Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بِا لْبَيِّنٰتِ وَا لزُّبُرِ ۗ وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl Ayat 44)
Al-Qur’an Bukan Sekadar Dibaca, tetapi Dipahami dan Dipikirkan
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI ara rasul itu kami utus dengan membawa keterangan-keterangan berupa mukjizat yang membuktikan kenabian dan kerasulan mereka. Dan sebagian dari mereka membawa kitab-kitab yang berisi hukum, nasihat, dan aturan yang menjadi pedoman bagi kehidupan kaumnya. Dan Kami turunkan adz-dzikr, yakni Al-Qur’an, kepadamu, wahai Nabi Muhammad, agar engkau menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka berupa tuntunan dan petunjuk dalam kitab tersebut agar mereka tahu dan mengikuti jalan yang benar dan agar mereka memikirkan hal-hal yang menjadi pelajaran untuk kemaslahatan mereka di dunia dan akhirat.
Dalam QS. An-Nahl ayat 44 disebutkan bahwa petunjuk Al-Qur’an tidak hanya mengatur bagaimana manusia memperoleh kehidupan yang baik di dunia, tetapi juga menjadi bekal untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
1. Kemaslahatan di dunia
Al-Qur’an memberikan petunjuk agar manusia dapat menjalani kehidupan dengan benar, antara lain:
Jadi, kemaslahatan dunia bukan sekadar kaya, sehat, atau nyaman, tetapi kehidupan yang baik karena dijalani sesuai petunjuk Allah.
2. Kemaslahatan di akhirat
Al-Qur’an juga menunjukkan jalan menuju keselamatan setelah kehidupan dunia, yaitu:
Tujuan akhirnya adalah memperoleh ampunan, rahmat Allah, dan kehidupan yang kekal di surga.
3. Hubungannya dengan “agar mereka memikirkan”
QS. An-Nahl 44 tidak hanya mengatakan agar manusia mengetahui, tetapi juga agar mereka berpikir. Artinya, Al-Qur’an menghendaki manusia tidak berhenti pada membaca dan mengetahui ayat, tetapi melanjutkannya menjadi:
Membaca → memahami → berpikir → mengambil pelajaran → mengamalkan → memperoleh kemaslahatan.
Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk memenuhi lisan dengan bacaan, tetapi untuk menerangi akal, membimbing hati, mengarahkan perbuatan, dan membawa manusia kepada kemaslahatan di dunia serta keselamatan di akhirat.
Doa supaya al Quran dipahami, direnungkan, diamalkan, dan menjadi kemaslahatan dunia-akhirat.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ نُورًا لِقُلُوبِنَا، وَهُدًى لِحَيَاتِنَا، وَسَبَبًا لِصَلَاحِ أَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقْرَؤُونَهُ فَيَفْهَمُونَهُ، وَيَتَدَبَّرُونَهُ فَيَعْمَلُونَ بِهِ، وَيَهْتَدُونَ بِهَدْيِهِ، وَيَنْتَفِعُونَ بِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Allahumma aj‘alil-Qur’āna nūran li-qulūbinā, wa hudan li-hayātinā, wa sababan li-shalāhi a‘mālinā, waj‘alnā mimman yaqra’ūnahu fayafhamūnahu, wa yatadabbarūnahu faya‘malūna bih, wa yahtadūna bihadyih, wa yantafi‘ūna bih fid-dunyā wal-ākhirah.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya bagi hati kami, petunjuk bagi kehidupan kami, dan sebab bagi baiknya amal-amal kami. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang membacanya lalu memahaminya, mentadaburinya lalu mengamalkannya, memperoleh petunjuk melalui petunjuknya, serta mendapatkan manfaat darinya di dunia dan di akhirat.