أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَلْئٰـنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًا ۗ فَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَا بِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ ۚ وَاِ نْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْۤا اَلْفَيْنِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِ يْنَ
“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka, jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 66)
Allah beserta orang orang yang sabar
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah memberikan keringanan bagi kaum Muslimin dalam menghadapi musuh yang menyerang mereka. Kalau pada ayat 65 Allah memerintahkan agar mereka berani menghadapi musuh yang berjumlah sepuluh kali lebih besar dari jumlah mereka, maka pada ayat ini dijelaskan bahwa mereka diberi keringanan karena mereka telah berada dalam keadaan lemah, baik dalam semangat maupun dalam persiapan perang. Dalam keadaan seperti ini mereka diharuskan menghadapi musuh yang jumlahnya dua kali jumlah mereka. Ini adalah suatu tingkat minimal yang harus mereka pertahankan, karena keringanan yang diberikan ini sudah banyak sekali dibanding dengan perintah semula dan tak ada alasan lagi untuk meminta keringanan lebih banyak lagi. Dengan keimanan yang kuat dan ketabahan serta keyakinan penuh akan mencapai kemenangan. Hal ini terbukti ketika mereka menghadapi kaum musyrikin pada Perang Badar. Kekuatan mereka kurang sepertiga kekuatan musuh, tetapi mereka dapat menghancurkan kaum musyrikin itu.
Pada Perang Yarmuk jumlah tentara yang dikumpulkan oleh kaisar Heraklius, kerajaan Romawi Timur, untuk menghadapi tentara kaum Muslimin, tidak kurang dari 200.000 (dua ratus ribu) orang, sedang tentara kaum Muslimin yang dikirim para sahabat hanya 24.000 (dua puluh empat ribu) orang saja. Berkat keimanan yang kokoh, kuat, dan semangat yang tinggi kaum Muslimin dapat mengalahkan musuh yang banyak itu. Diriwayatkan bahwa tentara Romawi yang mati pada pertempuran itu berjumlah 70.000 (tujuh puluh ribu) orang. Semua kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin itu adalah sesuai dengan kehendak dan seizin Allah sebagai bukti bagi kebenaran ini. Allah berfirman:
Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah/2: 249).
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِ يْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)
Ketika seseorang menghadapi cobaan atau kesulitan, kesabarannya akan mendekatkannya kepada Allah. Dengan bersabar, seseorang menunjukkan keimanannya dan tawakkalnya (berserah diri) kepada Allah. Allah akan memberikan kekuatan, ketenangan hati, dan jalan keluar dari kesulitan kepada orang yang bersabar. Ini adalah bentuk dukungan ilahi yang memberikan kelegaan bagi jiwa mereka yang tetap teguh dalam keimanan dan keikhlasan.
Kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan ridha dan pertolongan Allah dalam berbagai keadaan, baik dalam menghadapi ujian, menjalani kehidupan sehari-hari, maupun dalam perjuangan untuk tetap taat pada perintah-Nya.
Sabar dibagi tiga ;
- Sabar dalam ketaatan; Ini berarti seseorang bersabar dalam menjalankan perintah Allah, meskipun mungkin terasa berat atau membutuhkan usaha besar. Misalnya, menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan memperbanyak ibadah lainnya. Sabar dalam ketaatan mengandung makna keteguhan hati untuk terus beribadah meski kadang ada godaan, rasa malas, atau kesibukan duniawi yang bisa menghalangi.
- Sabar dalam menghindari kemaksiatan; Ini adalah kesabaran untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, meskipun godaan untuk melakukannya mungkin sangat kuat. Contohnya, sabar dalam menahan diri dari perbuatan dosa, menghindari fitnah, menjaga pandangan, dan menjauhkan diri dari lingkungan yang dapat mendorong pada maksiat. Sabar dalam hal ini berarti menahan diri dari kesenangan yang sebenarnya bersifat sementara dan bisa membawa dampak negatif pada keimanan.
- Sabar dalam menerima takdir yang buruk; Ini adalah jenis kesabaran ketika seseorang menghadapi cobaan, ujian, atau musibah yang datang dari takdir Allah. Contohnya, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, penyakit, atau kondisi sulit lainnya. Dalam keadaan seperti ini, sabar berarti menerima takdir Allah dengan lapang dada dan tetap berserah diri, sambil meyakini bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan Allah Maha Bijaksana.
Ketiga jenis kesabaran ini adalah bentuk ketundukan kepada Allah, menunjukkan keimanan dan ketaatan sejati, serta merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada-Nya.
Doa memohon kesabaran dalam menerima takdir:
“Allahumma inni as’aluka sabran jamilan wa yaqinan shadiqan wa ‘amalan mutaqabbalan.”
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran yang indah, keyakinan yang benar, dan amal yang diterima.”