Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَا مِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْكٰفِرِ يْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعًا
“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam,” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 140)
Allah Ta’ala dalam ayat- ini memerintah kaum beriman – dengan cara apapun agar tidak terlibat – untuk tidak duduk bersama dengan (dengan kata lain meninggalkan) mereka yang membicarakan ayat-ayat Allah Ta’ala dengan maksud untuk mengolok-olok. Perintah Allah Ta’ala ini mesti ditaati orang-orang beriman agar mereka tidak serupa dengan orang-orang kafir dalam kekafiran dan dengan orang-orang munafik dalam kemunafikan, serta agar orang-orang beriman tidak dikumpulkan bersama orang-orang kafir dan munafik di neraka Jahanam.
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat. (QS. Al-An’aam [6]: 68)
Akibat yang mereka terima: azab di dunia dan akhirat
Ayat-ayat di bawah ini adalah peringatan bagi siapa saja yang tinggal di mana saja dan kapan saja termasuk kaum Muslim, kafir dan munafiq di zaman modern ini untuk tidak mengingkari dan memperolok-olok ayat-ayat Allah Ta’ala agar tidak mendapatkan azab Allah Ta’ala baik di dunia berupa kebinasaan maupun di akhirat berupa siksaan di neraka, di mana mereka tidak akan dikeluarkan darinya dan sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَى أَنْ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ
Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah yang lebih buruk, karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya. (QS. Ar-Ruum [30]: 10)
ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا
Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi [18]: 106)
ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 35)
Jangan kalian jadikan mereka sebagai Waly!
Ayat berikut menjelaskan larangan bagi orang-orang beriman untuk menjadikan orang-orang kafir dari golongan Ahlul Kitab dan selainnya yang mempermainkan dan mengolok-olok agama Islam sebagai waly. Kata waly yang mempunyai bentuk jamak awliya’ tidak sekadar memiliki arti teman akrab, pelindung dan penolong, tapi juga memiliki arti penguasa atau pemimpin.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi waly-mu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maaidah [5]: 57)
Pelajaran
Terkait kasus-kasus penistaan terhadap agama dan umat Islam (terutama kepada para pewaris Nabi yakni para ulama) di zaman modern ini baik di Tanah Air maupun di dunia internasional yang dilakukan siapapun juga berdasarkan panduan ayat-ayat tersebut di atas maka dapatlah diambil beberapa pelajaran: Pertama, makar yang dilakukan kaum kafir dan munafik terhadap agama dan umat Islam sejatinya adalah makar Allah Ta’ala untuk membongkar kekafiran, kemunafikan, aib serta rencana dan aksi kejahatan mereka untuk diperlihatkan kepada kaum beriman, serta mengakibatkan berlakunya azab bagi mereka di dunia dan akhirat.
Kedua, makar yang mereka lakukan memberikan kesempatan bagi orang-orang beriman untuk membuktikan keimanan mereka dengan cara melakukan perlawanan dengan segala bentuknya dengan cara-cara yang bilhikmah. Ketiga, haram hukumnya bagi kaum Mukmin untuk terlibat dalam makar mereka. Keempat, haram bagi orang-orang beriman untuk menjadikan para pelaku penistaan tersebut sebagai teman akrab, penolong, dan pelindung, apatah lagi sebagai penguasa atau pemimpin bagi mereka. Kelima, tidak perlu melakukan tabayyun dan bersikap tegas kepada mereka sebagaimana diterangkan di bawah ini.
Sikap tegas bagi penista agama dan umat Islam
Kaum Mukmin mesti bersikap tegas kepada siapa saja yang telah dengan jelas melecehkan agama dan umat Islam dengan tidak menggubris serta tidak memaafkan meskipun mereka mengajukan permintaan maaf dan alasan. Kaum Mukmin mesti bersikap tegas kepada mereka karena Allah Ta’ala telah menvonis mereka sebagai pelaku dosa besar dan telah menjadi kafir. Sikap tegas ini telah dicontohkan Rasulullah Saw. yang tidak menggubris dan tidak memaafkan seorang yang telah beriman dan yang telah menista Rasulullah Saw. dan para shohabah Ra. sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:
Diriwayatkan dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah secara ringkas. Ketika dalam peristiwa perang Tabuk ada orang-orang yang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”. Maksudnya, menunjuk kepada Rasulullah Saw. Dan para sahabat yang ahli baca Al Qur`an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan.
Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah Saw. ”. Lalu pergilah Auf kepada Rasulullah Saw. untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Allah kepada beliau. Ketika orang itu datang kepada Rasulullah Saw., beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah dia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”.
Ibnu Umar berkata, ”Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah Saw., sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” .
Semoga kita selalu berada pada lingkungan yang baik, yang tidak menjadikan ayat ayat Quran sebagai olok olok dan candaan.