Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Semua pondok pesantren yang ada, termasuk pesantren al masoem merupakan tempat dimana para santri dididik, dibentuk, serta diajarkan mengenai ilmu keagamaan dan para lulusannya diharapkan mampu untuk menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari kelak.
Oleh sebab itu, tidak semua santri yang masuk ke sana dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya secara mudah. karena terkadang ada juga yang mengalami beberapa kendala dan mewujudkannya dalam bentuk pemberontakan, misalnya seperti tidak mau menaati aturan yang berlaku di pondok.
Terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh pondok pesantren al masoem dalam upaya untuk menegaskan batasan terkait dengan peraturan yang berlaku di pondok pesantren dan wajib untuk ditaati oleh para santri, di antaranya adalah;
Dalam upaya menanggulangi permasalahan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren khususnya ketika santri putri tidak menaati aturan, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah memberikan feedback yang dapat mengedukasi mereka.
Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat memperbaiki akhlak santri yang bersangkutan. Terlebih lagi apabila ia merupakan santri baru di pondok pesantren, tentunya akan lebih baik jika tidak langsung memberikan punishment kepadanya. Karena seperti yang telah diketahui bahwa setiap anak memiliki perbedaan dalam segi kecerdasan, pembawaan, serta sifatnya.
Proses mendidik dengan cara yang baik akan membantu santri dalam memperoleh sifat-sifat dan akhlak yang baik secara sempurna. Menekankan pada inti pemahaman kepada santri juga dapat membuatnya lebih condong kepada kepatuhan dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Di dalam jika setiap manusia tentunya terdapat suatu pembawaan yang dapat menerima pengaruh dari perkataan yang didengar. Oleh karena itu, setiap nasihat yang sampai kepadanya berkemungkinan akan sampai dan diterima dengan sempurna.
Metode nasehat dalam dunia pendidikan sudah sangat familiar dalam pembentukan keimanan, spiritual, mempersiapkan moral, dan sosial anak. Nasehat dapat membuka mata penerima dan mendorongnya untuk menuju situasi luhur dalam hal ini menaati aturan di pondok pesantren.
Proses pendidikan di pondok pesantren al masoem pastinya berpedoman kepada ajaran islam teruatam al-qur’an, dengan demikian dalam pemberian nasehat kepada santri juga hendaknya selalu melibatkan dalil-dalil dalam kitab suci al-qur’an. Hal ini bertujuan untuk membuat santri merasa jera dan lebih paham mengenai perbuatannya yang terbilang fatal dan tidak disenangi oleh Allah swt.
Nasehat juga memiliki peran yang sukup besar dalam menciptakan pengaruh serta dorongan bagi santri untuk berakhlak mulia dan tentunya akan menaati aturan yang berlaku.
Sebaik-baiknya nasehat adalah teladan yang baik, hal ini sesuai seperti firman Allah swt yang terdapat dalam surah Al-Ahzab ayat 21. Dari dalil tersebut sudah jelas bahwa rasulullah merupakan suri tauladan yang baik bagi seluruh umat muslim. Ketika hendak mendidik santri agar menjadi pribadi yang lebih baik tentunya harus berorientasi pada keteladanan Rasulullah saw.
Perilaku Rasulullah dapat dijadikan sebuah petunjuk, pedoman atau model dalam menjalankan proses pendidikan. Selain dapat meningkatkan potensi kepatuhan santri, hal ini juga dapat menambah kecintaan para santri kepada Rasulnya.
Ketika ada santri yang tidak menaati aturan, maka hal ini juga harus ditekankan kepada para santri yang lain bahwa hal tersebut bukan merupakan keteladanan yang baik, dan tidak ada manusia dengan sebaik-baiknya keteladanan selain Rasulullah Saw.
Kemudian bagi seorang pendidik, dalam hal ini adalah guru, kyai, atau pengurus pondok pesantren tentunya harus senantiasa memberikan yang terbaik bagi santrinya, misalnya dengan menjaga sikap, dan tutur kata dalam mendidik. Karena mereka merupakan sosok pemimpin yang akan selalu dianggap penting dan berpengaruh dalam proses pendidikan.
Para santri akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari ragam metode pendidikan di pesantren ketika mereka berhasil menyerap ilmu atau pemahaman yang telah diberikan. Untuk mendukung hal ini, para pendidik juga harus memperhatikan kenyamanan serta keterpaduan antara teori dan penerapannya.
jangan sampai ketika pendidik memberikan nasihat kepada santri namun ternyat asantri belum menemukan hal tersebut pada yang bersangkutan. Begitupun sebaliknya, santri harus memiliki rasa patuh terhadap aturan yang ada bukan hanya ketika sedang diawasi oleh kyai atau gurunya, melainkan harus tumbuh dari kesadarannya sendiri.
Hukuman adalah pilihan yang terakhir dalam upaya pendidikan, pengendalian sosial, serta pembinaan terhadap perilaku yang menyimpang terutama pelanggaran peraturan pondok pesantren. Tujuannya adalah untuk memberikan efek jera terhadap santri yang melakukan kesalahan tersebut.
Namun perlu ditekankan bahwa penggunaan cara ini hanya ketika cara-cara yang seblumnya telah diterapkan namun belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Mengingat orang tua telah menitipkan dan mempercayakan pondok pesantren untuk mendidik putra-putrinya dengan sebaik mungkin.
Maka hal ini merupakan bagian dari bentuk tanggungjawabnya terhadap amanah yang telah diberikan orang tua santri. Sebagian besar santri akan memiliki rasa jera yang mendalam ketika cara ini telah dilakukan.
Setelah pemberian hukuman kepada santri yang tidak menaati aturan, maka selanjutnya para pendidik akan memberikan jarak atau ruang kepada santri untuk menyesali perbuatannya.
Nah itulah beberapa upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren al masoem dalam menghadapi santri yang tidak menaati aturan. Karena taat kepada aturan merupakan bagian dari sikap disiplin, maka punishment jug adapat dianggap sebagai upaya pendisiplinan.