Kisah Kaum ‘Ad diberi Kelebihan, tapi Kufur Nikmat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَوَعَجِبْتُمْ  اَنْ  جَآءَكُمْ  ذِكْرٌ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  عَلٰى  رَجُلٍ  مِّنْكُمْ  لِيُنْذِرَكُمْ  ۗ وَا ذْكُرُوْۤا  اِذْ  جَعَلَـكُمْ  ۚ خُلَفَآءَ  مِنْۢ  بَعْدِ  قَوْمِ  نُوْحٍ  وَّزَا دَكُمْ  فِى  الْخَـلْقِ  بَصْۜطَةً    ۚ فَا ذْكُرُوْۤا  اٰ  لَآ ءَ  اللّٰهِ  لَعَلَّكُمْ  تُفْلِحُوْنَ

“Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka, ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 69)

Kaum ‘Ad diberi kelebihan, bukan bersyukur malah kufur nikmat

Dalam tafsir Ringkas Kementrian Agama RI; Melihat kaumnya masih tidak percaya, Nabi Hud mempertanyakan sikap mereka. Dan herankah, tidak percayakah, kamu bahwa ada peringatan yang datang, yakni diturunkan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalangan masyarakat-mu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu menyangkut azab yang akan menimpamu karena kedurhakaanmu? Ini bukanlah hal yang pantas untuk diragukan dan diherankan. Kemudian Nabi Hud mengingatkan mereka dengan nikmat yang telah Allah berikan. Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah yang berkuasa setelah kaum Nuh yang telah dibinasakan akibat mendustakan rasulnya, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan sehingga kamu lebih kuat, besar, dan tegar secara fisik, cerdas, dan memiliki kekuasaan yang lebih besar dibanding umat-umat sebelum kamu. Maka ingatlah dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati akan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu agar kamu termasuk orang-orang beruntung, memperoleh apa yang kamu inginkan, sebagai balasan atas segala usaha keras kamu dengan menaati perintah dan menjauhi larangan Allah.”

Sebagian manusia dilebihkan dari sebagian yang lain, harusnya itu disyukuri, kalau bersyukur nikmat Allah akan ditambah kalau kufur azab Allah sangat berat.

وَاِ ذْ  تَاَ ذَّنَ  رَبُّكُمْ  لَئِنْ  شَكَرْتُمْ  لَاَ زِ يْدَنَّـكُمْ  وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ  اِنَّ  عَذَا بِيْ  لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 7).

Ayat ini asbabul nuzulnya ketika menimpa umat nabi Musa, sudah diselamatkan dari Firaun harusnya disyukuri malah kufur.

وَاِ ذْ  قَا لَ  مُوْسٰى  لِـقَوْمِهِ  اذْكُرُوْا  نِعْمَةَ  اللّٰهِ  عَلَيْكُمْ  اِذْ  اَنْجٰٮكُمْ  مِّنْ  اٰلِ  فِرْعَوْنَ  يَسُوْمُوْنَـكُمْ  سُوْٓءَ  الْعَذَا بِ  وَ  يُذَبِّحُوْنَ  اَبْنَآءَكُمْ  وَيَسْتَحْيُوْنَ  نِسَآءَكُمْ  ۗ وَفِيْ  ذٰ  لِكُمْ  بَلَآ ءٌ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir’aun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, dan menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; pada yang demikian itu suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 6)

Sejarah berulang kaum ‘Ad, Bani Israil diberi kenikmatan tidak bersyukur malah kufur, dan itu terjadi di masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, diberi kenikmatan bukannya bersyukur malah kufur nikmat.

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ  اَذْكُرْكُمْ  وَا شْکُرُوْا  لِيْ  وَلَا  تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

شَهْرُ  رَمَضَا نَ  الَّذِيْۤ  اُنْزِلَ  فِيْهِ  الْقُرْاٰ نُ  هُدًى  لِّلنَّا سِ  وَ  بَيِّنٰتٍ  مِّنَ  الْهُدٰى  وَا لْفُرْقَا نِ  ۚ فَمَنْ  شَهِدَ  مِنْكُمُ  الشَّهْرَ  فَلْيَـصُمْهُ  ۗ وَمَنْ  کَانَ  مَرِ يْضًا  اَوْ  عَلٰى  سَفَرٍ  فَعِدَّةٌ  مِّنْ  اَيَّا مٍ  اُخَرَ  ۗ يُرِ يْدُ  اللّٰهُ  بِکُمُ  الْيُسْرَ  وَلَا  يُرِ يْدُ  بِکُمُ  الْعُسْرَ  ۖ وَلِتُکْمِلُوا  الْعِدَّةَ  وَلِتُکَبِّرُوا  اللّٰهَ  عَلٰى  مَا  هَدٰٮكُمْ  وَلَعَلَّکُمْ  تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185).

Orang yang bersukur, Allah mudahkan untuk mendapat hidayah.

شَا كِرًا  لِّاَنْعُمِهِ  ۗ اِجْتَبٰٮهُ  وَهَدٰٮهُ  اِلٰى  صِرَا طٍ  مُّسْتَقِيْمٍ

“dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 121).

Allah SWT telah banyak memberikan kenikmatan kepada manusia, tapi sangat sedikit yang bersyukur.

قُلْ  هُوَ  الَّذِيْۤ  اَنْشَاَ كُمْ  وَجَعَلَ  لَـكُمُ  السَّمْعَ  وَا لْاَ بْصَا رَ  وَ  الْاَ فْــئِدَةَ  ۗ قَلِيْلًا  مَّا  تَشْكُرُوْنَ

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 23)

Doa supaya kita termasuk orang yang bersyukur ;

Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”