Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَثَلُ مَا يُنْفِقُوْنَ فِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِ يْحٍ فِيْهَا صِرٌّ اَصَا بَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فَاَ هْلَكَتْهُ ۗ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّٰهُ وَلٰـكِنْ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
“Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 117)
Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
Perumpamaan apa yang diinfakan oleh orang-orang kafir dalam berbagai jenis kebajikan di kehidupan dunia ini dan apa yang mereka harap-harapkan dari pahala, adalah seperti angin yang membawa hawa dingin menusuk yang bertiup menerjang tanaman-tanaman satu kaum yang mereka itu mengharap hasil panen baiknya, dan disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, maka angin itu tidak menyisakan sedikitpun dari tanaman itu. Orang-orang kafir itu tidak menjumpai pahala di akhirat. Dan Allah tidak mendzhalimi mereka dengan kejadian itu, akan tetapi mereka sendiri yang telah mendzhalimi diri mereka sendiri dengan tindakan kekufuran dan maksiat mereka tersebut.
Referensi : https://tafsirweb.com/1249-surat-ali-imran-ayat-117.html
Allah SWT memiliki kuasa atas segalanya. Secara logika, kehendak Allah memungkinkan untuk melakukan apapun termasuk kezaliman sekalipun. Namun mengapa Allah tak melakukan kezaliman?
Akar kezaliman biasanya adalah kejahilan, takut, kebutuhan, kerakusan, dan lainnya. Tetapi Allah adalah Tuhan Mahasegalanya. Untuk itu, Allah tak mungkin melakukan kezaliman kepada makhluk-makhluk-Nya.
نَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
“Innallaha la yazhlimu mitsqala dzarratin wa in taku hasanatan yudha’ifha wa yu’thi min ladunhu ajran azhiman.”
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah. Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dari sisiNya pahala yang besar,”.
Dalam kitab “Tafsir Nurul Qur’an” karya Allamah Kamal Faqih Imani dijelaskan, ayat tersebut sesungguhnya berbicara kepada orang-orang yang tidak beriman lagi kikir. Yang statusnya juga diisyaratkan dalam beberapa ayat Alquran lainnya.
Dalam ayat tersebut, kalimat ‘sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah’, berarti mustahil bagi Allah menzalimi seluruh makhluk ciptaannya. Kalaupun manusia diberikan musibah, hal itu bukan berarti Allah menzalimi manusia yang bersangkutan.
Kata zarrah dalam bahasa Arab berarti semut yang sangat kecil. Tidak dapat dilihat dengan mudah. Mengingat bahwa kata mitsqal dalam bahasa Arab berarti bobot, maka frase yang digunakan Alquran dalam kalimat mitsqala dzarratin memiliki arti berat dari sebuah benda yang luar biasa kecilnya.
Allah, kata beliau, dalam ayat tersebut bukan hanya mengisyaratkan tak melakukan kezaliman, melainkan memberikan rahmat dan kasihnya. Allah akan melipatgandakan amal manusia walaupun amal itu hanyalah sebesar zarrah.
Di sisi lain, Allah juga memerintahkan manusia untuk berbuat adil dan melakukan kebaikan. Jadi bagaimana mungkin Allah sendiri merupakan zat yang zalim? Justru Allah merupakan zat yang pemurah, dan rahmatnya mengelilingi manusia dan makhluk lainnya.
Doa Keteguhan Iman
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)