5 Faktor Umat Islam Banyak Menggumbar Janji, tapi tidak Menepatinya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ نْ  نَّكَثُوْۤا  اَيْمَا نَهُمْ  مِّنْۢ  بَعْدِ  عَهْدِهِمْ  وَطَعَنُوْا  فِيْ  دِيْـنِكُمْ  فَقَا تِلُوْۤا  اَئِمَّةَ  الْـكُفْرِ  ۙ اِنَّهُمْ  لَاۤ  اَيْمَا نَ  لَهُمْ  لَعَلَّهُمْ  يَنْتَهُوْنَ

“Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, mudah-mudahan mereka berhenti.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 12)

Ciri ciri orang kafir tidak dapat dipegang janjinya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kaum musyrikin, apabila melanggar perjanjian yang sudah mereka buat dengan orang mukmin dan mereka mencerca agama Islam, maka Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi pemimpin-pemimpin mereka, karena tidak menepati janjinya untuk menghentikan permusuhan dengan kaum Muslimin dan tidak mau bertobat. Para mufasir menerangkan bahwa yang dimaksud dengan mencerca agama Islam ialah mencerca Nabi, Al-Qur’an, dan lain-lain, sedang yang dimaksud membunuh atau memerangi pemimpin-pemimpin kafir di sini termasuk juga para pengikutnya. Memerangi kaum musyrikin itu diperkenankan bila mereka melanggar perjanjian damai dan menyerang Islam dan kaum Muslimin.

Islam sangat anti terhadap orang yang mengumbar janji tapi tidak menepatinya, tapi kondisi sekarang yang banyak mengumbar janji adalah kebanyakan muslim, ini kontradiksi terhadap ajaran Islam. Dalam Islam, menepati janji adalah salah satu sifat utama yang mencerminkan keimanan seseorang. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa salah satu tanda kemunafikan adalah tidak menepati janji, sebagaimana sabdanya:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat. (HR. Bukhari dan Muslim). Faktor faktor umat Islam banyak mengumbar janji tapi banyak yang tidak menepatinya;

  1. Kelemahan Iman. Ketika keimanan seseorang melemah, nilai-nilai Islam seperti amanah (menepati janji) tidak lagi menjadi prioritas dalam kehidupannya. Ia lebih mementingkan keuntungan duniawi seperti popularitas, kekuasaan, atau kekayaan, tanpa mempertimbangkan tanggung jawab terhadap janji yang telah diucapkan.
  2. Pengaruh Materialisme dan Duniawi. Dalam masyarakat yang semakin materialistis, banyak orang lebih berorientasi pada tujuan duniawi, sehingga mereka sering kali menggunakan janji sebagai alat untuk mencapai kepentingan pribadi. Janji dibuat untuk meraih simpati, dukungan, atau keuntungan, tanpa niat sungguh-sungguh untuk memenuhinya.
  3. Minimnya Keteladanan. Keteladanan dalam menepati janji dari para pemimpin, tokoh agama, atau figur publik sangat penting. Ketika sebagian dari mereka justru melanggar janji atau bersikap tidak amanah, masyarakat cenderung mengikuti pola tersebut.
  4. Kurangnya Pemahaman dan Kesadaran Agama. Sebagian orang Islam tidak memahami betapa pentingnya menepati janji dalam Islam. Mereka mungkin menganggap remeh pelanggaran janji, padahal Allah SWT dengan tegas memerintahkan agar setiap janji dipenuhi: “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”(QS. Al-Isra: 34)
  5. Lingkungan Sosial yang Mendukung Perilaku Tersebut. Dalam beberapa komunitas, perilaku mengumbar janji tanpa menepatinya dianggap hal biasa. Budaya seperti ini menjadikan pelanggaran janji sebagai sesuatu yang tidak lagi dianggap serius, sehingga terus berulang.

Semoga umat Islam menjadi umat terbaik yang senantiasa memberikan teladan dalam menepati janji, memegang amanah, dan menjalankan ajaran agama dengan penuh keikhlasan dan integritas. Jadilah umat yang menjaga akhlak mulia, menjunjung tinggi keadilan, serta membawa rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam, sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk menjadi khairu ummah (umat terbaik) yang menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada-Nya.