Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبِّ اِنَّهُنَّ اَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ ۚ فَمَنْ تَبِعَنِيْ فَاِ نَّهٗ مِنِّيْ ۚ وَمَنْ عَصَا نِيْ فَاِ نَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Ya Tuhan, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barang siapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 36)
Syirik menyesatkan, tauhid menyelamatkan; dan yang menyimpang tetap punya jalan kembali kepada ampunan Allah
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Ya Tuhan, aku tahu berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia akibat kebodohan mereka. Karena itu, barang siapa mengikutiku dan tidak menyembah berhala-berhala tersebut, maka orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku dan menyembah berhala-berhala itu, maka hukumlah mereka. Akan tetapi, bila Engkau ampuni mereka, maka Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertobat.
Ayat ini terasa “bertabrakan”, dengan syrik adalah dosa yang tidak dapat diampuni, tapi justru di situlah dalamnya makna Surah Ibrahim ayat 36.
Nabi Ibrahim tidak menutup dengan vonis, tapi dengan harapan: “Barang siapa mengikutiku, ia termasuk golonganku; dan siapa yang durhaka, maka Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ini menunjukkan bahwa selama seseorang masih hidup dan mau kembali, bahkan dari jalan syirik sekalipun, pintu taubat masih terbuka.
Adapun syirik disebut tidak diampuni dalam ayat lain (seperti Surah An-Nisa ayat 48),
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)
maksudnya adalah jika seseorang mati dalam keadaan syirik tanpa taubat. Di sinilah letak keseimbangannya:
Inti tadabburnya: Jangan merasa aman dari kesesatan, tapi juga jangan putus asa dari rahmat Allah karena bahkan dari penyimpangan paling jauh, jalan kembali masih ada selama nyawa belum sampai di ujungnya.
“Syirik dan maksiat bukan untuk dinormalisasi. Kita tidak tahu kapan ajal datang. Pintu ampunan memang terbuka, tapi siapa yang bisa menjamin sempat kembali sebelum penutupnya tertutup?”
Doa keselamatan, kita tidak tahu kapan ajal datang, maka jangan tunda taubat.
للَّهُمَّ تُبْ عَلَيَّ قَبْلَ الْمَوْتِ، وَارْحَمْنِي عِنْدَ الْمَوْتِ، وَاغْفِرْ لِي بَعْدَ الْمَوْتِ
“Ya Allah, terimalah taubatku sebelum kematian, rahmatilah aku saat kematian, dan ampunilah aku setelah kematian.”