Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Mengatur waktu mungkin terdengar seperti kemampuan yang baru dibutuhkan ketika anak sudah remaja atau dewasa, padahal kebiasaan tersebut justru dapat mulai dikenalkan sejak sekolah dasar melalui aktivitas sehari-hari yang sederhana. Anak yang terbiasa memahami kapan waktunya belajar, mengikuti kegiatan, mengerjakan tanggung jawab, bermain, dan beristirahat akan memiliki pengalaman dalam mengatur berbagai kebutuhan tanpa harus selalu diarahkan oleh orang tua. Kemampuan tersebut tidak muncul secara instan, melainkan berkembang melalui kebiasaan yang dilakukan secara bertahap.
Bagi anak yang mengikuti sekolah dengan konsep Full Day, kemampuan mengatur waktu menjadi semakin relevan karena aktivitas di sekolah dapat berlangsung lebih beragam. SD Al Ma’soem sendiri mencantumkan konsep Full Day sebagai bagian dari ciri khas pendidikannya, dengan pembelajaran di kelas yang interaktif serta program ekstrakurikuler, Program Days, dan kesempatan mengikuti kejuaraan maupun lomba. Banyaknya aktivitas bukan berarti anak harus mengikuti semuanya, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar memilih kegiatan yang sesuai sekaligus memahami pentingnya keseimbangan.
Anak SD membutuhkan waktu untuk belajar, tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang membuat tubuh serta pikirannya lebih rileks. Ketika anak terlalu banyak mengikuti kegiatan tanpa memperhatikan waktu istirahat, mereka dapat merasa lelah dan akhirnya kurang menikmati aktivitas yang sebenarnya mereka sukai. Sebaliknya, jika sebagian besar waktu hanya digunakan untuk bermain tanpa adanya rutinitas belajar dan tanggung jawab, anak juga akan kesulitan membangun kebiasaan yang teratur.
Karena itu, pengaturan waktu sebaiknya tidak dipahami sebagai membuat jadwal anak menjadi penuh sejak pagi hingga malam. Tujuannya justru membantu anak memahami prioritas dan mengetahui kapan harus fokus pada suatu kegiatan serta kapan perlu berhenti untuk beristirahat. Orang tua dapat mendampingi anak membuat rutinitas sederhana, sementara sekolah dapat membantu anak memahami jadwal kegiatan selama berada di lingkungan pendidikan.
Ketiganya tidak harus memiliki durasi yang sama karena kebutuhan setiap anak berbeda. Hal yang lebih penting adalah anak tidak merasa bahwa seluruh waktunya harus digunakan untuk kegiatan produktif sampai tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Ekstrakurikuler dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan minat sekaligus belajar mengenai komitmen. SD Al Ma’soem menyediakan berbagai pilihan kegiatan, mulai dari Tahfidz, English Club, Math Club, Sains Club, Futsal, Taekwondo, Catur, Hockey, Basket, Panahan, Robotik, Bola Volly, hingga Paduan Suara. Banyaknya pilihan tersebut memungkinkan anak mengenal berbagai bidang, tetapi bukan berarti semua kegiatan harus diikuti sekaligus.
Ketika anak memilih sebuah kegiatan, mereka secara perlahan belajar bahwa setiap pilihan memiliki waktu dan tanggung jawab yang perlu diperhatikan. Anak yang mengikuti kegiatan olahraga, misalnya, perlu menyesuaikan jadwal latihan dengan kegiatan belajar. Anak yang mengikuti klub akademik juga perlu memahami kapan waktunya mengerjakan tugas dan kapan waktunya mengikuti kegiatan tambahan. Dari sini, anak dapat mulai mengenal konsep prioritas tanpa harus diberikan teori manajemen waktu yang rumit.
Dengan cara tersebut, ekstrakurikuler dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membantu anak belajar mengatur kesibukan sejak dini.
Konsep Full Day membuat pembahasan mengenai pengaturan waktu menjadi cukup penting karena anak menjalani aktivitas pendidikan dalam waktu yang lebih panjang dibandingkan pola sekolah yang lebih singkat. Namun, panjangnya waktu di sekolah tidak otomatis berarti anak harus terus-menerus melakukan kegiatan akademik. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana berbagai kegiatan tersebut dijalani secara terarah dan sesuai kebutuhan anak.
SD Al Ma’soem memadukan kurikulum DIKNAS 100% dengan kurikulum Al Ma’soem serta memberikan tambahan pembelajaran untuk IMTAK dan IPTEK berupa Bahasa Arab, Program Tahfidz, Bahasa Inggris, serta pengenalan dan praktik komputer. Selain pembelajaran tersebut, anak juga memiliki pilihan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat disesuaikan dengan minatnya. Situasi seperti ini membuat anak perlu mengenal rutinitas dan belajar menyesuaikan diri dengan berbagai aktivitas yang dijalani.
Bagi orang tua yang mempersiapkan anak untuk Tahun Ajaran 2027–2028, hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika melihat kesiapan anak mengikuti lingkungan sekolah. Anak tidak harus sudah pandai membuat jadwal sendiri sebelum masuk SD, tetapi akan lebih baik jika mereka mulai dibiasakan memahami rutinitas sederhana di rumah.
Kesalahan yang sering terjadi ketika mengajarkan manajemen waktu kepada anak adalah membuat jadwal yang terlalu detail dan sulit dijalankan. Anak SD justru dapat mulai belajar melalui kebiasaan yang sederhana, misalnya mengetahui bahwa setelah pulang sekolah ada waktu untuk beristirahat, kemudian mengerjakan tugas, melakukan kegiatan yang disukai, dan mempersiapkan perlengkapan untuk keesokan harinya. Rutinitas semacam itu lebih mudah dipahami karena berkaitan langsung dengan aktivitas yang mereka lakukan.
Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi ketika ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan dalam satu hari. Daripada langsung menentukan semuanya, anak dapat diberikan kesempatan memilih urutan kegiatan tertentu selama tanggung jawab utamanya tetap terpenuhi. Cara tersebut dapat membuat anak merasa memiliki peran dalam mengatur kesehariannya sehingga kemampuan mengambil keputusan sederhana juga ikut berkembang.
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu anak memahami bahwa waktu merupakan sesuatu yang perlu digunakan dengan baik.
Anak yang mengikuti banyak kegiatan belum tentu berkembang lebih baik dibandingkan anak yang memiliki kegiatan lebih sedikit. Setiap anak memiliki kebutuhan, energi, dan minat yang berbeda. Ada anak yang senang mencoba banyak aktivitas, sementara anak lain mungkin lebih nyaman fokus pada satu atau dua kegiatan yang benar-benar disukainya. Karena itu, jumlah kegiatan sebaiknya tidak menjadi ukuran utama keberhasilan pengembangan anak.
Memberikan waktu kosong juga penting karena anak membutuhkan kesempatan untuk bermain, berbicara dengan keluarga, melakukan kegiatan yang mereka sukai, atau sekadar beristirahat. Waktu seperti ini bukan berarti terbuang sia-sia. Justru melalui waktu yang lebih longgar, anak dapat memiliki kesempatan untuk mengenali dirinya sendiri dan menikmati masa sekolah tanpa merasa seluruh harinya dipenuhi target.
Orang tua dapat memperhatikan perubahan perilaku anak sebagai salah satu tanda apakah jadwal yang dijalani sudah sesuai. Jika anak masih menikmati kegiatan, mampu menjalankan tanggung jawab, dan memiliki waktu istirahat yang cukup, rutinitas tersebut mungkin masih dapat dijalankan. Namun, jika anak terus terlihat kelelahan, kehilangan minat, atau kesulitan memenuhi tanggung jawab sehari-hari, jadwal kegiatan dapat dievaluasi kembali.
Kemampuan mengatur waktu sebenarnya bukan hanya tentang membuat jadwal, tetapi juga belajar menghargai waktu yang dimiliki. Anak dapat memahami bahwa waktu belajar digunakan untuk belajar, waktu kegiatan digunakan untuk mengembangkan minat, dan waktu istirahat digunakan untuk memulihkan energi. Pemahaman sederhana tersebut dapat membantu mereka menjalani rutinitas dengan lebih teratur tanpa harus merasa setiap menit harus dipenuhi aktivitas.
Lingkungan sekolah yang menyediakan pembelajaran akademik sekaligus berbagai program pengembangan diri dapat menjadi tempat anak mempraktikkan kebiasaan tersebut. SD Al Ma’soem sendiri menjelaskan bahwa peserta didik didorong menyalurkan minat dan bakat melalui ekstrakurikuler, Program Days, serta berbagai kejuaraan dan lomba. Pengalaman mengikuti kegiatan yang beragam dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenai komitmen, aturan, dan pengelolaan waktu.
Pada akhirnya, kemampuan mengatur waktu dapat dibangun sedikit demi sedikit. Anak tidak perlu langsung memiliki jadwal yang sempurna, tetapi dapat mulai memahami kapan waktunya belajar, mengikuti kegiatan, menyelesaikan tanggung jawab, bermain, dan beristirahat. Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bekal penting ketika mereka semakin besar dan menghadapi tuntutan kegiatan yang semakin beragam.