Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Mencatat pelajaran merupakan salah satu aktivitas yang hampir selalu dilakukan siswa di sekolah. Ketika guru menjelaskan materi, siswa biasanya menuliskan informasi penting di buku catatan agar dapat dipelajari kembali setelah pembelajaran selesai. Namun, mencatat sebenarnya bukan sekadar memindahkan semua kalimat yang terdengar di dalam kelas ke dalam buku. Catatan yang baik justru perlu membantu siswa memahami dan mengingat kembali materi dengan lebih mudah.
Setiap siswa juga dapat memiliki gaya mencatat yang berbeda. Ada yang senang menggunakan banyak warna, ada yang lebih nyaman membuat rangkuman dalam bentuk paragraf, sementara siswa lainnya mungkin lebih mudah memahami materi melalui tabel, diagram, atau poin-poin. Tidak ada satu bentuk catatan yang wajib digunakan oleh semua siswa selama catatan tersebut dapat membantu proses belajar dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Di tengah penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar, buku catatan tetap memiliki fungsi yang cukup penting. Saat menulis kembali informasi menggunakan kata-kata sendiri, siswa memiliki kesempatan untuk memproses materi yang sedang dijelaskan. Proses tersebut berbeda dengan sekadar membaca ulang buku karena siswa harus menentukan informasi mana yang perlu dituliskan.
Catatan juga dapat menjadi sumber belajar yang lebih personal. Materi dari buku pelajaran mungkin cukup panjang, sedangkan catatan siswa dapat berisi bagian-bagian yang dianggap penting selama pembelajaran berlangsung. Ketika menghadapi ulangan atau perlu mengingat materi tertentu, siswa dapat membuka catatan tanpa harus membaca seluruh sumber dari awal.
Selain itu, catatan dapat membantu siswa mengetahui bagian mana yang belum dipahami. Ketika mencoba menuliskan penjelasan dengan bahasa sendiri tetapi merasa kesulitan, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa materi tersebut perlu dipelajari atau ditanyakan kembali.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika mencatat adalah berusaha menulis seluruh perkataan guru. Cara tersebut dapat membuat siswa terlalu sibuk mengejar tulisan sehingga justru kehilangan kesempatan untuk memahami penjelasan.
Siswa dapat belajar mengenali kata kunci, konsep utama, contoh penting, rumus, definisi, atau informasi yang secara khusus ditekankan oleh guru. Informasi tersebut kemudian dapat ditulis menggunakan kalimat yang lebih singkat dan mudah dipahami.
Misalnya, ketika guru menjelaskan sebuah konsep yang cukup panjang, siswa tidak selalu harus menyalin seluruh penjelasan. Mereka dapat menulis inti konsep, kemudian menambahkan satu contoh yang membantu memperjelas maksudnya. Dengan cara tersebut, catatan tetap memiliki informasi yang cukup tanpa menjadi terlalu panjang.
Catatan akan lebih mudah dipahami jika siswa menggunakan bahasa yang mereka mengerti. Menyalin definisi dari buku secara persis memang dapat membuat catatan terlihat rapi, tetapi belum tentu membuat siswa benar-benar memahami maknanya.
Setelah mendengarkan penjelasan, siswa dapat mencoba menuliskan kembali inti materi dengan kalimat sederhana. Jika terdapat istilah yang memang harus ditulis sesuai pengertian resmi, istilah tersebut tetap dapat dicantumkan, kemudian diberi penjelasan menggunakan bahasa sendiri.
Kebiasaan ini secara tidak langsung melatih siswa untuk mengolah informasi. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga mencoba menjelaskan kembali apa yang sudah dipahami. Kemampuan menjelaskan suatu konsep dengan bahasa sendiri dapat menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Catatan yang berisi banyak tulisan tanpa pembagian yang jelas dapat membuat siswa kesulitan menemukan informasi ketika membacanya kembali. Karena itu, siswa dapat membuat struktur sederhana menggunakan judul, subjudul, poin, atau penomoran.
Contohnya, materi pelajaran dapat disusun menjadi:
Struktur tersebut membuat mata lebih mudah menemukan bagian tertentu ketika catatan digunakan kembali. Siswa juga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membaca seluruh halaman hanya untuk mencari satu informasi.
Warna dapat digunakan sebagai alat bantu visual ketika membuat catatan. Siswa dapat menggunakan satu warna untuk judul, warna lain untuk kata kunci, atau tanda khusus untuk bagian yang perlu dipelajari lebih lanjut. Namun, penggunaan warna tidak harus berlebihan.
Jika hampir seluruh tulisan diberi warna berbeda, fungsi penanda justru dapat menjadi kurang jelas. Siswa dapat menentukan aturan sederhana agar setiap warna memiliki fungsi tertentu. Misalnya, satu warna digunakan untuk istilah penting dan satu warna lainnya digunakan untuk bagian yang perlu ditanyakan kepada guru.
Tujuan utama penggunaan warna bukan membuat buku terlihat penuh dekorasi, melainkan membantu siswa menemukan informasi dengan lebih cepat. Jika menggunakan satu warna hitam saja sudah membuat catatan mudah dipahami, siswa tidak perlu memaksakan penggunaan banyak warna.
Tidak semua materi paling mudah dipahami dalam bentuk paragraf. Beberapa pelajaran memiliki informasi yang lebih cocok disusun dalam tabel atau diagram. Perbandingan dua konsep, misalnya, dapat dibuat dalam bentuk tabel agar perbedaannya terlihat dengan jelas.
Diagram juga dapat membantu menjelaskan hubungan antara beberapa informasi. Dalam materi yang memiliki proses atau tahapan, siswa dapat membuat alur sederhana menggunakan tanda panah. Cara ini membuat hubungan antarkonsep lebih mudah dilihat daripada menuliskannya sebagai paragraf panjang.
Namun, siswa tidak perlu mengubah semua materi menjadi diagram. Bentuk catatan dapat disesuaikan dengan karakter materi. Jika penjelasan lebih mudah dipahami dalam paragraf, gunakan paragraf. Jika terdapat daftar atau perbandingan, gunakan poin atau tabel.
Siswa terkadang menemukan informasi tambahan setelah pembelajaran selesai. Karena itu, tidak ada salahnya menyisakan sedikit ruang pada halaman catatan. Ruang tersebut dapat digunakan untuk menambahkan contoh, koreksi, atau penjelasan baru.
Cara ini juga membantu ketika guru memberikan penjelasan tambahan pada pertemuan berikutnya. Siswa dapat memperbarui catatan tanpa harus membuat halaman baru atau menulis informasi secara terpisah.
Catatan pada dasarnya merupakan dokumen belajar yang dapat berkembang. Tidak masalah jika sebuah halaman tidak langsung terlihat sempurna. Yang lebih penting adalah informasi di dalamnya dapat membantu siswa memahami materi.
Perkembangan teknologi membuat siswa memiliki pilihan untuk membuat catatan secara digital. Tablet, laptop, atau perangkat lainnya dapat digunakan untuk menyimpan materi dan membuat rangkuman. Catatan digital memiliki kelebihan seperti mudah diedit, dicari, dan disimpan dalam satu perangkat.
Di sisi lain, buku tulis juga tetap memiliki kelebihan. Menulis secara manual dapat membuat siswa lebih aktif memilih informasi yang perlu dicatat karena prosesnya biasanya lebih lambat dibandingkan mengetik. Buku juga tidak membutuhkan baterai atau koneksi internet untuk dibuka kembali.
Karena itu, siswa dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan dan aturan sekolah. Yang terpenting bukan perangkat yang digunakan, tetapi bagaimana catatan tersebut membantu siswa memahami materi dan menggunakannya kembali ketika belajar.
Catatan yang dibuat siswa sebaiknya tidak hanya menjadi kumpulan tulisan yang kemudian disimpan di dalam tas. Setelah pembelajaran selesai, catatan dapat digunakan kembali untuk mengulang materi. Siswa dapat membacanya, mencoba menjelaskan konsep tanpa melihat buku, atau mengerjakan latihan berdasarkan materi yang sudah dicatat.
Jika menemukan bagian yang terasa membingungkan, siswa dapat memberikan tanda khusus. Bagian tersebut kemudian dapat ditanyakan kepada guru atau didiskusikan bersama teman. Dengan demikian, aktivitas mencatat tidak berhenti ketika guru selesai menjelaskan.
Membuat catatan yang mudah dipahami juga dapat melatih siswa menjadi pembelajar yang lebih aktif. Mereka belajar memilih informasi, menyusun gagasan, menghubungkan konsep, dan mengevaluasi bagian yang belum dipahami. Keterampilan tersebut dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan semakin berkembang seiring bertambahnya pengalaman belajar.