Orang yang Berdusta atas Nama Allâh adalah Orang yang Zhalim

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ نَّ  مِنْهُمْ  لَـفَرِ يْقًا  يَّلْوٗنَ  اَلْسِنَتَهُمْ  بِا لْكِتٰبِ  لِتَحْسَبُوْهُ  مِنَ  الْكِتٰبِ  وَمَا  هُوَ  مِنَ  الْكِتٰبِ   ۚ وَيَقُوْلُوْنَ  هُوَ  مِنْ  عِنْدِ  اللّٰهِ  وَمَا  هُوَ  مِنْ  عِنْدِ  اللّٰهِ   ۚ وَيَقُوْلُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  الْكَذِبَ  وَ  هُمْ  يَعْلَمُوْنَ

“Dan sungguh, di antara mereka niscaya ada segolongan yang memutarbalikkan lidahnya membaca kitab, agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab dan mereka berkata, Itu dari Allah, padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 78)

Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya, dan merubah Taurat, dan mengganti sebagaimana apa yang mereka kehendaki, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Taurat, padahal ia bukan dari Taurat yang diturunkan Allah dan mereka mengatakan perkataan yang mereka ubah: “Perkataan yang dibaca itu datang dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah, itu hanyalah dusta. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui bahwa sebenarnya mereka sedang berdusta. Itu adalah dosa yang sangat besar.

Ibnu Abbas berkata tentang orang-orang yang membuat fitnah itu: Mereka orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang berkata kepada Ka’ab bin Asyraf, mereka telah merubah Taurat, dan mengganti bagian yang menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad kemudian diambil oleh Bani Quraidhoh dan menulisnya. Kemudian mereka mencampuraduknya dengan kitab mereka

Bagi mereka azab yang pedih di neraka, dan mereka kekal di dalamnya ayat ini bahkan secara khusus menerangkan perilaku buruk kaum yahudi, terutama tokoh-tokohnya. Sungguh, di antara mereka ada segolongan, di antaranya ada tokoh-tokoh agama, yang memutarbalikkan lidahnya membaca kitab taurat, yakni dengan cara menyembunyikan informasi yang benar, mengubah maksud yang sebenarnya, atau menggantinya dengan redaksi lain lalu membacanya layaknya mereka membaca taurat, agar kalian menyangka yang mereka baca itu benar benar sebagian dari kitab taurat, padahal itu bukan dari kitab taurat, tetapi rekayasa semata.

Dan untuk menguatkan kebohongannya mereka berkata, itu dari Allah, padahal itu bukan dari Allah. Mereka benar benar tidak punya rasa malu bahkan berani mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui secara pasti kalau hal itu dusta. Ayat ini juga menjadi bukti adanya tahrif (perubahan) dalam kitab taurat.

Jika membuat kedustaan atas nama manusia, merupakan dosa besar, lebih berat lagi dusta atas nama Allah SWT.

Orang yang berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla adalah orang yang paling zhalim.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. [Al-An’âm/6: 21]

Orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Allâh Azza wa Jalla , tidak akan beruntung. Meskipun mereka mendapatkan kesenangan dunia, namun mereka pasti akan menghadap Allâh SAT dan merasakan pedihnya siksa.

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ﴿٦٩﴾ مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. “[Yûnus/10: 69-70].

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sekelompok Ulama berpendapat bahwa berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya merupakan kekafiran.

Menganggap bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki anak. Ini adalah kedustaan dan celaan terhadap Allâh Azza wa Jalla.

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَا ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allâh mempuyai anak”. Maha suci Allâh; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui? [Yûnus/10: 68]

Semoga kita baik kepada Allah SWT, baik kepada rasululloh SAW, baik kepada manusia dan baik kepada alam.