Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Memilih pendidikan sering dikaitkan dengan pertanyaan sederhana: ingin menjadi apa ketika dewasa? Namun, memasuki dunia kerja tidak hanya membutuhkan cita-cita dan ijazah. Seseorang juga perlu memahami bagaimana pekerjaan tersedia, bagaimana perusahaan menentukan kebutuhan tenaga kerja, mengapa tingkat upah berbeda, serta mengapa keterampilan tertentu dapat menjadi lebih dibutuhkan dibandingkan keterampilan lainnya.
Berbagai pertanyaan tersebut berkaitan dengan pasar tenaga kerja, yaitu tempat bertemunya pihak yang menawarkan tenaga, keterampilan, dan waktu dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja. Pasar tenaga kerja tidak berbentuk seperti pasar tempat seseorang membeli barang secara langsung. Transaksi di dalamnya melibatkan kemampuan, produktivitas, informasi, aturan, pengalaman, serta hubungan antara pekerja dan organisasi.
Pemahaman mengenai pasar tenaga kerja dapat membantu pendidikan mempersiapkan seseorang menghadapi perubahan pekerjaan secara lebih realistis.
Dalam konsep ekonomi dasar, pekerja berada pada sisi penawaran tenaga kerja, sedangkan perusahaan berada pada sisi permintaan tenaga kerja.
Perusahaan membutuhkan tenaga kerja karena tenaga tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa. Karena itu, kebutuhan terhadap pekerja dipengaruhi oleh kebutuhan terhadap produk yang dihasilkan.
Misalnya, ketika permintaan terhadap layanan digital meningkat, perusahaan dapat membutuhkan lebih banyak tenaga dengan kemampuan pengembangan perangkat lunak, analisis data, keamanan siber, atau desain digital.
Sebaliknya, jika permintaan terhadap suatu produk menurun dalam jangka panjang, perusahaan dapat mengurangi kebutuhan terhadap jenis pekerjaan tertentu.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak berdiri sendiri. Perubahan teknologi, konsumsi masyarakat, investasi, dan kondisi ekonomi dapat mengubah permintaan terhadap pekerjaan.
Tidak semua pekerjaan memperoleh tingkat upah yang sama. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah produktivitas tenaga kerja, yaitu seberapa besar nilai output yang dapat dihasilkan melalui pekerjaan seseorang dalam kondisi tertentu.
Namun, upah tidak ditentukan oleh produktivitas saja. Tingkat keterampilan yang dibutuhkan, kelangkaan tenaga dengan kemampuan tertentu, kondisi industri, lokasi, pengalaman, institusi ketenagakerjaan, serta kekuatan tawar-menawar juga dapat memengaruhi tingkat upah.
Misalnya, sebuah pekerjaan mungkin membutuhkan keahlian yang sangat khusus tetapi hanya memiliki sedikit tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Kelangkaan keterampilan dapat meningkatkan nilai tenaga kerja tersebut di pasar.
Sebaliknya, jika jumlah orang yang memiliki keterampilan serupa jauh lebih banyak daripada kebutuhan perusahaan, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dapat menjadi lebih tinggi.
Pendidikan berperan dalam membentuk human capital atau modal manusia, yaitu pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan kualitas lain yang dapat meningkatkan kapasitas seseorang dalam melakukan pekerjaan.
Pendidikan tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan tertentu. Namun, pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan pengetahuan atau keterampilan tertentu.
Contohnya, seseorang yang mempelajari analisis data dapat memiliki kemampuan menggunakan metode statistik dan perangkat analisis. Seseorang yang mempelajari desain dapat mengembangkan kemampuan visual dan pemecahan masalah kreatif.
Yang menjadi tantangan adalah memastikan keterampilan yang diperoleh tetap relevan dengan kebutuhan yang berkembang.
Ijazah dapat menjadi salah satu sinyal mengenai latar belakang pendidikan seseorang, tetapi dunia kerja biasanya membutuhkan bukti kemampuan yang lebih luas.
Perusahaan dapat mempertimbangkan pengalaman, keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap pekerjaan yang akan dilakukan.
Hal ini tidak berarti pendidikan formal menjadi tidak penting. Justru pendidikan dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan kemampuan yang lebih spesifik.
Masalah muncul ketika seseorang menganggap pendidikan sebagai proses memperoleh dokumen akhir, bukan proses membangun kemampuan yang dapat digunakan.
Karena itu, pendidikan perlu membantu seseorang memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan masalah nyata yang mungkin dihadapi di dunia kerja.
Perubahan teknologi merupakan salah satu faktor penting dalam pasar tenaga kerja. Teknologi dapat menggantikan sebagian tugas manusia, tetapi juga dapat menciptakan jenis pekerjaan baru atau mengubah isi pekerjaan lama.
Misalnya, otomatisasi dapat mengambil alih pekerjaan yang sangat rutin dan berulang. Pada saat yang sama, organisasi membutuhkan orang yang mampu mengembangkan, mengawasi, memperbaiki, dan menggunakan teknologi tersebut.
Artinya, perubahan teknologi tidak selalu berarti seluruh pekerjaan akan hilang. Yang sering berubah adalah tugas yang membentuk sebuah pekerjaan.
Pemahaman ini penting agar seseorang tidak hanya bertanya, “Pekerjaan apa yang aman?” tetapi juga bertanya, “Bagian pekerjaan mana yang kemungkinan berubah dan keterampilan apa yang perlu dikembangkan?”
Pasar tenaga kerja memiliki persoalan information asymmetry, yaitu kondisi ketika pekerja dan perusahaan tidak memiliki informasi yang sama.
Perusahaan mungkin belum mengetahui sepenuhnya kemampuan seorang pelamar. Sebaliknya, pelamar mungkin tidak mengetahui secara lengkap kondisi pekerjaan, budaya organisasi, beban kerja, atau peluang pengembangan yang sebenarnya.
Karena informasi tidak sempurna, proses rekrutmen menggunakan berbagai sinyal seperti portofolio, pengalaman, sertifikasi, hasil tes, wawancara, dan rekomendasi.
Pendidikan dapat mengajarkan seseorang untuk tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mengevaluasi informasi tentang pekerjaan secara kritis. Deskripsi pekerjaan, persyaratan, kompensasi, tanggung jawab, dan peluang pengembangan perlu dibaca secara teliti.
Kebutuhan pasar tenaga kerja tidak bersifat tetap. Ketika struktur ekonomi berubah, jenis keterampilan yang dibutuhkan juga dapat berubah.
Perkembangan teknologi, perubahan pola konsumsi, perubahan demografi, kebijakan pemerintah, dan munculnya industri baru dapat memengaruhi permintaan tenaga kerja.
Karena itu, kemampuan belajar sepanjang hayat atau lifelong learning menjadi semakin penting. Seseorang mungkin memasuki dunia kerja dengan keterampilan tertentu, tetapi tetap perlu mempelajari kemampuan baru ketika tuntutan pekerjaan berubah.
Pendidikan dapat membangun kebiasaan tersebut sejak awal dengan mengajarkan bahwa belajar bukan aktivitas yang berhenti setelah seseorang mendapatkan ijazah.
Pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan yang menghubungkan pendidikan dengan dunia nyata. Peserta didik dapat diminta mengamati berbagai jenis pekerjaan dan mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan.
Mereka juga dapat membandingkan beberapa profesi berdasarkan tugas, pendidikan, keterampilan, teknologi yang digunakan, dan kemungkinan perubahan pekerjaan di masa depan.
Simulasi rekrutmen juga dapat digunakan. Satu kelompok berperan sebagai perusahaan dan kelompok lain sebagai pelamar. Peserta kemudian dapat mendiskusikan mengapa seseorang dipilih, keterampilan apa yang dianggap penting, dan informasi apa yang masih belum diketahui oleh kedua pihak.
Dengan pendekatan tersebut, anak belajar bahwa mendapatkan pekerjaan bukan hanya persoalan “ingin menjadi apa”, tetapi juga bagaimana kemampuan seseorang bertemu dengan kebutuhan organisasi.
Perencanaan karier menjadi lebih realistis ketika seseorang memahami hubungan antara minat, kemampuan, pendidikan, dan kebutuhan pasar.
Seseorang tidak harus memilih pekerjaan hanya berdasarkan tren. Ia dapat mempertimbangkan apakah keterampilan yang ingin dikembangkan memiliki kegunaan di berbagai situasi, bagaimana teknologi dapat mengubah pekerjaan tersebut, serta peluang untuk terus belajar.
Pemahaman ini juga membantu seseorang menerima bahwa jalur karier dapat berubah. Pekerjaan pertama tidak selalu menentukan seluruh perjalanan profesional. Ketika kemampuan berkembang dan kondisi pasar berubah, seseorang dapat menyesuaikan arah.
Dengan mengenalkan konsep pasar tenaga kerja sejak dini, pendidikan dapat membantu generasi muda melihat dunia kerja bukan sebagai sesuatu yang baru dipahami setelah lulus. Mereka dapat mulai memahami bahwa pekerjaan terbentuk dari hubungan antara kebutuhan organisasi, keterampilan manusia, teknologi, informasi, dan kondisi ekonomi. Cara pandang tersebut membuat pilihan pendidikan dan pengembangan keterampilan menjadi lebih terarah serta lebih siap menghadapi perubahan.