Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Pertemanan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan anak ketika memasuki usia sekolah dasar. Di lingkungan sekolah, anak mulai memiliki teman dekat, bergabung dalam kelompok bermain, mengerjakan tugas bersama, hingga belajar menghadapi perbedaan pendapat. Melalui interaksi tersebut, anak tidak hanya belajar bersosialisasi, tetapi juga memahami bagaimana memperlakukan orang lain dan bagaimana dirinya ingin diperlakukan.
Namun, tidak semua anak langsung memahami bahwa pertemanan juga membutuhkan batasan. Ada anak yang sulit mengatakan tidak ketika diajak melakukan sesuatu, ada yang merasa harus selalu mengikuti keinginan kelompok agar tidak ditinggalkan, atau justru terlalu mudah mengambil barang dan ruang pribadi temannya. Karena itu, mengenalkan konsep batasan yang sehat sejak sekolah dasar dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan keterampilan sosial yang penting.
Batasan yang sehat adalah kemampuan anak untuk memahami apa yang membuat dirinya nyaman dan tidak nyaman, sekaligus menghargai batasan yang dimiliki orang lain. Konsep ini tidak berarti mengajarkan anak menjadi individualis atau menjauh dari teman. Sebaliknya, anak belajar bahwa hubungan pertemanan yang baik tetap memberikan ruang bagi setiap orang untuk memiliki pilihan, perasaan, barang pribadi, dan pendapat masing-masing.
Contohnya sederhana. Ketika seorang teman ingin meminjam pensil, anak dapat mengatakan boleh atau tidak sesuai kondisinya. Ketika anak tidak ingin mengikuti permainan tertentu, ia berhak menyampaikan penolakannya dengan sopan. Begitu pula sebaliknya, ketika seorang teman mengatakan tidak ingin diganggu, anak perlu belajar menghormati keputusan tersebut. Kebiasaan kecil seperti ini membantu anak memahami bahwa berteman bukan berarti harus selalu menyetujui semua hal.
Pemahaman tersebut juga dapat diterapkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Saat bekerja dalam kelompok, misalnya, setiap anak memiliki kesempatan untuk menyampaikan ide. Ketika mengikuti permainan olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler, anak belajar menunggu giliran dan memperhatikan kenyamanan teman. Lingkungan sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi secara positif dapat menjadi tempat yang baik untuk melatih kemampuan tersebut.
Salah satu bagian yang cukup sulit bagi anak adalah mengatakan “tidak”. Anak terkadang khawatir dianggap tidak baik, tidak mau berteman, atau takut dijauhi jika menolak ajakan teman. Padahal, kemampuan menolak dengan cara yang tepat merupakan keterampilan penting agar anak mampu mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada tekanan kelompok.
Orang tua dan guru dapat memberikan contoh kalimat sederhana yang mudah digunakan anak. Misalnya, “Aku tidak mau ikut karena aku tidak nyaman,” “Aku mau bermain yang lain,” atau “Maaf, barang itu sedang aku pakai.” Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa penolakan tidak harus disampaikan dengan marah. Anak tetap dapat bersikap tegas sekaligus menjaga kesopanan.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilatih antara lain:
Kemampuan mengatakan tidak juga dapat membantu anak ketika menghadapi ajakan yang berpotensi merugikan. Anak belajar bahwa memiliki teman bukan berarti harus mengikuti semua tindakan kelompok. Dari sinilah rasa percaya diri dan kemampuan mengambil keputusan mulai berkembang.
Batasan dalam pertemanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak menjaga dirinya sendiri. Anak juga perlu memahami bahwa teman memiliki ruang pribadi yang harus dihormati. Hal sederhana seperti tidak mengambil barang tanpa izin, tidak membaca catatan milik teman, tidak memaksa teman berbicara, serta tidak mengganggu ketika teman sedang membutuhkan waktu sendiri merupakan contoh penerapannya.
Pada usia sekolah dasar, anak mungkin masih menganggap beberapa tindakan sebagai candaan. Misalnya menyembunyikan barang teman, menarik tas, mengambil alat tulis, atau terus mengajak bermain meskipun teman sudah mengatakan tidak. Karena itu, anak perlu dibantu memahami bahwa niat bercanda tidak otomatis membuat tindakan tersebut nyaman bagi orang lain.
Guru dapat memasukkan pembelajaran mengenai batasan melalui kegiatan sehari-hari. Saat bekerja kelompok, misalnya, anak dapat diberi pemahaman bahwa setiap anggota memiliki kesempatan berbicara. Dalam kegiatan olahraga, anak belajar mengikuti aturan permainan dan memperhatikan kondisi teman. Dalam aktivitas di kelas, anak juga dapat belajar meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain.
Sebagian anak mungkin merasa harus selalu mengikuti teman agar tetap diterima dalam kelompok. Kondisi tersebut dapat membuat anak sulit menyampaikan pendapat atau menolak sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukan. Jika berlangsung terus-menerus, anak dapat terbiasa mengesampingkan kebutuhan dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Orang tua dapat membantu dengan meyakinkan anak bahwa memiliki perbedaan pilihan bukan berarti kehilangan teman. Anak tidak harus menyukai permainan yang sama, memiliki hobi yang sama, atau selalu berada dalam kelompok yang sama. Pertemanan yang sehat justru memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk menjadi dirinya sendiri.
Ketika anak bercerita mengenai konflik dengan teman, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan salah satu pihak. Dengarkan terlebih dahulu apa yang terjadi, kemudian bantu anak melihat pilihan yang tersedia. Pertanyaan seperti “Menurut kamu, apa yang bisa kamu katakan kepada temanmu?” atau “Apa yang membuat kamu merasa tidak nyaman?” dapat membantu anak belajar mencari solusi.
Sekolah memiliki peran besar karena sebagian waktu anak dihabiskan bersama teman dan guru. Lingkungan sekolah yang mendukung interaksi positif dapat membantu anak mempraktikkan berbagai keterampilan sosial secara langsung. Anak tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai sopan santun, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menerapkannya ketika berinteraksi.
Kegiatan pembelajaran berkelompok, organisasi siswa, olahraga, seni, hingga ekstrakurikuler dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar bekerja sama. Misalnya, anak yang mengikuti futsal atau basket belajar memahami aturan permainan dan menghargai anggota tim. Anak yang mengikuti paduan suara belajar mendengarkan suara orang lain dan menyesuaikan diri dengan kelompok. Sementara kegiatan seperti catur mengajarkan anak untuk menghormati lawan dan mengikuti aturan permainan.
Program sekolah yang menggabungkan pembelajaran akademik dengan pendidikan karakter juga dapat membantu memperkuat kebiasaan tersebut. Di SD Al Ma’soem Bandung, misalnya, konsep karakter “Cageur, Bageur, Pinter” dapat menjadi gambaran bahwa perkembangan anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Sikap baik dalam berinteraksi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap tindakan juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Pembelajaran mengenai batasan pertemanan akan lebih mudah dipahami apabila anak mendapatkan contoh yang konsisten di rumah. Orang tua dapat membiasakan anak menghargai privasi anggota keluarga, meminta izin sebelum mengambil barang, serta mengungkapkan ketidaknyamanan dengan kata-kata yang baik. Kebiasaan tersebut nantinya dapat terbawa ketika anak berinteraksi dengan teman di sekolah.
Orang tua juga dapat menggunakan kejadian sehari-hari sebagai bahan diskusi. Jika anak pulang sekolah dan bercerita bahwa temannya meminjam barang tanpa izin, orang tua dapat mengajak anak membicarakan bagaimana perasaan yang muncul dan apa yang sebaiknya dilakukan. Sebaliknya, jika anak menyadari bahwa dirinya pernah membuat temannya tidak nyaman, orang tua dapat membantu anak memahami pentingnya meminta maaf dan memperbaiki perilaku.
Yang tidak kalah penting, anak perlu mengetahui bahwa meminta bantuan bukan berarti gagal menyelesaikan masalah. Jika seorang teman terus memaksa, mengganggu, mengambil barang tanpa izin, atau membuat anak merasa tidak aman, anak perlu mengetahui orang dewasa mana yang dapat dipercaya untuk dimintai bantuan. Dengan begitu, anak memiliki pemahaman bahwa menjaga batasan juga berarti mengetahui kapan harus mencari pertolongan.
Mengajarkan batasan bukan berarti membuat anak menjadi lebih sulit berteman. Justru sebaliknya, anak yang memahami batasan biasanya memiliki dasar yang lebih baik untuk membangun hubungan yang saling menghargai. Ia belajar bahwa dirinya memiliki hak untuk merasa nyaman, sementara orang lain juga memiliki hak yang sama.
Kebiasaan tersebut dapat berkembang melalui pengalaman sederhana: meminta izin, menghargai jawaban teman, menunggu giliran, mendengarkan pendapat, mengatakan tidak dengan sopan, serta meminta bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Semakin sering anak mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya, semakin mudah pula keterampilan tersebut menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Di lingkungan sekolah, berbagai aktivitas dapat menjadi sarana latihan tanpa harus selalu diberikan dalam bentuk teori. Ketika anak bekerja sama dalam tugas, bermain olahraga, mengikuti kegiatan seni, atau berinteraksi di kelas, setiap pengalaman dapat menjadi kesempatan untuk belajar memahami diri sendiri sekaligus menghargai orang lain. Dengan dasar tersebut, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu berteman dengan hangat tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri.