Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang masif di era modern sering kali membuat anak-anak usia sekolah dasar teradiksi oleh gawai pintar serta permainan virtual yang cenderung pasif dan individualistis. Di Yayasan Al Ma’soem Bandung, tantangan dekulturasi budaya lokal tersebut dijawab secara arif melalui pelestarian warisan budaya bangsa yang dikemas secara interaktif. Kompleks fasilitas lapangan olahraga luar ruangan yang luas, bersih, dan representatif di lingkungan sekolah tidak hanya dimanfaatkan untuk olahraga modern, melainkan juga bertransformasi menjadi arena riang gembira bagi berbagai ragam permainan tradisional nusantara.
Pertanyaan yang sering diajukan oleh para orang tua murid serta pemerhati kebudayaan adalah mengenai bentuk pelestarian budaya di sekolah ini. Apa saja jenis permainan tradisional yang sering dimainkan di lapangan SD Al Ma’soem? Jawabannya mencakup permainan bakiak beregu yang melatih sinkronisasi langkah, engrang bambu yang menguji keseimbangan, bentengan yang menajamkan strategi kelompok, ular naga yang mempererat kebersamaan, hingga gasing dan boy-boyan yang memicu ketangkasan motorik.
Pendidikan dasar yang unggul tidak boleh tercerabut dari akar budaya bangsanya sendiri. Di SD Al Ma’soem, penanaman kecintaan terhadap budaya lokal diintegrasikan ke dalam program kegiatan kokurikuler dan acara khusus sekolah yang memanfaatkan area lapangan luar ruangan secara optimal.
Pihak sekolah menyadari bahwa permainan tradisional memiliki nilai-nilai edukasi karakter yang jauh lebih kaya dibandingkan permainan digital modern. Melalui interaksi fisik langsung di atas hamparan lapangan rumput sintetis yang aman, anak-anak diajak untuk mengenal, merasakan, dan mencintai warisan leluhur bangsa Indonesia. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi semata, melainkan juga sebagai media efektif pelestarian identitas budaya nasional sejak usia dini.
Salah satu jenis permainan tradisional yang paling sering dimainkan dan paling dinanti-nantikan oleh para siswa di lapangan SD Al Ma’soem adalah bakiak beregu atau nampan panjang. Permainan ini menggunakan sebilah papan panjang berukuran khusus yang diberi beberapa pasang sandal kayu, di mana tiga hingga lima anak harus berdiri di atasnya secara berbaris dan berjalan bersama-sama menuju garis finish.
Di atas permukaan lapangan yang rata dan empuk, permainan ini menghadirkan tantangan koordinasi yang sangat tinggi. Jika salah satu anak salah melangkah atau tidak menyelaraskan tempo, seluruh tim akan goyah atau terjatuh. Melalui permainan bakiak ini, anak-anak belajar arti penting komunikasi yang efektif, kepedulian terhadap kemampuan teman sekelompok, serta penyatuan ritme kerja sama tim demi mencapai tujuan bersama tanpa sifat egois.
Bentengan merupakan salah satu permainan tradisional kolosal yang sangat digemari oleh siswa-siswi SD Al Ma’soem saat jam istirahat atau jam pelajaran olahraga luar ruang. Memanfaatkan area lapangan yang luas dan bersih, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok besar yang masing-masing memiliki “benteng” berupa tiang atau tanda batas di sisi lapangan yang berlawanan.
Permainan ini menuntut kombinasi keterampilan fisik yang lengkap: kecepatan lari, ketangkasan mengelabui lawan, kepekaan melindungi teman yang tertawan, serta strategi bertahan dan menyerang yang matang. Di atas lapangan yang aman dari risiko cedera, anak-anak dapat berlari dengan leluasa, melatih kapasitas kardiovaskular, serta mengasah kecerdasan taktis dalam memenangkan permainan secara jujur dan sportif.
Keriangan sosial yang murni terpancar secara jelas saat permainan tradisional Ular Naga Panjang dimainkan di tepian lapangan SD Al Ma’soem. Permainan ini melibatkan puluhan anak yang berbaris memanjang sambil memegang pundak teman di depannya, berjalan melingkar di bawah terowongan tangan yang dibentuk oleh dua orang penjaga.
Sambil bernyanyi bersama lagu pengiring tradisional, suasana keakraban tercipta secara alami tanpa memandang perbedaan kelas atau latar belakang pertemanan. Permainan ini sangat efektif untuk meredakan kejenuhan mental setelah berjam-jam fokus belajar di dalam kelas, melatih kelenturan tubuh melalui gerakan meliuk-liuk, serta menanamkan rasa kebersamaan, sportivitas saat tertangkap, dan kegembiraan kolektif yang mendalam.
Selain permainan kelompok besar, lapangan SD Al Ma’soem sering kali menjadi saksi keseruan anak-anak memainkan engrang bambu mini serta permainan boy-boyan (pecah piring menggunakan bola tenes dan tumpukan pecahan genting atau lempengan). Engrang bambu melatih keseimbangan tubuh tingkat tinggi, keberanian mental, serta fokus konsentrasi yang prima dari para pelakunya.
Sementara itu, permainan boy-boyan di atas lapangan terbuka melatih ketepatan lempar, kecepatan refleks menghindar, serta kerja sama tim dalam menyusun kembali tumpukan pecahan di bawah tekanan serangan lawan. Seluruh rangkaian permainan tradisional berintensitas fisik ini merangsang perkembangan motorik kasar, kekuatan otot kaki, serta ketangkasan spasial anak secara optimal.
Seluruh ragam permainan tradisional yang dilestarikan dan dimainkan di lapangan SD Al Ma’soem bermuara pada pencapaian visi utama yayasan dalam melahirkan generasi yang Cageur, Bageur, dan Pinter.
Aktivitas fisik yang dinamis, lari, lompat, dan keseimbangan tubuh dalam permainan tradisional menjaga kesehatan jasmani, kekuatan tulang, serta kebugaran prima anak-anak (“Cageur”). Semangat gotong royong, kejujuran, sportivitas, dan rasa kekeluargaan menanamkan budi pekerti luhur serta akhlak mulia (“Bageur”). Dengan jiwa yang gembira, pikiran yang segar, dan mental sosial yang matang melalui pelestarian budaya, konsentrasi belajar akademik di dalam kelas dapat tercapai dengan hasil yang paling gemilang (“Pinter”).
Jenis permainan tradisional yang sering dimainkan di lapangan SD Al Ma’soem meliputi bakiak beregu, bentengan strategis, ular naga yang riang, engrang bambu, hingga boy-boyan yang ketangkasan. Kehadiran ragam permainan warisan leluhur di atas fasilitas lapangan modern ini membuktikan komitmen SD Al Ma’soem dalam memadukan pelestarian budaya lokal dengan metode pendidikan holistik yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik.