Islam agama yang paling benar

‎بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَلَمْ  تَرَ  اِلَى  الَّذِيْنَ  اُوْتُوْا  نَصِيْبًا  مِّنَ  الْكِتٰبِ  يُؤْمِنُوْنَ  بِا لْجِبْتِ  وَا لطَّا غُوْتِ  وَيَقُوْلُوْنَ  لِلَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  هٰۤؤُلَآ ءِ  اَهْدٰى  مِنَ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  سَبِيْلًا

“Tidaklah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Tagut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 51)

Merasa paling benar

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Ayat ini turun berkenaan Ka’ab bin Al Asyraf dan ulama Yahudi semisalnya, yakni ketika mereka datang ke Mekah dan menyaksikan orang-orang musyrik yang terbunuh dalam perang Badar, mereka pun membangkitkan semangat kaum musyrik untuk melakukan tindakan pembalasan dan memerangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Ketika Ka’ab bin Al Asyraf tiba di Mekah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya, “Kamu adalah penduduk Madinah terbaik dan tokoh mereka.” Ka’ab berkata, “Ya.” Mereka berkata, “Tidakkah kamu melihat kepada laki-laki yang lemah ini yang terputus keturunannya dari kaumnya, yang menyangka bahwa dirinya lebih baik daripada kita, padahal kami orang-orang yang melakukan haji, para pelayan (ka’bah) dan para pemberi minum (jamaah haji).” Ka’ab berkata, “Kalian lebih baik daripadanya.” Maka turunlah ayat,

اِنَّ  شَا نِئَكَ  هُوَ  الْاَ بْتَرُ
“Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
(QS. Al-Kausar 108: Ayat 3)

dan turun pula ayat, “Alam tara ilalladziina…sampai, “Falan tajida lahuu nashiiraa.” (An Nisa 51-52)
Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnu Katsir, ia berkata: Imam Ahmad berkata, “Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi ‘Addi hadits itu.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya sebagaimana dalam Mawaarid hal. 428, dan para perawinya adalah para perawi kitab shahih, hanya saja yang rajih adalah mursal sebagaimana disebutkan dalam Takhrij Tafsir Ibnu Katsir.
Jibt dan Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Hal ini termasuk perilaku buruk orang-orang Yahudi dan kedengkian mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukmin. Akhlak mereka yang buruk dan tabi’at mereka yang jelek membuat mereka tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, bahkan menggantinya dengan beriman kepada jibt dan thagut, yakni malah percaya dengan peribadatan kepada selain Allah atau menetapkan sesuatu dengan selain syari’at Allah. Termasuk ke dalam jibt dan thagut pula sihir, perdukunan, beribadah kepada selain Allah dan menaati setan. Demikian juga kekafiran dan sifat dengki mereka membuat mereka mengutamakan jalan orang-orang kafir para penyembah berhala.

Yakni ketika Abu Sufyan dan kawan-kawannya berkata kepada mereka (ulama Yahudi), “Apakah kami lebih benar jalannya, di mana kami memberi minum jama’ah haji, menjamu tamu, membebaskan tawanan dan melakukan lainnya ataukah Muhammad, di mana ia menyelisihi agama nenek moyangnya, memutuskan tali silaturrahim dan berpisah dari tanah haram?”, maka ulama Yahudi menjawab, “Kalian (musyrik Mekah) lebih lurus jalannya daripada orang-orang yang beriman.” Ucapan ini disampaikan sebagai tindakan pendekatan mereka dengan orang-orang kafir Mekah dan karena benci kepada keimanan.

Bagaimana mungkin agama yang tegak di atas peribadatan kepada patung dan berhala, mengharamkan hal yang baik-baik, menghalalkan yang kotor, menghalalkan banyak hal yang haram, berlaku zalim kepada manusia, menyamakan antara Pencipta dengan makhluk, ingkar kepada Allah, rasul-rasul dan kitab-kitab-Nya sama atau lebih baik daripada agama yang tegak di atas peribadatan kepada Allah, berbuat ikhlas baik secara sembunyi maupun terang-o, mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, memerintahkan menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada semua manusia, bahkan kepada hewan pula, menegakkan keadilan di antara manusia, mengharamkan kezaliman dan perkara kotor serta memerintahkan kejujuran? Tentu tidak sama, dan agama yang tegak di atas peribadatan kepada Allah dan memerintahkan berbuat ihsan tentu lebih baik, lebih benar dan lebih lurus jalannya.

Alquran menyampaikan bahwa agama Islam adalah agama yang benar dan unggul dari agama-agama lainnya. Untuk menjamin kesempurnaan agama Islam diutuslah Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa petunjuk yakni Alquran
هُوَ  الَّذِيْۤ  اَرْسَلَ  رَسُوْلَهٗ  بِا لْهُدٰى  وَدِيْنِ  الْحَـقِّ  لِيُظْهِرَهٗ  عَلَى  الدِّيْنِ  كُلِّهٖ   ۙ وَلَوْ  كَرِهَ  الْمُشْرِكُوْنَ
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 33)

Semoga kita merasa bangga dan bahagia dengan Islam dan yakin bahwa Islam lah agama yang benar.