah tersedia ekstrakurikuler gitar, biola, atau musik Islami.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut dijalankan.

Orang tua dapat mempertimbangkan beberapa hal:

  • Apakah jadwal ekstrakurikuler jelas?
  • Siapa yang membina kegiatan?
  • Apakah kegiatan tetap diawasi?
  • Bagaimana aturan santri selama latihan?
  • Apakah kegiatan tidak mengganggu pembelajaran dan ibadah?
  • Apakah ada kesempatan bagi santri untuk menunjukkan hasil latihan?
  • Apakah kegiatan diarahkan untuk pengembangan bakat dan keterampilan?

Pertanyaan tersebut membantu orang tua melihat kualitas program secara lebih objektif.

Sebab, banyaknya pilihan ekstrakurikuler saja belum cukup. Yang lebih penting adalah kualitas pembinaan dan bagaimana kegiatan tersebut menjadi bagian dari sistem pendidikan.

Seni dan Pendidikan Pesantren Dapat Berjalan Bersama

Pada akhirnya, pendidikan agama dan pengembangan seni tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

Santri dapat belajar Al-Qur’an, mengikuti pembelajaran agama, menjalani kehidupan asrama, sekaligus mengembangkan bakat di bidang musik selama seluruh aktivitas dikelola secara terarah.

Al Ma’soem memiliki pilihan ekstrakurikuler seni seperti gitar dan biola, selain berbagai kegiatan lain yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat. Informasi resmi mengenai kegiatan ekstrakurikuler Al Ma’soem juga menunjukkan bahwa bidang seni dan musik menjadi bagian dari pilihan pengembangan diri peserta didik.

Hal yang paling penting adalah bagaimana santri memahami bahwa kemampuan seni bukan sekadar untuk tampil, tetapi juga menjadi proses belajar.

Belajar gitar mengajarkan koordinasi, ritme, dan konsistensi.

Belajar biola mengajarkan ketelitian, konsentrasi, dan kesabaran.

Musik Islami mengajarkan kerja sama sekaligus memberikan ruang ekspresi yang memiliki pesan positif.

Sementara kegiatan tampil di depan orang lain dapat membantu membangun keberanian dan rasa percaya diri.

Kesimpulan

Ekstrakurikuler seni musik Islami, gitar, dan biola di lingkungan Pesantren Al Ma’soem dapat menjadi sarana pengembangan bakat selama dikelola dengan tujuan pendidikan, jadwal yang teratur, pendampingan pembina, serta aturan yang menjaga kesantunan santri.

Pesantren tidak harus menjadi lingkungan yang membatasi kreativitas. Justru, lingkungan pendidikan yang terarah dapat membantu santri memahami bagaimana menggunakan kemampuan seni secara positif dan bertanggung jawab.

Bagi orang tua yang sedang mencari pesantren dengan ekstrakurikuler seni musik, keberadaan gitar, biola, dan kegiatan musik Islami dapat menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipertimbangkan. Namun, yang lebih penting daripada sekadar jumlah pilihan ekstrakurikuler adalah bagaimana setiap kegiatan tersebut dibina sehingga tetap seimbang dengan pendidikan akademik, kehidupan asrama, pembelajaran agama, dan pembentukan tanggung jawab santri.

Dengan pendekatan seperti itu, musik bukan hanya menjadi kegiatan pengisi waktu luang. Musik dapat menjadi ruang bagi santri untuk belajar disiplin, kreativitas, kerja sama, kesabaran, keberanian, dan penghargaan terhadap proses.