Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Teknologi sudah menjadi bagian yang cukup dekat dengan kehidupan pelajar karena siswa dapat menggunakannya untuk mencari informasi, mengerjakan tugas, berkomunikasi dengan teman, membaca materi, hingga menikmati berbagai hiburan setelah kegiatan sekolah selesai.
Bagi siswa SMP dan SMA Al Ma’soem, kemampuan menggunakan teknologi secara tepat dapat menjadi salah satu keterampilan yang berguna selama mengikuti pembelajaran karena perangkat digital dapat membantu proses belajar, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan tanggung jawab dan kemampuan memilih informasi.
Siswa juga perlu memahami bahwa menggunakan teknologi untuk belajar tidak berarti seluruh kegiatan pembelajaran harus dilakukan melalui perangkat digital karena buku, diskusi dengan guru, kegiatan kelompok, dan pengalaman langsung tetap memiliki peran masing-masing.
Yang perlu dibangun adalah kemampuan menggunakan teknologi sesuai kebutuhan sehingga perangkat yang dimiliki siswa dapat menjadi alat bantu, bukan justru menjadi sumber gangguan ketika sedang belajar.
Pelajar saat ini dapat menemukan informasi dalam waktu yang sangat cepat.
Ketika mendapatkan pertanyaan mengenai suatu materi, siswa dapat mencari penjelasan tambahan melalui sumber digital.
Ketika mengerjakan tugas kelompok, komunikasi dapat dilakukan melalui aplikasi pesan.
Ketika membutuhkan bahan presentasi, siswa dapat menggunakan perangkat digital untuk menyusun dokumen atau tampilan presentasi.
Kemudahan tersebut membuat teknologi memiliki banyak fungsi dalam kehidupan siswa.
Namun, semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting pula kemampuan siswa dalam menentukan informasi mana yang dapat dipercaya.
Teknologi dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan akademik.
Siswa dapat menggunakannya untuk mencari definisi, membaca artikel edukatif, melihat materi visual, melakukan latihan soal, atau menyusun tugas.
Penggunaan tersebut sebaiknya tetap mengikuti arahan guru.
Jika guru meminta siswa menggunakan sumber tertentu, siswa dapat mengikuti ketentuan tersebut daripada mengambil informasi secara sembarangan.
Teknologi juga dapat digunakan untuk memperjelas materi yang belum dipahami.
Misalnya, setelah mendapatkan penjelasan di kelas, siswa dapat mencari contoh penerapan konsep tersebut agar lebih mudah memahami hubungan antara teori dan kehidupan sehari-hari.
Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan teknologi adalah banyaknya informasi yang tersedia.
Tidak semua informasi yang muncul di halaman pencarian memiliki tingkat ketepatan yang sama.
Siswa dapat membiasakan diri memeriksa beberapa hal sebelum menggunakan sebuah informasi:
Siapa yang membuat atau menerbitkan informasi tersebut?
Kapan informasi tersebut diterbitkan?
Apakah terdapat sumber atau data pendukung?
Apakah informasi serupa ditemukan pada sumber lain?
Apakah isi artikel sesuai dengan pertanyaan yang sedang dicari?
Kebiasaan memeriksa informasi dapat membantu siswa menghindari penggunaan data yang keliru dalam tugas sekolah.
Siswa SMP biasanya masih dalam tahap mengenal cara menggunakan perangkat digital untuk kebutuhan pendidikan.
Mereka dapat mulai belajar membedakan penggunaan perangkat untuk belajar dan penggunaan untuk hiburan.
Guru maupun orang tua dapat membantu memberikan arahan mengenai cara mencari informasi, menggunakan aplikasi, dan menjaga keamanan akun.
Sementara itu, siswa SMA dapat mulai mengembangkan kemampuan digital secara lebih mandiri.
Mereka dapat menggunakan teknologi untuk membuat presentasi, mengolah data, mencari referensi, menyusun dokumen, hingga mempersiapkan berbagai kebutuhan akademik.
Pada tahap ini, kemampuan memilih sumber dan mengatur penggunaan perangkat menjadi semakin penting.
Media sosial dapat menjadi salah satu sumber distraksi ketika siswa sedang belajar.
Siswa mungkin membuka perangkat untuk mencari materi, tetapi kemudian melihat notifikasi, membaca komentar, atau menonton video.
Beberapa menit yang awalnya direncanakan untuk istirahat dapat berubah menjadi waktu yang cukup panjang.
Siswa dapat mengurangi gangguan dengan mematikan notifikasi yang tidak diperlukan ketika sedang belajar.
Cara lain adalah menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial sehingga kegiatan tersebut tidak bercampur dengan waktu mengerjakan tugas.
Tidak selalu.
Ponsel dapat menjadi alat bantu ketika siswa memang membutuhkannya untuk mencari informasi atau menggunakan aplikasi pembelajaran.
Masalahnya bukan semata-mata pada keberadaan perangkat, tetapi pada cara perangkat tersebut digunakan.
Jika ponsel membuat siswa terus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, siswa dapat mencoba meletakkannya lebih jauh selama mengerjakan tugas yang tidak membutuhkan perangkat.
Sebaliknya, jika ponsel memang dibutuhkan untuk mencari informasi, siswa dapat menggunakannya dengan tujuan yang jelas.
Mencari informasi di internet juga membutuhkan keterampilan.
Siswa dapat membuat kata kunci yang lebih spesifik agar hasil pencarian sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
Misalnya, daripada mengetik pertanyaan yang terlalu umum, siswa dapat menambahkan istilah khusus sesuai materi.
Siswa juga dapat membaca lebih dari sekadar judul.
Judul yang menarik belum tentu berarti isi artikel tersebut sesuai dengan kebutuhan tugas.
Membaca keseluruhan informasi dan memahami konteksnya tetap penting.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuat siswa memiliki alat tambahan untuk membantu memahami materi atau mencari ide.
Namun, penggunaannya perlu mengikuti aturan guru dan sekolah.
Jika siswa menggunakan AI untuk mendapatkan penjelasan, mereka tetap perlu membaca dan memahami hasilnya.
Siswa sebaiknya tidak sekadar menyalin jawaban yang diberikan teknologi kemudian menganggap tugas telah selesai.
AI dapat digunakan sebagai alat untuk membantu memahami konsep, membuat pertanyaan latihan, atau menemukan sudut pandang yang dapat dipelajari lebih lanjut.
Pemahaman akhir tetap perlu dimiliki oleh siswa.
Teknologi dapat memberikan jawaban dengan cepat, tetapi siswa tetap perlu memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh.
Dalam pelajaran yang membutuhkan proses perhitungan, misalnya, siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk memeriksa hasil setelah mencoba mengerjakan sendiri.
Dalam tugas menulis, teknologi dapat membantu memberikan masukan, tetapi siswa tetap perlu menentukan gagasan dan memahami isi tulisan.
Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar.
Aplikasi pesan dapat mempermudah komunikasi antara siswa.
Namun, grup kelas juga membutuhkan etika.
Siswa dapat memperhatikan waktu ketika mengirim pesan dan memastikan informasi yang dibagikan memang berkaitan dengan kepentingan kelompok.
Jika guru memberikan informasi penting, siswa dapat membacanya dengan baik sebelum bertanya kembali mengenai hal yang sebenarnya sudah dijelaskan.
Siswa juga sebaiknya tidak menyebarkan percakapan pribadi atau informasi milik teman tanpa izin.
Akun digital dapat berisi berbagai informasi pribadi.
Siswa dapat membiasakan diri menggunakan kata sandi yang kuat dan tidak membagikannya kepada teman.
Kode verifikasi juga sebaiknya tidak diberikan kepada orang lain.
Ketika menggunakan perangkat bersama, siswa dapat memastikan sudah keluar dari akun pribadi setelah selesai.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu siswa lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan informasi pribadi.
Kegiatan sekolah terkadang menghasilkan banyak foto dan video.
Siswa mungkin ingin membagikannya di media sosial.
Namun, sebelum mengunggah foto yang menampilkan teman, siswa dapat mempertimbangkan apakah teman tersebut merasa nyaman.
Tidak semua kejadian di sekolah perlu dipublikasikan.
Menghargai privasi teman merupakan bagian dari etika digital yang perlu diperhatikan.
Teknologi tidak hanya dapat digunakan untuk mengonsumsi informasi.
Siswa juga dapat menggunakannya untuk membuat sesuatu.
Misalnya, membuat presentasi, video edukasi, poster digital, tulisan, ilustrasi, atau proyek lainnya sesuai kebutuhan pembelajaran.
Kegiatan membuat karya dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan teknis.
Siswa juga dapat belajar bahwa perangkat digital bukan hanya tempat mencari hiburan.
Waktu menggunakan perangkat perlu disesuaikan dengan kegiatan siswa sepanjang hari.
Siswa dapat membedakan waktu layar untuk belajar, komunikasi, hiburan, dan kegiatan lainnya.
Jika penggunaan perangkat sudah terlalu lama, siswa dapat mengambil jeda dan melakukan aktivitas lain.
Kebiasaan tersebut juga dapat membantu siswa tidak terlalu bergantung pada perangkat dalam mengisi seluruh waktu luangnya.
Komunikasi digital dapat membantu siswa tetap berhubungan dengan teman.
Namun, interaksi langsung tetap memiliki peran penting.
Berbicara secara langsung memungkinkan siswa memahami ekspresi, intonasi, dan situasi yang terkadang sulit ditangkap melalui pesan singkat.
Karena itu, teknologi dapat menjadi pelengkap hubungan sosial, bukan satu-satunya cara siswa berkomunikasi.
Siswa dapat mengenali tanda-tanda ketika penggunaan teknologi mulai mengganggu kegiatan sekolah.
Misalnya, tugas sering tertunda karena bermain gim, waktu tidur menjadi terlalu larut karena menonton video, atau siswa kesulitan berkonsentrasi karena terus memeriksa notifikasi.
Jika hal tersebut terjadi, siswa dapat mengevaluasi kebiasaan penggunaan perangkat.
Tidak perlu langsung menghilangkan seluruh penggunaan teknologi.
Siswa dapat mulai dengan mengurangi aktivitas yang paling sering mengganggu rutinitas.
Siswa dapat membuat beberapa aturan pribadi agar penggunaan teknologi lebih terarah.
Contohnya:
Tidak membuka media sosial ketika sedang mengerjakan tugas.
Memeriksa sumber sebelum menggunakan informasi.
Tidak membagikan data pribadi kepada orang lain.
Menggunakan AI sesuai aturan tugas.
Tidak mengunggah foto teman tanpa mempertimbangkan privasinya.
Menentukan waktu khusus untuk hiburan digital.
Mematikan notifikasi yang tidak diperlukan saat belajar.
Aturan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dapat menjadi bekal yang berguna ketika siswa melanjutkan pendidikan.
Siswa tidak hanya perlu mengetahui cara menggunakan aplikasi, tetapi juga perlu mampu mencari informasi, menilai sumber, menjaga keamanan data, berkomunikasi secara digital, dan menghasilkan karya.
Bagi siswa SMP Al Ma’soem, kebiasaan tersebut dapat mulai dibangun dari kegiatan sederhana sehari-hari.
Sementara siswa SMA Al Ma’soem dapat mengembangkan kemampuan digital dengan menggunakannya untuk kebutuhan akademik yang lebih kompleks dan berbagai proyek yang sesuai dengan bidang minat.
Dengan penggunaan yang terarah, teknologi dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa tanpa membuat mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri, berkomunikasi secara langsung, mengatur waktu, serta bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka gunakan dan bagikan.