Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَسْــئَلْهُمْ عَنِ الْـقَرْ يَةِ الَّتِيْ كَا نَتْ حَا ضِرَةَ الْبَحْرِ ۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَا نُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَ ۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ ۛ نَبْلُوْهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَفْسُقُوْنَ
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu) ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, padahal pada hari-hari yang bukan Sabat ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 163)
Kemukjizatan Al-Quran, menerangkan berita, peristiwa, atau kejadian yang telah terjadi pada masa yang lalu
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini diturunkan di Mekah, pada saat agama Islam mulai disiarkan dan disampaikan Nabi Muhammad saw, yang waktu itu beliau belum pernah berhubungan langsung dengan ulama-ulama Yahudi, dan beliau adalah seorang yang tidak tahu menulis dan membaca, sebagaimana firman Allah swt :
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Quran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkari.” (al-Ankabut/29: 48)
Ayat ini menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang menerangkan berita, peristiwa, atau kejadian yang telah terjadi pada masa yang lalu, tanpa seorang pun yang memberikan beritanya, selain dari Tuhan Yang Mahatahu. Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad agar beliau menerangkan kepada orang Yahudi di Medinah pada waktu itu, tentang tindakan yang telah dilakukan oleh nenek-moyang mereka, yang selalu mengingkari seruan para Nabi, walau bukti-bukti apa pun yang telah dikemukakan kepada mereka. Yang menceritakan tentang tindakan dan sikap nenek-moyang mereka itu adalah Nabi Muhammad seorang Nabi yang buta huruf, belum pernah berhubungan dengan orang-orang Yahudi pada waktu menerima ayat ini. Apakah hal ini tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah?
Qoryah yang dimaksud dalam ayat ini; ada yang menyebut kota Ailah, ada juga yang menyebutkan kota Tobaiah dan ada juga yang menyebut kota lain.Pada masa dahulu nenek-moyang Bani Israil yang berdiam di kota Ailah, suatu kota di pantai Laut Merah antara kota Madyan dan Sinai yang bermata pencaharian menangkap ikan, pernah diuji dan dicoba oleh Allah, untuk menguji keimanan dan ketaatan mereka. Mereka diperintahkan melakukan ibadah pada tiap Sabtu, dan dilarang menangkap ikan pada hari itu. Ketika ikan banyak bermunculan di permukaan air (laut) pada hari Sabtu yang nampak jinak dan mudah ditangkap, mereka melanggar larangan Allah pada hari tersebut untuk menangkap ikan dan tidak melakukan ibadah sebagaimana yang diperintahkan Allah pada hari itu.
Demikianlah Allah memberi ujian dan cobaan kepada Bani Israil. Mereka tidak tahan dan tidak tabah menghadapinya, bahkan mereka melanggar larangan Allah dan tidak melaksanakan perintah-Nya. Karena sikap dan tindakan mereka, maka bagi mereka berlaku Sunnatullah (ketentuan Allah), yaitu barang siapa yang menaati perintah Allah dan menghentikan larangan-Nya akan dianugerahi kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya barang siapa yang ingkar kepada-Nya akan sengsara hidupnya di dunia, sedangkan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih. Tentu Sunnatullah ini berlaku pula terhadap orang-orang yang fasik dan orang-orang Yahudi yang berada di Medinah, seperti yang berlaku pada nenek-moyang mereka.
Pelanggaran aturan Allah dikarenakan ada perkara duniawi yang lebih menggiurkan.
Pandangan tentang cinta terhadap dunia dalam Islam dapat dipahami dengan beberapa perspektif. Secara umum, Islam mengajarkan bahwa cinta terhadap dunia itu sendiri tidaklah dilarang, namun yang dilarang adalah ketika seseorang terlalu terikat atau mencintai dunia hingga melupakan tujuan utama ibadah kepada Allah SWT dan kehidupan akhirat.
Beberapa prinsip yang dapat diambil dari ajaran Islam terkait dengan dunia meliputi:
1. Tawakkal dan Ikhlas. Mengandalkan Allah SWT dalam setiap tindakan dan mencintai dunia dengan cara yang tidak menggantikan cinta kepada Allah.
2. Zuhud. Mengembangkan sikap tidak terlalu bergantung pada dunia dan harta benda, tetapi memusatkan perhatian pada akhirat.
3. Berdakwah dan Beramal. Menggunakan harta dan kekayaan untuk beramal dan berbuat baik kepada sesama, bukan untuk tujuan egois atau duniawi semata.
Oleh karena itu, dalam konteks ini, Islam tidak secara mutlak melarang mencintai dunia, tetapi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dengan tujuan akhirat yang lebih besar dan abadi.
Doa meminta perlindungan kepada Allah SWT dari terlalu terikat pada dunia dan segala godaan dan ujian yang ada di dalamnya. Selain itu, memperbanyak dzikir, membaca Al-Quran, dan melakukan amalan-amalan yang mendekatkan kepada Allah juga merupakan cara-cara untuk menguatkan kecintaan kita kepada akhirat dan mengurangi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia semata.
Menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini sementara dan memprioritaskan persiapan untuk kehidupan akhirat adalah prinsip yang penting dalam Islam untuk menjaga keseimbangan spiritual.
“Allahumma inni a’udhu bika min hubbi ad-dunya wa hubbi ma fiha wa hubbi man yuhibbuha wa hubbi kulli amalin yuridu bihi wajhaka wa min fitnati ad-dunya wa azaabiha.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari cinta terhadap dunia dan apa yang ada di dalamnya, dari cinta terhadap orang-orang yang mencintainya, dan dari cinta terhadap setiap amal yang tujuannya adalah mencari wajah-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksaannya.”