Larangan Memakan Harta Anak Yatim

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاٰ  تُوا  الْيَتٰمٰۤى  اَمْوَا لَهُمْ  وَلَا  تَتَبَدَّلُوا  الْخَبِيْثَ  بِا لطَّيِّبِ   ۖ وَلَا  تَأْكُلُوْۤا  اَمْوَا لَهُمْ  اِلٰۤى  اَمْوَا لِكُمْ   ۗ اِنَّهٗ  كَا نَ  حُوْبًا  كَبِيْرًا‏

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah dewasa) harta mereka, janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sungguh, (tindakan menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 2)

Jangan memakan harta anak yatim

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nisa Ayat 2

Ayat ini menjelaskan siapa yang harus dipelihara hak-haknya dalam rangka bertakwa kepada Allah. Dan berikanlah, wahai para wali atau orang yang diberi wasiat mengurus, kepada anak-anak yatim yang sudah dewasa lagi cerdas untuk mengelola harta mereka sendiri yang ada di dalam kekuasaanmu, dan janganlah kamu menukar harta anak yatim yang baik, lalu karena ketamakan kamu mengambil atau menukar harta mereka. Tindakan itu sama halnya menukar yang baik dengan yang buruk. Dan demikian pula, janganlah kamu makan harta mereka bersama hartamu dengan ikut memanfaatkan harta mereka demi kepentingan diri sendiri. Sungguh, tindakan menukar dan memakan itu adalah dosa yang besar. Jika kamu melakukan hal itu, kamu akan mendapat laknat dan murka dari Allah

Siksaan-siksaan yang akan diperoleh orang-orang yang suka memakan harta anak yatim. Ini juga dapat ditemukan dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib karangan Imam Al Mundziri.

Pertama, masuk neraka yang menyala-nyala. Allah berfirman dalam surat An Nisaa ayat 10:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارً‌ا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرً‌ا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan zalim, sejatinya mereka memakan di dalam perutnya api neraka dan mereka akan masuk neraka yang menyala-nyala.”

Kedua, dibangkitkan dari kubur dengan mulut berkobar api.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَوْمٌ مِنْ قُبُوْرِهِمْ تَأَجَّجُ أَفْوَاهُهُمْ نَارًا ,فَقِيْلَ مَنْ هُمْ يَارَسُوْلَ اللَّهِ ؟ قَالَ : اَلَمْ تَرَأَنَّ اللَّهَ يَقُوْلُ : إِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًاإِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِى بُطُوْنِهِمْ نَارًا.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan dibangkitkan pada hari kiamat suatu kaum dari kuburannya, berkobar-kobar api dimulutnya. Bertanya sahabat, siapa mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab: Tidaklah kamu mengerti bahwa Allah telah berfirman :

إِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًاإِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِى بُطُوْنِهِمْ نَارًا.

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.” (HR Abu Ya’laa)

Ketiga, dimasukan batu neraka dari mulut ke dubur

وَفِى حَدِيْثِ الْمِعْرَاجِ عِنْدَمُسْلِمٍ فَاِذَااَنَابِرِجَالٍ وَقَدْوُكِّلَ بِهِمْ رِجَالٌ يَفُكُّوْنَ لِحَاهُمْ وَاَخَرُوْنَ يَجِيْئُوْنَ بِالصُّخُوْرِمِنَ النَّارِفَيَقْذِفُوْنَهَا فِى أَفْوَاهِهِمْ فَتَخْرُجُ مِنْ اَدْبَارِهِمْ ,فَقُلْتُ يَاجِبْرِيْلُ مَنْ هَؤُلَاءِ قَالَ: اَ لَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا اِنَّمَايَأْكُلُوْنَ فِى بُطُوْنِهِمْ نَارًا.

Disebutkan dalam hadits yang mengisahkan tentang Isra Miraj yang ada dalam Shahih Muslim. “Tiba-tiba saya (Rasulullah) bertemu dengan para lelaki, mereka diserahkan kepada orang lainnya yang membuka rahang mereka, berdatangan dengan membawa batu besar dari api neraka dan melemparkan kepada para lelaki itu.

Kemudian batu itu keluar melalui dubur-dubur para lelaki itu. Maka aku bertanya,” Wahai Jibril siapa mereka?” Jibril berkata, “Mereka adalah orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api neraka.”

Memelihara anak yatim menjadi sebuah amalan yang mulia dan memiliki banyak keutamaan.

Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,” (QS. Al-Baqarah: 220)

Memelihara anak yatim bukanlah sebuah amalan wajib sebagaimana amalan-amalan dalam rukun islam. Akan tetapi, dalam beberapa sumber dikatakan bahwa memelihara anak yatim hukumnya fardhu kifayah. Fardhu kifayah adalah harus ada yang mewakili untuk melaksanakan kewajiban tersebut.

“Aku dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d).

Semoga kita diberi keringanan untuk memelihara anak yatim, menyantuni anak yatim jangan sampai malah kita memakan harta anak yatim