Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Pendidikan sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Pada tahap ini, siswa juga mulai membangun dasar pengetahuan dan kebiasaan keagamaan yang dapat berkembang seiring bertambahnya usia. Kemampuan tersebut membutuhkan proses yang bertahap karena anak perlu mengenal materi, berlatih, mendapatkan arahan, dan mengulang kembali apa yang telah dipelajari.
Di SD Al Ma’soem, BTHA tercantum sebagai salah satu mata pelajaran tambahan dalam kurikulum sekolah. BTHA ditempatkan bersama materi seperti Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, Fiqih, Tarikh Islam, Mental Arithmetic, Bahasa Inggris, serta pengenalan dan praktik komputer.
Keberadaan BTHA dalam struktur pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan menjadi salah satu bagian dari pengalaman belajar siswa, berdampingan dengan pembelajaran umum dan pengembangan kemampuan lainnya.
Sekolah dasar merupakan tahap ketika anak mulai membangun berbagai kemampuan yang akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut juga berlaku untuk kemampuan yang berkaitan dengan pendidikan Islam.
Pengetahuan keagamaan tidak selalu dapat berkembang hanya melalui penyampaian teori. Anak membutuhkan kesempatan untuk mengenal, mengulang, dan memahami materi secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Karena itu, pembelajaran yang dilakukan secara terstruktur dapat memberikan ruang bagi siswa untuk membangun dasar kemampuan keagamaan sejak awal. Materi yang dipelajari tidak harus langsung kompleks, tetapi dapat disesuaikan dengan kemampuan anak dan dikembangkan secara bertahap.
SD Al Ma’soem menerapkan konsep full day dengan memadukan Kurikulum Pendidikan Nasional 100 persen dan Kurikulum Al Ma’soem. Salah satu bentuk pengembangan kurikulum tersebut adalah adanya sejumlah mata pelajaran tambahan, termasuk BTHA.
Penempatan BTHA sebagai bagian dari pembelajaran memberikan ruang khusus bagi siswa untuk memperoleh materi keagamaan di lingkungan sekolah. Hal ini berjalan berdampingan dengan pembelajaran umum yang menjadi bagian dari pendidikan dasar.
Dengan struktur tersebut, siswa tidak harus melihat pendidikan umum dan pendidikan keagamaan sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah. Keduanya dapat berlangsung dalam satu lingkungan pendidikan dengan tujuan pembelajaran masing-masing.
Kemampuan membaca dan memahami materi keagamaan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda bagi setiap anak. Ada siswa yang dapat memahami materi dengan cepat, sementara siswa lain membutuhkan pengulangan dan pendampingan lebih banyak.
Proses bertahap memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkuat dasar sebelum melanjutkan ke materi yang lebih kompleks. Anak dapat belajar mengenali kesalahan, memperbaikinya, kemudian mencoba kembali.
Pola seperti ini juga membantu menghindari anggapan bahwa kemampuan keagamaan harus langsung dikuasai dalam waktu singkat. Kemampuan anak berkembang melalui proses belajar yang konsisten.
Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami materi sesuai tingkat kemampuan mereka. Pada usia sekolah dasar, anak masih membutuhkan contoh dan arahan yang jelas sebelum dapat belajar secara lebih mandiri.
Dalam pembelajaran keagamaan, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga dapat membantu siswa memperbaiki kesalahan dan memberikan kesempatan untuk berlatih. Pendampingan tersebut menjadi penting karena kemampuan setiap anak tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.
Cara guru memberikan koreksi juga dapat memengaruhi pengalaman belajar siswa. Arahan yang jelas dan bertahap dapat membantu anak memahami bagian yang perlu diperbaiki tanpa membuat proses belajar terasa sebagai sesuatu yang terlalu berat.
Pembelajaran keagamaan memiliki hubungan dengan kebiasaan yang dibangun siswa dalam kehidupan sekolah. Pengetahuan yang diperoleh anak dapat menjadi dasar untuk memahami berbagai kegiatan keagamaan yang mereka jalani.
Namun, pengetahuan dan kebiasaan tetap merupakan dua hal yang berbeda. Siswa perlu memahami materi sekaligus memperoleh kesempatan untuk menerapkannya dalam konteks yang sesuai.
Karena itu, keberadaan BTHA dapat menjadi salah satu bagian dari lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan dasar keagamaan. Materi yang dipelajari di kelas dapat berjalan bersama pembiasaan dan kegiatan keagamaan lain yang berlangsung di lingkungan sekolah.
BTHA tidak berdiri sendiri dalam struktur pendidikan keagamaan di SD Al Ma’soem. Profil sekolah juga mencantumkan Aqidah Akhlak, Fiqih, dan Tarikh Islam sebagai materi tambahan.
Masing-masing materi memiliki fokus yang berbeda. Siswa dapat mengenal aspek pengetahuan keagamaan, pemahaman mengenai akhlak, dasar-dasar fiqih, serta sejarah Islam melalui pembelajaran yang berbeda.
Keterkaitan tersebut memberikan pengalaman yang lebih luas. Anak tidak hanya berhadapan dengan satu jenis materi keagamaan, tetapi mengenal beberapa bidang yang dapat saling melengkapi dalam memahami pendidikan Islam.
Pendidikan siswa tidak hanya berlangsung dalam satu bidang. Anak tetap membutuhkan kemampuan membaca, berhitung, memahami ilmu pengetahuan, menggunakan teknologi, dan berkomunikasi. Pada saat yang sama, mereka juga dapat memperoleh pendidikan keagamaan.
SD Al Ma’soem menempatkan materi keagamaan bersama berbagai pembelajaran lain dalam sistem pendidikan full day. Selain BTHA, sekolah juga mencantumkan Bahasa Inggris, Mental Arithmetic, serta pengenalan dan praktik komputer sebagai materi tambahan.
Struktur tersebut memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar siswa dapat mencakup berbagai bidang. Anak memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mengenal dasar pendidikan keagamaan dalam lingkungan sekolah yang sama.
Kemampuan yang membutuhkan pengulangan dapat membantu siswa mengenali pentingnya konsistensi dalam belajar. Anak perlu memahami bahwa kemampuan tertentu tidak selalu terbentuk hanya melalui satu kali pembelajaran.
Latihan yang dilakukan secara teratur dapat membantu siswa mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Ketika menemukan bagian yang belum dikuasai, anak dapat kembali berlatih dengan mendapatkan arahan dari guru.
Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan pada bidang lain. Siswa mulai memahami bahwa kemampuan membaca, berhitung, bahasa, maupun pengetahuan keagamaan membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan.
SD Al Ma’soem memiliki visi membentuk generasi yang Cageur, Bageur, Pinter, dengan misi yang mencakup pendidikan umum dan diniyah. Profil sekolah juga menyebut karakter disiplin dan agamis sebagai salah satu ciri khasnya.
Dalam kerangka tersebut, BTHA menjadi salah satu bagian dari pengalaman pendidikan yang berkaitan dengan pembelajaran keagamaan. Keberadaannya melengkapi materi lain yang membantu siswa mengenal pengetahuan Islam secara bertahap.
Bagi siswa SD Al Ma’soem, pembelajaran BTHA dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun kemampuan dasar keagamaan melalui proses yang terarah. Bersama pembelajaran umum, Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, Fiqih, Tarikh Islam, serta berbagai materi lainnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari keseharian pendidikan siswa di lingkungan Al Ma’soem.