Images (68)

Bagaimana Cara Mengatasi Kebiasaan Menunda Tugas Sekolah?

Menunda tugas sekolah merupakan kebiasaan yang cukup mudah terjadi dalam kehidupan siswa. Tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan hari ini sering kali dianggap masih memiliki banyak waktu sehingga pengerjaannya dipindahkan ke hari berikutnya. Pada awalnya, menunda mungkin terasa tidak memberikan masalah. Namun, jika dilakukan berulang kali, tugas dapat menumpuk dan membuat siswa harus menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu yang berdekatan.

Kebiasaan menunda juga tidak selalu muncul karena siswa malas. Ada berbagai alasan yang dapat membuat seseorang sulit memulai tugas, seperti merasa tugas terlalu sulit, bingung menentukan langkah pertama, terlalu banyak kegiatan, atau mudah terdistraksi oleh gadget. Karena itu, cara mengatasinya bukan hanya dengan memaksa diri untuk bekerja lebih keras, tetapi juga dengan memahami penyebab dan membuat strategi yang lebih realistis.

Mengapa Siswa Sering Menunda Tugas?

Menunda tugas dapat terjadi ketika pekerjaan terasa terlalu besar atau sulit. Ketika melihat tugas yang membutuhkan banyak waktu, siswa mungkin merasa belum siap mengerjakannya. Akibatnya, pekerjaan tersebut terus ditunda dengan alasan akan dilakukan nanti.

Masalahnya, semakin lama tugas ditunda, semakin dekat pula batas waktu pengumpulan. Tekanan kemudian meningkat dan siswa dapat mengerjakan tugas secara terburu-buru.

Penyebab lainnya adalah gangguan dari lingkungan. Gadget, media sosial, video, permainan, atau percakapan dengan teman dapat membuat perhatian berpindah dari tugas. Ketika siswa hanya berniat menggunakan ponsel selama beberapa menit, waktu yang digunakan terkadang menjadi lebih lama dari perkiraan.

Mulai dari Tugas yang Paling Jelas

Salah satu cara mengurangi kebiasaan menunda adalah tidak memikirkan seluruh tugas sekaligus. Siswa dapat memilih satu pekerjaan yang paling jelas untuk dimulai.

Misalnya, daripada berpikir “Saya harus menyelesaikan semua tugas hari ini”, ubah menjadi “Saya akan membaca soal nomor satu sampai lima terlebih dahulu.” Target yang lebih kecil dapat terasa lebih mudah dilakukan.

Setelah satu bagian selesai, siswa dapat menentukan langkah berikutnya. Cara ini membuat pekerjaan besar menjadi beberapa bagian yang lebih mudah dikelola.

Kebiasaan memulai juga penting karena bagian tersulit dari tugas terkadang bukan proses mengerjakannya, melainkan mengambil keputusan untuk benar-benar mulai.

Membuat Daftar Tugas

Siswa dapat menuliskan semua tugas yang perlu diselesaikan. Daftar sederhana dapat membantu mengurangi kemungkinan ada pekerjaan yang terlupakan.

Setelah semua tugas tercatat, kelompokkan berdasarkan batas waktu dan tingkat kesulitan. Contohnya:

  1. Tugas yang harus dikumpulkan besok.
  2. Tugas yang membutuhkan waktu cukup lama.
  3. Tugas yang dapat diselesaikan dengan cepat.
  4. Tugas yang membutuhkan kerja kelompok.
  5. Tugas yang masih perlu mencari informasi.

Daftar tersebut tidak harus dibuat dengan sistem yang rumit. Yang penting, siswa dapat melihat pekerjaan secara lebih jelas dan mengetahui apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Menentukan Prioritas

Tidak semua tugas harus dikerjakan dalam urutan yang sama. Siswa perlu belajar menentukan prioritas berdasarkan tenggat waktu, tingkat kesulitan, dan waktu yang tersedia.

Tugas dengan batas pengumpulan paling dekat tentu perlu mendapat perhatian. Namun, tugas besar yang baru dikumpulkan beberapa hari kemudian juga sebaiknya tidak dibiarkan sampai mendekati tenggat.

Siswa dapat membagi tugas besar menjadi beberapa sesi. Misalnya, hari pertama digunakan untuk mencari bahan, hari kedua menyusun isi, dan hari ketiga memeriksa kembali hasil pekerjaan.

Cara tersebut membuat pengerjaan tugas tidak terasa seperti pekerjaan besar yang harus diselesaikan sekaligus.

Menggunakan Waktu Belajar dalam Sesi Pendek

Belajar selama berjam-jam tanpa jeda tidak selalu membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Siswa dapat mencoba membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi dengan durasi yang realistis.

Misalnya, siswa fokus mengerjakan tugas selama 25–30 menit, kemudian beristirahat sebentar sebelum melanjutkan. Durasi dapat disesuaikan dengan kemampuan konsentrasi masing-masing.

Selama sesi belajar, usahakan hanya mengerjakan satu pekerjaan utama. Jika setiap beberapa menit berpindah dari tugas ke media sosial, waktu belajar akan banyak terbuang untuk mengembalikan fokus.

Sesi pendek juga dapat membantu siswa yang sering merasa berat ketika melihat tugas yang panjang. Mereka cukup berkomitmen untuk fokus selama satu sesi terlebih dahulu.

Mengurangi Gangguan dari Gadget

Gadget dapat menjadi alat belajar yang sangat membantu. Siswa dapat menggunakannya untuk mencari referensi, membuka materi, membuat dokumen, atau berkomunikasi dengan anggota kelompok.

Namun, perangkat yang sama juga dapat menjadi sumber gangguan. Notifikasi media sosial atau pesan yang terus masuk dapat membuat perhatian terpecah.

Ketika mengerjakan tugas, siswa dapat mematikan notifikasi yang tidak diperlukan atau meletakkan ponsel sedikit lebih jauh. Jika gadget memang dibutuhkan untuk belajar, siswa dapat membuka aplikasi yang berkaitan dengan tugas dan menutup aplikasi lain sementara.

Tujuannya bukan menghindari teknologi sepenuhnya, tetapi belajar menggunakannya sesuai kebutuhan.

Menentukan Target yang Realistis

Target belajar yang terlalu besar justru dapat membuat siswa semakin ingin menunda. Karena itu, target perlu disesuaikan dengan waktu dan kondisi.

Misalnya, target “menyelesaikan seluruh tugas” dapat diganti menjadi “menyelesaikan bagian pendahuluan selama 30 menit.” Setelah target tersebut tercapai, siswa dapat membuat target berikutnya.

Target kecil memberikan tanda kemajuan yang lebih jelas. Siswa dapat melihat bahwa pekerjaan perlahan berkurang, bukan terus menjadi beban yang belum terselesaikan.

Jangan Menunggu Sampai Merasa Termotivasi

Banyak siswa menunggu munculnya rasa ingin belajar sebelum mulai mengerjakan tugas. Padahal, motivasi tidak selalu datang terlebih dahulu.

Terkadang, siswa justru mulai merasa lebih termotivasi setelah mengerjakan beberapa bagian tugas. Ketika pekerjaan sudah dimulai dan hasil mulai terlihat, rasa berat dapat berkurang.

Karena itu, siswa dapat membangun kebiasaan untuk mulai dalam skala kecil. Tidak perlu menunggu suasana hati benar-benar sempurna. Cukup buka buku, baca instruksi, dan kerjakan bagian pertama.

Menghadapi Tugas yang Terasa Sulit

Tugas yang sulit sering menjadi salah satu penyebab utama penundaan. Jika siswa tidak memahami instruksi, mereka mungkin memilih menghindarinya.

Dalam situasi seperti ini, siswa dapat memecah tugas menjadi beberapa pertanyaan:

  • Apa sebenarnya yang diminta?
  • Informasi apa yang sudah saya miliki?
  • Bagian mana yang belum saya pahami?
  • Sumber apa yang dapat digunakan?
  • Siapa yang dapat ditanya jika mengalami kesulitan?

Dengan pertanyaan tersebut, tugas yang awalnya terlihat membingungkan dapat menjadi lebih jelas.

Siswa juga tidak perlu ragu bertanya kepada guru atau teman ketika benar-benar mengalami kesulitan. Meminta penjelasan merupakan bagian dari proses belajar, bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu.

Menyediakan Waktu Khusus untuk Tugas

Rutinitas dapat membantu mengurangi keputusan yang harus dibuat setiap hari. Siswa dapat menentukan waktu tertentu untuk mengerjakan tugas, misalnya setelah beristirahat sepulang sekolah atau setelah menyelesaikan kegiatan tertentu.

Waktu tersebut tidak harus selalu sama persis. Yang penting, siswa memiliki kebiasaan bahwa ada bagian dari hari yang memang digunakan untuk belajar.

Jika jadwal terlalu padat, siswa perlu melihat kembali kegiatan yang dilakukan. Waktu bermain dan bersantai tetap penting, tetapi perlu diseimbangkan dengan tanggung jawab akademik.

Belajar Mengatakan Tidak pada Gangguan

Kebiasaan menunda terkadang berkaitan dengan kesulitan mengatur pilihan. Teman mungkin mengajak bermain ketika tugas belum selesai, atau siswa tergoda membuka media sosial ketika seharusnya belajar.

Belajar mengatakan “nanti setelah tugas selesai” dapat menjadi bentuk pengendalian diri. Bukan berarti siswa harus menolak semua kegiatan menyenangkan, tetapi menentukan waktu yang tepat untuk melakukannya.

Ketika tugas sudah selesai, waktu bersantai pun dapat terasa lebih nyaman karena tidak lagi dibayangi pekerjaan yang belum dikerjakan.

Mengevaluasi Kebiasaan Setiap Minggu

Siswa dapat melakukan evaluasi sederhana terhadap kebiasaan belajar. Tidak perlu membuat penilaian yang rumit. Cukup tanyakan kepada diri sendiri mengenai beberapa hal.

Apakah ada tugas yang kembali dikerjakan mendekati batas waktu? Apa penyebabnya? Apakah jadwal yang dibuat terlalu padat? Apakah gadget terlalu sering mengganggu? Atau apakah siswa belum memahami cara membagi tugas besar?

Dari evaluasi tersebut, siswa dapat memperbaiki strategi pada minggu berikutnya. Dengan demikian, mengatasi kebiasaan menunda menjadi proses bertahap, bukan perubahan yang harus langsung sempurna.

Lingkungan Sekolah Membantu Membentuk Kebiasaan

Kebiasaan menyelesaikan tugas juga dapat terbentuk melalui pengalaman siswa di sekolah. Lingkungan pendidikan yang mendorong kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian dapat membantu anak memahami pentingnya mengatur waktu.

Di sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik dapat membuat siswa perlu belajar membagi waktu. Pengalaman tersebut dapat menjadi latihan untuk menentukan prioritas dan menyelesaikan tanggung jawab tanpa harus selalu menunggu diingatkan.

Mengatasi kebiasaan menunda bukan berarti siswa harus belajar sepanjang waktu. Justru, kemampuan mengatur tugas dengan baik dapat memberikan ruang yang lebih sehat untuk belajar, beristirahat, bermain, dan mengikuti kegiatan lain. Ketika pekerjaan dikerjakan secara bertahap dan terencana, siswa tidak harus selalu menghadapi tekanan karena tugas yang menumpuk di menit terakhir.