Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ ذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا قَا لُوْا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَآءُ لَـقُلْنَا مِثْلَ هٰذَۤا ۙ اِنْ هٰذَاۤ اِلَّاۤ اَسَا طِيْرُ الْاَ وَّلِيْنَ
“Dan apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), jika kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini. (Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 31)
Sesungguhnya kami telah mendengar ayat -ayat seperti dalam Al Quran karena ada banyak yang serupa dalam Taurat dan Injil
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan keingkaran orang-orang Quraisy serta kesombongan mereka terhadap seruan Nabi, terutama ketika mendengar ayat-ayat yang dibacakan oleh Nabi. Mereka menanggapinya dengan sikap yang sombong. Mereka menganggap diri mereka dapat membacakan seperti itu. Perkataan ini adalah perkataan yang ditandaskan oleh an-Nadhar bin al-Haris dari Bani Abdid Dar. Ia pulang pergi ke Persia dan mendengar dari mereka tentang Rustam dan Isfandiar dari beberapa orang ajam yang terkemuka. Dia sering bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka dia mendengar dari mereka isi Kitab Taurat dan Injil.
Lalu Allah menerangkan sebab-sebab mengapa orang-orang Quraisy itu mengemukakan anggapan demikian, yaitu lantaran mereka menganggap ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya menyerupai kisah-kisah yang terdapat dalam Kitab Taurat dan Injil. Itulah sebabnya, mengapa mereka merasa sanggup untuk membacakan ayat-ayat yang dibacakan oleh Nabi. Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat yang dibaca oleh Muhammad itu bukanlah wahyu, melainkan dongengan-dongengan orang-orang purbakala.
Namun demikian, boleh jadi yang mengeluarkan kata-kata itu ialah an-Nadhar, kemudian diikuti oleh yang lain. Tetapi mereka itu tidak meyakini bahwa ayat-ayat yang dibaca itu adalah dongengan-dongengan orang-orang dahulu, yang bersimpang-siur dan tidak pula beranggapan bahwa Muhammad yang membuat-buatnya, karena mereka tidak pernah menuduh Muhammad seorang pendusta.
Allah berfirman:
Karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (al-Anam/6: 33)
Dan firman Allah:
Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 5)
Sebenarnya mereka bukan tidak meyakini kebenaran ayat-ayat itu, karena mereka sebenarnya telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad itu adalah ummi, tetapi mereka mengatakan demikian itu hanyalah untuk merintangi orang-orang agar tidak mau mendengarkan Al-Quran.
Ada pula yang beranggapan bahwa pemimpin-pemimpin Quraisy seperti an-Nadhar bin al-Haris, Abu Jahal, dan al-Walid bin Mugirah sama-sama bersepakat untuk menyuruh orang agar tidak mendengarkan Al-Quran. Kemudian mereka datang ke rumah Nabi pada waktu malam untuk mendengarkannya dan mereka tertarik kepada Al-Quran itu. Karena begitu berkesannya bacaan Al-Quran pada hati mereka sehingga al-Walid bin Mugirah mengucapkan kata-kata yang terkenal, “Sesungguhnya Al-Quran bernilai tinggi”. Itulah sebabnya mereka menghalang-halangi orang-orang Arab mendengarkan ayat-ayat Al-Quran dan menjauhkan orang-orang Arab dari Al-Quran, mereka mengatakan bahwa Al-Quran itu sihir.
Al Quran itu bukan sihir dan bukanlah sekedar kumpulan cerita atau dongeng, melainkan mukjizat yang tak dapat ditiru oleh manusia. Klaim orang-orang yang mengatakan bahwa mereka bisa membuat hal serupa adalah bukti dari ketidakmampuan dan ketidaktahuan mereka.
Orang-orang kafir dalam ayat ini merasa bahwa dengan kemampuan intelektual mereka, mereka bisa menandingi wahyu Allah. Ini merupakan pelajaran bagi kita agar tidak terlalu sombong dengan kemampuan atau pengetahuan kita, karena pada akhirnya, ilmu dan kebijaksanaan yang sejati berasal dari Allah.
Ayat ini memberikan kita pelajaran tentang pentingnya menerima kebenaran dengan hati yang terbuka dan rendah hati, serta peringatan terhadap bahaya kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk Allah.
Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk menerima kebenaran dan tunjukilah aku ke jalan-Mu yang lurus. Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang rendah hati, yang menerima kebenaran tanpa kesombongan dan penolakan. Bersihkanlah diriku dari segala bentuk kesombongan dan ampuni kelemahan serta kekuranganku, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.