Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Pendidikan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan nilai-nilai keagamaan. Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan Al Ma’soem melalui pendidikan Full Day & Boarding School. Dalam program pendidikan Al Ma’soem, siswa mendapatkan pembelajaran akademik sekaligus pembinaan keagamaan melalui program pesantren, termasuk program tahfidz.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan program tahfidz dan pembelajaran umum? Secara sederhana, pembelajaran umum berfokus pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan akademik sesuai kurikulum sekolah, sedangkan program tahfidz memberikan perhatian khusus pada kemampuan siswa dalam menghafal Al-Qur’an sekaligus membangun kebiasaan ibadah dan nilai-nilai keagamaan. Keduanya tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang saling melengkapi.
Program tahfidz merupakan salah satu bagian khusus dalam pendidikan Al Ma’soem. Pada jenjang SMP, program ini disebut sebagai Program Tahfidz (Ziyadah dan Mutqin). Sementara itu, informasi sekolah mencantumkan bahwa siswa mengikuti program tahfidz dengan target minimal 3 juz. Program tersebut juga disertai dengan pelaksanaan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama.
Pada jenjang SMA, Al Ma’soem juga mencantumkan Tahfidz & Ibadah sebagai salah satu program khusus. Target program tahfidz yang tercantum adalah minimal 3 juz, disertai shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama. Dengan demikian, tahfidz tidak hanya diarahkan pada aktivitas menghafal Al-Qur’an, tetapi juga ditempatkan dalam lingkungan pembiasaan ibadah.
Program tahfidz juga memiliki bentuk apresiasi tersendiri. Dalam informasi sekolah disebutkan adanya Beasiswa Tahfidz, Santri of The Month, penghargaan Muadzin, Khatam Qur’an, serta bebas DOP bagi siswa berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian siswa dalam bidang keagamaan juga mendapatkan perhatian dalam lingkungan pendidikan Al Ma’soem.
Pembelajaran umum dalam konteks sekolah berkaitan dengan kegiatan pendidikan akademik dan pengembangan kompetensi siswa secara luas. Al Ma’soem menerapkan Kurikulum Merdeka pada jenjang SMA, sedangkan jenjang SMP menggunakan Kurikulum Holistik. Selain itu, tersedia kelas internasional dan berbagai kegiatan pendukung pembelajaran.
Pada jenjang SMP, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui kegiatan di dalam kelas. Sekolah juga memiliki berbagai kegiatan kokurikuler seperti Math Day, Cooking Day, Expression Day, Muslim Day yang dilengkapi Manasik Haji, Sains Day, Sport Day, Independence Day, Batik Day, English Day, Career Day, serta Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda.
Sementara itu, pada jenjang SMA terdapat kelas interaktif, native teacher, program sukses PTN, kelas internasional, serta berbagai fasilitas laboratorium untuk mendukung pembelajaran. Laboratorium yang tersedia meliputi laboratorium komputer, biologi, fisika, kimia, dan bahasa.
Dengan demikian, pembelajaran umum memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup berbagai bidang pengetahuan, keterampilan, kegiatan akademik, serta aktivitas pengembangan diri.
Perbedaan pertama terletak pada fokus pembelajaran. Program tahfidz berfokus pada Al-Qur’an, khususnya proses menghafal dan menjaga hafalan. Pada informasi SMP Al Ma’soem, program tersebut menggunakan istilah Ziyadah dan Mutqin. Selain tahfidz, pembelajaran pesantren juga mencakup Al-Qur’an Tajwid, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.
Sementara itu, pembelajaran umum mempunyai cakupan akademik yang lebih beragam. Siswa mendapatkan kegiatan pendidikan yang mendukung pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan potensi sesuai program sekolah. Keberadaan laboratorium komputer, biologi, fisika, kimia, dan bahasa menjadi salah satu pendukung kegiatan pembelajaran tersebut.
Perbedaan kedua adalah tujuan yang dikembangkan. Program tahfidz diarahkan untuk membangun kemampuan siswa dalam menghafal Al-Qur’an serta membiasakan kegiatan ibadah. Sementara itu, pembelajaran umum diarahkan pada pengembangan kemampuan akademik dan keterampilan siswa dalam berbagai bidang.
Perbedaan ketiga terdapat pada materi yang dipelajari. Dalam program pesantren, siswa mendapatkan materi seperti Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab. Pada pembelajaran umum, siswa mengikuti berbagai kegiatan akademik dan kokurikuler yang lebih beragam sesuai jenjang pendidikannya.
Adanya program tahfidz bukan berarti siswa hanya berfokus pada hafalan Al-Qur’an dan mengesampingkan pembelajaran akademik. Justru, berdasarkan materi yang tersedia, pendidikan Al Ma’soem dirancang dengan berbagai komponen pembelajaran.
Pada SMP Al Ma’soem, misalnya, selain program tahfidz terdapat kelas internasional, 10 kegiatan kokurikuler, peminatan olimpiade, serta beasiswa akademik dan nonakademik. Sementara pada jenjang SMA terdapat Kurikulum Merdeka, kelas internasional, program sukses PTN, kelas interaktif, native teacher, serta beasiswa akademik dan nonakademik.
Hal ini memperlihatkan bahwa program tahfidz ditempatkan sebagai salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang lebih luas. Siswa tetap memperoleh pembelajaran akademik sekaligus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan keagamaan.
Program tahfidz di Al Ma’soem juga berada dalam lingkungan pembelajaran pesantren. Pada jenjang SMP maupun SMA, pembelajaran pesantren mencakup Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.
Bagi siswa boarding, lingkungan pesantren juga didukung fasilitas pondok putra dan putri yang terpisah, kamar berkapasitas 4–6 orang dengan kamar mandi di dalam, laundry dan catering, aula, security 24 jam, CCTV, internet, sistem informasi santri berbasis Android, minimarket, serta fasilitas olahraga.
Lingkungan tersebut membuat kegiatan pendidikan tidak hanya berlangsung ketika siswa berada di kelas. Dalam sistem boarding, kehidupan siswa juga berada dalam lingkungan yang mendukung kegiatan pesantren dan pembiasaan ibadah.
Program tahfidz dan pembelajaran umum dapat berjalan berdampingan karena keduanya memiliki ruang pengembangan yang berbeda. Pembelajaran umum memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, keterampilan, kreativitas, dan berbagai potensi. Sementara itu, tahfidz memberikan ruang untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an serta pembiasaan kegiatan keagamaan.
Konsep pendidikan Al Ma’soem sendiri dirangkum melalui pembentukan generasi CAGEUR, BAGEUR, dan PINTER. CAGEUR berarti takwa, disiplin, dan tangguh; BAGEUR berarti akhlak, jujur, dan manfaat; sedangkan PINTER berarti cerdas, adaptif, dan mandiri.
Pada jenjang SMP, konsep tersebut juga digunakan dengan tagline Future Skills, sedangkan program pendidikan mencakup kurikulum holistik, kelas internasional, tahfidz, kokurikuler, peminatan olimpiade, serta beasiswa akademik dan nonakademik.
Artinya, pendidikan tidak hanya diarahkan pada satu kemampuan. Aspek keagamaan dan akademik dapat dikembangkan secara bersamaan sebagai bagian dari pembentukan siswa.
Jadi, perbedaan program tahfidz dan pembelajaran umum terutama terletak pada fokus, materi, dan tujuan pengembangannya. Program tahfidz lebih berfokus pada kemampuan menghafal Al-Qur’an, pembelajaran Al-Qur’an, serta pembiasaan ibadah. Di Al Ma’soem, program tersebut memiliki target minimal 3 juz dan dilengkapi kegiatan shalat wajib berjamaah serta Dhuha bersama.
Sementara itu, pembelajaran umum memiliki cakupan yang lebih luas, meliputi pendidikan akademik, kegiatan kokurikuler, pengembangan keterampilan, kelas internasional, kegiatan olimpiade, hingga berbagai fasilitas pembelajaran. Keduanya bukanlah dua program yang harus dipertentangkan. Dalam sistem pendidikan Al Ma’soem, program tahfidz dan pembelajaran umum justru dapat menjadi bagian