Jangan Jadikan Takdir Allah sebagai Alasan untuk Membenarkan Kesalahan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَ  الَّذِيْنَ  اَشْرَكُوْا  لَوْ  شَآءَ  اللّٰهُ  مَا  عَبَدْنَا  مِنْ  دُوْنِهٖ  مِنْ  شَيْءٍ  نَّحْنُ  وَلَاۤ  اٰبَآ ؤُنَا  وَلَا  حَرَّمْنَا  مِنْ  دُوْنِهٖ  مِنْ  شَيْءٍ ۗ كَذٰلِكَ  فَعَلَ  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ  عَلَى  الرُّسُلِ  اِلَّا  الْبَلٰغُ  الْمُبِيْنُ

“Dan orang musyrik berkata, Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya. Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para Rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 35).

Jangan Jadikan Takdir Allah sebagai Alasan untuk Membenarkan Kesalahan

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan betapa buruk ucapan orang musyrik itu. Mereka berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia. Baik kami maupun bapak-bapak kami tidak akan melakukan hal itu jika memang Allah menghendakinya. Dan jika Allah menghendaki, tidak pula kami akan mengharamkan sesuatu pun yang telah dihalalkan oleh-Nya tanpa izin dan kehendak-Nya.”

Ucapan, sikap, dan perbuatan kaum musyrik itu bukanlah hal baru, karena demikian pula-lah yang telah diperbuat oleh orang kafir sebelum mereka. Mereka selalu mencaricari alasan untuk menolak tuntunan Allah yang disampaikan oleh para rasul. Bukankah kewajiban para rasul itu hanya menyampaikan amanat dan tuntunan Allah dengan jelas kepada kaumnya?

Dalam QS. An-Nahl: 35, orang-orang musyrik mengatakan, kurang lebih: “Jika Allah menghendaki, kami tidak akan menyembah sesuatu selain Dia… dan kami tidak akan mengharamkan sesuatu…” Mereka menjadikan kehendak Allah sebagai alasan untuk membenarkan kesyirikan dan perbuatan mereka.

Jadi masalahnya bukan sekadar “berbuat salah”, tetapi melakukan kesalahan, kemudian menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran dan melepaskan tanggung jawab dari dirinya. Yang sangat kuat untuk ditadabburi

1. Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk membenarkan dosa.
Takdir Allah adalah sesuatu yang kita imani, tetapi manusia tetap diberi akal, kehendak, kemampuan memilih, serta petunjuk.

Kita tidak boleh berkata: “Saya berbuat begini karena Allah sudah menakdirkannya.”

Sebab kita tidak mengetahui takdir sebelum melakukan perbuatan. Yang kita ketahui adalah perintah dan larangan Allah

2. Ada perbedaan antara menerima takdir dan membenarkan maksiat.

  • Ketika musibah terjadi → kita menerima dan bersabar: “Ini takdir Allah.”
  • Ketika melakukan dosa → kita tidak menyalahkan takdir, tetapi bertaubat dan memperbaiki diri.

3. Menyalahkan Allah dapat menjadi bentuk pembenaran diri.
Manusia terkadang lebih mudah berkata “sudah takdir” daripada mengakui:

“Saya yang memilih.”
“Saya yang salah.”
“Saya harus bertobat.”

An-Nahl 35 mengingatkan bahwa takdir tidak boleh digunakan sebagai tameng untuk mempertahankan kesalahan.

4. Allah sudah memberikan petunjuk.
Ayat ini ditutup dengan makna bahwa tugas para rasul adalah menyampaikan dengan jelas. Jadi manusia tidak dibiarkan tanpa petunjuk. Allah telah memberikan Al-Qur’an, mengutus para rasul, dan menunjukkan jalan yang benar.

Maka persoalannya bukan Allah tidak memberi petunjuk, tetapi manusia mau mengikuti petunjuk atau memilih pembenaran dirinya sendiri.

“Jangan gunakan takdir Allah untuk membenarkan kesalahan yang kita pilih sendiri.”

Atau lebih tajam: “Takdir bukan alasan untuk bermaksiat; takdir adalah alasan untuk bersabar ketika musibah datang dan berserah diri setelah kita berusaha.”

Dan kalau ingin dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya, alurnya sangat indah:

  • An-Nahl 33: Allah tidak menzalimi manusia.
  • An-Nahl 34: keburukan perbuatan mereka kembali menimpa mereka.
  • An-Nahl 35: mereka malah menjadikan takdir Allah sebagai alasan atas kesyirikan mereka.

Allah tidak menzalimi kita. Kita yang memilih jalan, kemudian jangan sampai kesalahan pilihan kita ditimpakan kepada Allah dengan alasan “sudah takdir”.

Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk berbuat salah. Jadikan takdir sebagai alasan untuk bersabar ketika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, dan jadikan hidayah Allah sebagai alasan untuk terus memilih jalan yang benar.

اللَّهُمَّ اهْدِنَا صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، وَبَصِّرْنَا بِالْحَقِّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَبَصِّرْنَا بِالْبَاطِلِ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ثُمَّ يَنْسِبُونَ أَخْطَاءَهُمْ إِلَى قَدَرِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا نَظْلِمُ أَنْفُسَنَا ثُمَّ نُلْقِيَ تَبِعَةَ ذُنُوبِنَا عَلَيْكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا سَلِيمًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْهُدَى وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ الْحَقَّ فَيَتَّبِعُونَهُ.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan-Mu yang lurus. Perlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya; tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya.

Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian menyandarkan kesalahan kami kepada takdir-Mu. Jangan biarkan kami menzalimi diri sendiri, lalu melemparkan akibat dosa kami kepada-Mu.

Karuniakanlah kepada kami hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan keteguhan untuk selalu berada dalam petunjuk dan ketakwaan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengar kebenaran lalu mengikutinya. Aamiin yaa robbal’aalmaiin.